Jateng

Sejarah Kuliner Nusantara: Kue Kipo, Menikmati Kelezatan Tradisional Makanan Khas Kotagede Yogyakarta

Theo Adi Pratama | 22 Januari 2024, 14:00 WIB
Sejarah Kuliner Nusantara: Kue Kipo, Menikmati Kelezatan Tradisional Makanan Khas Kotagede Yogyakarta

AKURAT.CO Sejarah, Berkunjung ke kawasan Kotagede, Yogyakarta, tidak hanya menghadirkan nuansa sejarah dan keindahan arsitektur, tetapi juga memberikan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Salah satu jajanan tradisional yang melegenda di kawasan ini adalah kue kipo.

Mari simak lebih lanjut tentang keunikan dan sejarah di balik jajanan kipo yang sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kuno.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Sebuah Jendela ke Dalam Tiga Perayaan Menarik

Keunikan Kue Kipo Kotagede

Jajanan tradisional kipo dapat dengan mudah ditemui di sekitar Pasar Legi Kotagede.

Ciri khasnya terletak pada bentuknya yang mungil dan warnanya yang mencolok, hijau kecoklatan.

Kue ini terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan enten-enten atau unti kelapa.

Proses pembungkusannya pun unik, menggunakan cara tempelangan, yaitu dengan menata kue di atas selembar daun dan menutupnya dengan daun lain.

Dua ujung daun dilipat di atas tutupnya dan disemat dengan lidi.

Nama "kipo" sendiri berasal dari akronim pertanyaan dalam bahasa Jawa, "iki opo?" yang artinya "ini apa."

Nama ini muncul saat Mbah Mangun Irono, pembuat kipo asli, menjual jajanan tersebut di pasar dan banyak pembeli yang bertanya, "iki opo?" karena mereka pun tidak mengetahui jenis jajanan yang dijual. Sejak itu, jajanan ini dikenal sebagai kue kipo.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Rumah Tinggal Hersat Wahyutama, Monumen Keindahan Arsitektur dan Sejarah

Sejarah Kue Kipo: Jejak Kelezatan Sejak Kerajaan Mataram Kuno

Kue kipo telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kotagede sejak zaman kerajaan Mataram Kuno, bahkan menjadi makanan favorit para bangsawan keraton pada masa lalu.

Nama "kipo" timbul dari pertanyaan yang sering diajukan pada masa itu, "iki opo?" yang artinya "ini apa."

Sultan Agung, penguasa pada masa itu, konon sangat menyukai kue kipo.

Namun, kue ini sempat kehilangan keberadaannya setelah masa kejayaan kerajaan.

Pada tahun 1946, melalui tangan Mbah Mangun Irono, seorang warga Kotagede, kue kipo kembali dihidupkan dan diperkenalkan ke masyarakat.

Meskipun awalnya ia membuatnya bersama teman-temannya, Mbah Mangun Irono menjadi satu-satunya yang melanjutkan tradisi pembuatan kipo karena ketelatenannya.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Candi Kadisoka, Harta Karun Sejarah dan Kearifan Bangsa

Warisan yang Tetap Hidup: Kipo di Era Modern

Seiring berjalannya waktu, Mbah Mangun Irono mewariskan usaha produksi kipo kepada anaknya, Ibu Paijem Djito Suhardjono.

Kemudian, usaha ini terus berkembang dan mendapatkan perhatian lebih luas melalui partisipasi dalam pameran dan lomba makanan.

Pada tahun 1986, Ibu Djito meraih juara harapan I dalam lomba makanan berbahan khusus tepung ketan.

Perkembangan industri pariwisata yang digencarkan oleh pemerintah juga membantu eksistensi kue kipo.

Kini, kipo tidak hanya menjadi kuliner khas Kotagede, tetapi juga menjadi obyek wisata kuliner yang menarik.

Usaha produksi kipo telah diturunkan ke anak Ibu Djito, Ibu Dra Istri Rahayu, yang terus mempromosikan dan mengembangkan kue kipo.

Dalam museum Kotagede Intro Living Museum, klaster dua mempersembahkan kekayaan kuliner tradisional Kotagede, termasuk kue kipo.

Pengunjung dapat melihat proses pembuatannya, menjelajahi koleksi miniatur kuliner, dan mendapatkan pemahaman mendalam tentang kearifan lokal dalam mempertahankan warisan kuliner.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Pasar Jimbaran, Pusat Perdagangan Bersejarah di Paling Timur Gunungkidul

Kipo, Kue Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu

Kipo, jajanan tradisional yang telah ada sejak abad ke-16, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Kotagede.

Keunikan bentuk dan cita rasanya yang lezat membuat kipo tetap diminati, bahkan oleh generasi muda di era modern.

Dalam perjalanan panjangnya, kue ini mampu menjadi simbol warisan budaya yang tetap hidup dan terus berkembang.

Jika Anda berkunjung ke Kotagede, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati kelezatan kue kipo dan melihat jejak sejarahnya di Museum Kotagede Intro Living Museum.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.