Mengenal Sejarah Cagar Budaya Klenteng Coklat: Kesejukan Spiritual di Tengah Hingar-Bingar Surabaya

AKURAT.CO Sejarah,Surabaya, sebuah kota yang dipenuhi dengan keramaian dan kehidupan penuh warna, menyimpan sejuta cerita di setiap sudutnya.
Salah satu tempat yang menciptakan kesejukan spiritual di tengah hingar-bingar kota ini adalah Klenteng Hok An Kiong, lebih dikenal sebagai Klenteng Coklat.
Berlokasi di Jalan Coklat Nomor 2, Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, klenteng ini bukan hanya tempat persembahyangan, tetapi juga sebuah warisan bersejarah yang membawa pengunjung pada perjalanan ke masa lalu.
Baca Juga: Perjalanan Klenteng Xian Ma: Puncak Keindahan Arsitektur dan Juga Sejarah Kota Makassar
Keberadaan Klenteng Coklat
Klenteng Coklat, yang didirikan pada tahun 1821, terletak di Surabaya utara, menjadikannya klenteng tertua di kota ini.
Popularitasnya juga telah meluas, dan klenteng ini sering menjadi lokasi tempat persembahyangan umat Tionghoa saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Pemerintah Kota Surabaya menetapkan Klenteng Coklat sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan Wali Kota Surabaya, Nomor 188.45/258/436.1.2/2012, dan diresmikan pada tahun 2013.
Pusat Aktivitas Perekonomian
Klenteng ini memegang peran penting dalam sejarah Kota Surabaya.
Dibangun di tengah-tengah kampung Pecinan Surabaya, kelenteng ini menjadi saksi bisu perkembangan ekonomi dan kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa di daerah utara.
Daerah ini, yang berlokasi tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak dan Sungai Kalimas, telah lama menjadi pusat aktivitas perekonomian yang ramai.
Baca Juga: Klenteng Dewi Kwan Im: Jejak Sejarah dan Tradisi Spiritual di Palembang
Keunikan Altar Dewa
Klenteng Coklat dikenal sebagai klenteng yang paling banyak menyediakan altar dewa di antara klenteng-klenteng lainnya di Surabaya.
Ada 22 altar dewa, dengan altar utama dipersembahkan untuk dewa Thian Siang Sing Boo atau Ma Co Poh.
Altar lainnya termasuk We Toh Po Sat, Kuan Im, Tee Cong Ong Poh Sat, Budha Gautama, Mie Lek Hud, Hua Kong, Hua Mu, dan Cap Pek Lo Han.
Altar-altar tersebut tersebar di dua ruang utama dan ruang samping.
Keberadaan 22 dewa ini memberikan keleluasaan bagi umat Tionghoa untuk berdoa dan menyebutkan pengharapan apa pun, mulai dari keberuntungan dalam pernikahan, kesuburan, hingga keberhasilan dalam rezeki.
Arsitektur dan Ornamen Kuno
Sebagai klenteng tertua di Surabaya, bangunan Klenteng Coklat dipenuhi dengan ornamen-ornamen kuno khas Tionghoa, dengan dominasi warna merah dan tulisan tinta emas.
Dinding ruang utama menampilkan cerita bergambar Sam Kok, yang mengisahkan tiga kerajaan yang melegenda di tanah Tiongkok.
Keunikan dan kekayaan sejarah dalam setiap elemen arsitektur membuat Klenteng Coklat menjadi daya tarik bagi para pengunjung, terutama para model yang mencari spot foto etnik yang autentik.
Baca Juga: Menapaki Sejarah dan Kebudayaan: Perjalanan Klenteng Hoo Tong Bio di Banyuwangi
Keaslian dan Pengembangan
Pengurus Klenteng Coklat menjelaskan bahwa sebagian bangunan dan kayu altar masih asli sejak 1821, memberikan sentuhan keaslian pada tempat ini.
Hanya ruang utama kedua yang mengalami pengembangan, yang lokasinya berada di belakang ruang utama pertama.
Bangunan asli yang didirikan pada 1831 adalah ruang utama dengan altar Ma Co Poh, dewa utama yang dihormati di klenteng ini.
Klenteng Coklat tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebuah perpaduan antara warisan sejarah dan spiritualitas Tionghoa yang masih hidup.
Seiring berjalannya waktu, Klenteng Coklat tetap kokoh berdiri, mengajak siapa pun yang datang untuk merasakan kesejukan spiritual di tengah gemerlap kota Surabaya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










