Jateng

Mengungkap Asal Usul Sebuah Daerah: Jejak Sejarah Pecinan Semarang, Kisah Perdagangan dan Kebudayaan di Tepi Pantai Jawa

Theo Adi Pratama | 7 Maret 2024, 13:00 WIB
Mengungkap Asal Usul Sebuah Daerah: Jejak Sejarah Pecinan Semarang, Kisah Perdagangan dan Kebudayaan di Tepi Pantai Jawa

AKURAT.CO, Pecinan, sebuah sebutan yang melambangkan permukiman masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan kehidupan kota-kota di Tanah Air.

Kota Semarang, sebagai salah satu pusat perdagangan penting di pesisir utara Pulau Jawa, juga memiliki Pecinan yang kaya akan cerita dan warisan budaya.

Mari kita telaah sejarah terbentuknya Pecinan di Kota Semarang.

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Semarang, terdapat empat kawasan yang menjadi pusat peradaban budaya di kota ini.

Baca Juga: Asal Usul dan Perkembangan Daerah: Sejarah Karanganyar dari Masa Mataram Islam Hingga Menjadi Sebuah Kabupaten

Salah satunya adalah Kampung Pecinan, yang hingga kini masih mempertahankan keberadaannya dengan keunikan dan nilai sejarahnya.

Keberadaan Pecinan di Semarang tidak terlepas dari kedatangan masyarakat Tionghoa yang berdagang di kota ini sejak sebelum masa penjajahan Belanda pada tahun 1695.

Awalnya, masyarakat Tionghoa banyak bermukim di kawasan Kota Lama Semarang.

Namun, pada tahun 1695, Pemerintah Hindia Belanda secara tidak langsung membatasi akses mereka, sehingga banyak yang pindah ke kawasan Kampung Melayu.

Namun, kondisi ekonomi dan budaya yang menarik di sekitar Kauman membuat banyak dari mereka berkembang di sana.

Baca Juga: Asal Usul dan Perjalanan Sebuah Daerah: Desa Gempol, Jejak Sejarah dan Keajaiban Alam di Klaten

Perkembangan masyarakat Tionghoa di sekitar Kauman, terutama di kawasan Pecinan Lor dan Wetan, ditandai dengan berdirinya rumah-rumah mewah dengan atap genting dan pagar-pagar tinggi.

Namun, hanya orang-orang Tionghoa kaya yang mampu membangun rumah di sana karena biaya yang tinggi dan berbagai syarat yang rumit.

Di masa lalu, kondisi jalan yang sempit di Pecinan Semarang mendorong masyarakat Tionghoa untuk menciptakan moda transportasi unik menggunakan tenaga kuda, yang disebut "Be Too".

Aktivitas perdagangan mereka, yang membawa barang-barang dari Tiongkok seperti perhiasan, sutra, dan keramik, menjadi pusat perhatian di kawasan ini.

Puncak kebangkitan masyarakat Tionghoa di Semarang terjadi ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai mendekati mereka yang sukses, bahkan mengangkat beberapa di antara mereka sebagai pejabat di kantor pemerintahan.

Baca Juga: Sebuah Sejarah dan Perjalanan Kendal: Sunan Katong, Peletak Dasar Kaliwungu

Namun, keberadaan mereka tergoyahkan ketika pemerintah Belanda mulai memberlakukan pajak tinggi terhadap barang dagangan seperti arak dan garam.

Meskipun demikian, keberadaan Pecinan Semarang masih kuat hingga saat ini.

Kawasan ini tetap menjadi pusat perdagangan yang ramai, terutama di Pasar Semawis yang didirikan oleh Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata pada tahun 2005.

Setiap akhir pekan, Pasar Semawis menjadi tempat di mana berbagai kuliner khas dan budaya Tionghoa dipamerkan dan dinikmati oleh masyarakat Semarang dan wisatawan.

Sejarah Pecinan Semarang tidak hanya menjadi jejak masa lalu, tetapi juga menjadi bagian hidup dari kota ini yang terus berkembang dan berubah seiring dengan waktu.

Keberadaannya sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang kaya telah mengukir identitas kota Semarang yang istimewa dan berwarna.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.