Mengenang Kembali Peradaban di Kampung Kapitan: Pemangku Sejarah yang Terlupakan

AKURAT.CO Sejarah, Kampung Kapitan, yang terletak di tepi Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, menyimpan sejarah yang menjadi fondasi peradaban kota tersebut.
Namun, sayangnya, rumah-rumah yang ada di kampung ini kini mulai melapuk, membawa serta cerita tentang masa lalu yang agung.
Dalam kampung yang sarat akan nilai sejarah ini, terdapat sebuah rumah panggung peninggalan Kapitan Tjoa Ham Hien.
Kapitan Tjoa adalah salah satu tokoh Tionghoa yang terpilih duduk bersama warga Belanda dalam dewan penata kota pada tahun 1910.
Sebagai pemimpin komunitas Tionghoa di sekitar Sungai Musi, tugasnya meliputi pemungutan pajak, menjaga keamanan, dan membangun jalanan umum.
Namun, sayangnya, rumah panggung yang menjadi tempat tinggal Kapitan Tjoa saat ini mulai mengalami kerusakan.
Meskipun masih dihuni oleh generasi ke-12, yaitu Tjoa Kok Liam atau Kohar, bangunan dengan arsitektur campuran Sumatra Selatan, Eropa, dan Tionghoa tersebut telah mengalami kerusakan serius.
Beberapa lambang singa yang menjadi simbol kebesaran perwira Tionghoa hilang begitu saja.
Tetapi, ruang utama rumah tersebut masih dijaga dengan baik karena masih digunakan oleh keluarga untuk kegiatan berkumpul dan bersembahyang setahun sekali.
Kendala terbesar dalam memperbaiki rumah ini adalah masalah dana, dengan perkiraan biaya perbaikan mencapai sekitar Rp1,5 miliar.
Baca Juga: Sejarah: Ketegangan dan Perubahan dalam Hubungan Soedirman dan Sutan Sjahrir
Bukan hanya rumah Kapitan Tjoa yang mengalami kerusakan, melainkan juga secara umum, tatanan kampung ini mengalami kemunduran.
Dari 15 rumah asli di Kampung Kapitan, kini hanya tersisa empat unit.
Beberapa bahkan terpotong dan mengalami kerusakan yang mengenaskan.
Retno Purwanti dari Balai Arkeologi Palembang menilai bahwa meskipun kecil, Kampung Kapitan didesain dengan baik.
Alun-alun persegi panjang di tengah kampung, meskipun kini terbengkalai, dulu digunakan sebagai tempat pertemuan dan acara keagamaan.
Baca Juga: Sejarah Becak Siantar: Becak yang Mengabdi Sejak Zaman Perang Hingga Bertahan Saat Ini
Namun, saat ini, kondisi lapangan tersebut lebih mirip lahan liar, dipenuhi ilalang dan semak.
Meskipun telah dipasang tiang lampu pada tahun 2007 dengan tujuan mempercantik kampung, hal ini justru dianggap oleh sebagian pihak sebagai tindakan yang merusak fungsi sosial dan religi lapangan di Kampung Kapitan.
Sosiolog dari Universitas Sriwijaya, Alfitri, berpendapat bahwa pemasangan lampu taman tidak mengikuti konsep pembangunan kawasan budaya yang mengacu pada nilai sejarah dan kultur kampung tua.
Kampung Kapitan menjadi saksi peradaban yang terabaikan, dan tantangan terbesarnya saat ini adalah bagaimana menjaga dan merestorasi kejayaan masa lalu, mengembalikan cahaya pada kisah yang telah terpendam.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 3Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 4Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 5Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 6Update Suhu Panas Siang Ini 16 Oktober 2026: Semarang, Solo, Surabaya Kompak Tembus 37 Derajat, Jakarta Nggak Mau Kalah
- 7Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Lies Iswar Aminuddin: Kegiatan PKK Berlandaskan 10 Program Pokok dan Pemberdayaan Masyarakat










