Jateng

Misteri dan Pesona Gunung Ijen: Menyingkap Keunikan Kawah Berapi Biru di Jawa Timur

Theo Adi Pratama | 5 Maret 2026, 17:51 WIB
Misteri dan Pesona Gunung Ijen: Menyingkap Keunikan Kawah Berapi Biru di Jawa Timur
Kawah Ijen

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda membayangkan berdiri di bibir kawah pada dini hari yang gelap, lalu menyaksikan lidah api biru elektrik menari-nari di antara celah-celah bebatuan? Atau membayangkan sebuah danau berwarna hijau toska yang memukau, namun ternyata airnya cukup kuat untuk melarutkan logam? Itulah Gunung Ijen, sebuah tempat di ujung timur Pulau Jawa yang seolah hadir dari planet lain.

Bagi para ilmuwan, ia adalah laboratorium alam yang tak ternilai. Bagi masyarakat lokal, ia adalah sumber penghidupan yang juga diselimuti legenda. Dan bagi para wisatawan, ia adalah destinasi impian yang menawarkan pengalaman tak terlupakan.

Namun di balik keindahannya yang viral di media sosial, Gunung Ijen menyimpan wajah lain yang keras, beracun, dan penuh misteri.

Baca Juga: Menguak Fakta di Balik Sepinya Kota Besar di Pantai Selatan Pulau Jawa

Mengenal Gunung Ijen: Lokasi, Geologi, dan Sejarah Letusan

Secara administratif, Gunung Ijen berada di perbatasan dua kabupaten di Jawa Timur, yaitu Banyuwangi dan Bondowoso.

Namun secara geologis, ia adalah bagian dari kompleks pegunungan Ijen yang membentang luas dengan kaldera terbesar di Pulau Jawa.

Kaldera Raksasa dan Kelahiran Kawah Ijen

Kaldera Ijen terbentuk dari letusan dahsyat di masa purba yang menyisakan lubang raksasa berdiameter sekitar 20 kilometer. Di dalam cekungan raksasa inilah kemudian muncul beberapa kerucut gunung berapi baru, dengan Gunung Ijen (2.386 meter di atas permukaan laut) sebagai yang paling terkenal.

Jalur pendakian paling populer menuju puncak dimulai dari Paltuding, yang berada di ketinggian 1.600 meter. Dari sini, pendaki harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer dengan kemiringan yang cukup menantang untuk mencapai bibir kawah.

Sejarah Aktivitas Vulkanik

Berbeda dengan gunung api di Jawa yang sering meletuskan material padat, Gunung Ijen lebih dikenal dengan aktivitas freatiknya. Ini adalah interaksi antara panas bumi dengan air tanah atau air kawah yang menghasilkan uap dan gas bertekanan tinggi.

Catatan sejarah mencatat letusan besar terjadi pada tahun 1796, 1817, 1913, dan 1936. Salah satu dampak yang paling diingat masyarakat adalah banjir lahar dingin yang kerap melanda pemukiman akibat meluapnya air kawah yang sangat asam.

Hingga kini, status Gunung Ijen selalu dipantau ketat oleh para ahli vulkanologi karena potensi bahayanya yang nyata.

Keunikan Utama Gunung Ijen yang Mendunia

Ada dua fenomena utama yang membuat Gunung Ijen berbeda dari gunung api lainnya di Indonesia, bahkan di dunia: Danau Kawah Ijen dan fenomena Blue Fire.

Danau Air Asam Terbesar di Dunia

Di puncak Gunung Ijen, terdapat sebuah danau dengan diameter sekitar 700 meter dan kedalaman mencapai 200 meter. Secara ilmiah, ini adalah danau air asam kuat terbesar di dunia.

Warna hijau toska yang ikonik dan memukitkan mata sebenarnya adalah indikator kimia yang berbahaya. Tingkat keasaman (pH) airnya mendekati angka nol, yang berarti air ini mampu melarutkan logam dalam waktu singkat.

Kandungan kimianya didominasi oleh asam sulfat, asam klorida, serta konsentrasi tinggi tembaga dan aluminium. Bau belerang yang menyengat di sekitar kawah adalah hasil emisi gas solfatara dari rekahan bumi di tepi danau.

Fenomena Blue Fire yang Langka

Inilah atraksi utama yang mengundang wisatawan dari seluruh dunia: api biru atau blue fire. Penting untuk diluruskan secara sains, fenomena ini bukanlah lava biru seperti yang kadang disalahartikan. Blue fire terjadi karena gas belerang bertekanan tinggi keluar dari celah batuan dengan suhu mencapai 600 derajat Celsius.

Ketika gas panas ini bersentuhan dengan oksigen di udara, ia terbakar dan menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik. Fenomena ini hanya bisa disaksikan pada malam hari saat gelap total, biasanya antara pukul 02.00 hingga 05.00 dini hari.

Di seluruh dunia, fenomena serupa secara konsisten hanya dilaporkan terjadi di dua tempat: Kawah Ijen di Indonesia dan di Islandia. Inilah yang menjadikan Ijen sebagai destinasi unik yang tidak ada duanya di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Dieng Bukan Sekadar Dataran Tinggi: Inilah Fakta Geologi di Balik Keindahannya

=====

Antara Mitos dan Tradisi: Sisi Metafisika Gunung Ijen

Bagi masyarakat lokal, khususnya suku Osing dan komunitas pegunungan di sekitarnya, Gunung Ijen bukan sekadar tumpukan batu. Ia diyakini sebagai wilayah yang dijaga oleh entitas gaib.

Kabut tebal yang tiba-tiba muncul sering dikaitkan dengan keberadaan "penghuni" yang sedang beraktivitas.

Salah satu mitos yang paling terkenal adalah larangan untuk bersiul atau berbicara sombong saat mendaki. Masyarakat percaya bahwa perilaku yang tidak sopan dapat mengundang bala atau membuat pendaki tersesat, seolah-olah digiring ke "pasar setan".

Selain itu, setiap tahunnya masyarakat setempat mengadakan ritual selamatan di kawasan Gunung Ijen. Ritual ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan belerang yang menjadi sumber ekonomi, sekaligus permohonan perlindungan agar gunung tidak "murka" dan meletus.

Manusia di Balik Kawah: Kisah Para Penambang Belerang

Membahas Ijen tidak akan lengkap tanpa menyebut para penambang belerang tradisional. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem Kawah Ijen.

Setiap hari, sebelum matahari terbit, mereka telah menuruni kawah yang curam, menghirup gas beracun seringkali tanpa masker yang memadai, dan memikul beban belerang seberat 70 hingga 100 kilogram di pundak mereka.

Ini adalah salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Secara medis, paparan gas sulfur dioksida (SO2) secara terus-menerus dapat merusak paru-paru dan menyebabkan berbagai penyakit pernapasan.

Namun, para penambang ini seolah memiliki ketangguhan fisik dan mental yang luar biasa. Mereka adalah pengingat akan kerasnya perjuangan hidup yang berlangsung setiap hari di tengah keindahan alam yang mematikan.

Kini, keberadaan mereka juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat langsung potret heroisme manusia.

Fakta Unik Lainnya yang Jarang Diketahui

Selain fenomena utama di atas, Kawah Ijen menyimpan sejumlah fakta unik yang belum banyak diketahui publik.

1. Laboratorium Kimia Alami untuk Penelitian Luar Angkasa

Kawah Ijen bukan sekadar objek wisata, tetapi juga laboratorium alam yang menarik perhatian ilmuwan dunia. Para peneliti dari NASA hingga ahli vulkanologi Eropa sering datang ke sini untuk mempelajari pembentukan mineral di lingkungan ekstrem.

Konsentrasi logam yang terlarut dalam air asamnya memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi permukaan planet-planet muda, bahkan kondisi di Planet Mars pada masa lalu.

2. Suara "Gunung Bernapas" di Malam Hari

Pada malam yang sangat tenang, pendaki yang berkemah di sekitar Ijen sering mendengar suara gemuruh rendah yang bergetar dari perut bumi.

Secara ilmiah, ini adalah resonansi gas yang terjebak di dalam lorong magma. Namun bagi warga lokal, suara ini adalah pengingat bahwa sang gunung adalah makhluk hidup yang sedang "beristirahat".

3. Warna Air Kawah yang Bisa Berubah

Warna hijau toska yang ikonik sebenarnya adalah indikator visual yang dinamis. Warna ini dihasilkan dari pantulan cahaya matahari pada partikel belerang dan logam yang terlarut.

Namun, kawah ini bisa berubah warna menjadi putih pucat atau kelabu keruh dalam waktu singkat. Hal ini biasanya dipicu oleh aktivitas seismik yang mengaduk sedimen di dasar danau, mengubah komposisi kimia dan pantulan warnanya.

4. Fenomena Upwelling atau "Bualan" yang Mematikan

Meskipun tampak tenang, Ijen menyimpan bahaya tersembunyi yang disebut upwelling, atau warga lokal menyebutnya "bualan". Pada Maret 2018, terjadi peristiwa di mana suhu dasar kawah meningkat drastis, menyebabkan gas beracun (karbon dioksida dan hidrogen sulfida) terangkat ke permukaan secara masif.

Gas ini tidak terlihat namun mematikan. Awan gas beracun itu bahkan tertiup angin hingga belasan kilometer dan mencapai pemukiman warga di Kecamatan Sempol, Bondowoso, membuat banyak warga mengalami sesak napas.

5. Hujan Asam dan Hutan Mati

Di area sekitar kawah, uap air yang mengandung asam klorida pekat terkondensasi dan jatuh seperti rintik hujan. Jika terkena kulit, rintik ini terasa perih. Jika terkena pakaian, terutama bahan jeans, dapat membuat serat kain menjadi rapuh.

Inilah alasan mengapa vegetasi di sekitar bibir kawah tampak kering, putih, dan meranggas, menciptakan pemandangan artistik yang dikenal sebagai "hutan mati".

Risiko dan Keselamatan: Memahami Bahaya di Balik Keindahan

Mengingat karakteristiknya yang unik, berkunjung ke Gunung Ijen memerlukan persiapan dan kewaspadaan ekstra. Beberapa risiko yang perlu dipahami antara lain:

  • Paparan Gas Beracun: Gas SO2 dan H2S dapat mengganggu pernapasan. Selalu sediakan masker gas atau masker N95, terutama saat turun ke bibir kawah.

  • Air Danau yang Sangat Asam: Jangan pernah menyentuh apalagi berenang di air kawah. Risiko luka bakar kimiawi sangat tinggi.

  • Medan yang Curam dan Berbatu: Jalur pendakian terutama saat turun ke bibir kawah sangat terjal. Pastikan kondisi fisik prima dan gunakan alas kaki yang tepat.

  • Suhu Dingin Ekstrem: Di dini hari, suhu bisa turun drastis. Bawa pakaian hangat yang memadai.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.