Mengungkap Asal Usul Sebuah Daerah: Jejak Sejarah Pecinan Semarang, Kisah Perdagangan dan Kebudayaan di Tepi Pantai Jawa

AKURAT.CO, Pecinan, sebuah sebutan yang melambangkan permukiman masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan kehidupan kota-kota di Tanah Air.
Kota Semarang, sebagai salah satu pusat perdagangan penting di pesisir utara Pulau Jawa, juga memiliki Pecinan yang kaya akan cerita dan warisan budaya.
Mari kita telaah sejarah terbentuknya Pecinan di Kota Semarang.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Semarang, terdapat empat kawasan yang menjadi pusat peradaban budaya di kota ini.
Salah satunya adalah Kampung Pecinan, yang hingga kini masih mempertahankan keberadaannya dengan keunikan dan nilai sejarahnya.
Keberadaan Pecinan di Semarang tidak terlepas dari kedatangan masyarakat Tionghoa yang berdagang di kota ini sejak sebelum masa penjajahan Belanda pada tahun 1695.
Awalnya, masyarakat Tionghoa banyak bermukim di kawasan Kota Lama Semarang.
Namun, pada tahun 1695, Pemerintah Hindia Belanda secara tidak langsung membatasi akses mereka, sehingga banyak yang pindah ke kawasan Kampung Melayu.
Namun, kondisi ekonomi dan budaya yang menarik di sekitar Kauman membuat banyak dari mereka berkembang di sana.
Baca Juga: Asal Usul dan Perjalanan Sebuah Daerah: Desa Gempol, Jejak Sejarah dan Keajaiban Alam di Klaten
Perkembangan masyarakat Tionghoa di sekitar Kauman, terutama di kawasan Pecinan Lor dan Wetan, ditandai dengan berdirinya rumah-rumah mewah dengan atap genting dan pagar-pagar tinggi.
Namun, hanya orang-orang Tionghoa kaya yang mampu membangun rumah di sana karena biaya yang tinggi dan berbagai syarat yang rumit.
Di masa lalu, kondisi jalan yang sempit di Pecinan Semarang mendorong masyarakat Tionghoa untuk menciptakan moda transportasi unik menggunakan tenaga kuda, yang disebut "Be Too".
Aktivitas perdagangan mereka, yang membawa barang-barang dari Tiongkok seperti perhiasan, sutra, dan keramik, menjadi pusat perhatian di kawasan ini.
Puncak kebangkitan masyarakat Tionghoa di Semarang terjadi ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai mendekati mereka yang sukses, bahkan mengangkat beberapa di antara mereka sebagai pejabat di kantor pemerintahan.
Baca Juga: Sebuah Sejarah dan Perjalanan Kendal: Sunan Katong, Peletak Dasar Kaliwungu
Namun, keberadaan mereka tergoyahkan ketika pemerintah Belanda mulai memberlakukan pajak tinggi terhadap barang dagangan seperti arak dan garam.
Meskipun demikian, keberadaan Pecinan Semarang masih kuat hingga saat ini.
Kawasan ini tetap menjadi pusat perdagangan yang ramai, terutama di Pasar Semawis yang didirikan oleh Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata pada tahun 2005.
Setiap akhir pekan, Pasar Semawis menjadi tempat di mana berbagai kuliner khas dan budaya Tionghoa dipamerkan dan dinikmati oleh masyarakat Semarang dan wisatawan.
Sejarah Pecinan Semarang tidak hanya menjadi jejak masa lalu, tetapi juga menjadi bagian hidup dari kota ini yang terus berkembang dan berubah seiring dengan waktu.
Keberadaannya sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang kaya telah mengukir identitas kota Semarang yang istimewa dan berwarna.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?










