Jateng

Iran Izinkan 20 Kapal Pakistan Lewati Selat Hormuz, Langkah Awal Redakan Krisis Energi Global

Theo Adi Pratama | 29 Maret 2026, 15:21 WIB
Iran Izinkan 20 Kapal Pakistan Lewati Selat Hormuz, Langkah Awal Redakan Krisis Energi Global
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah kebuntuan perang yang melumpuhkan Selat Hormuz, secercah harapan muncul dari diplomasi Pakistan.

Iran telah menyetujui 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintasi jalur air vital yang selama nyaris sebulan ini menjadi titik paling kritis dalam konflik AS-Israel melawan Iran.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengumumkan kesepakatan ini pada Sabtu (28/3/2026) melalui media sosial X.

Ia menyebut bahwa dua kapal akan melintas setiap hari, dan menggambarkan keputusan Iran sebagai "pertanda perdamaian" yang dapat membantu memulihkan stabilitas kawasan yang berada di ambang kehancuran.

Yang menarik, Dar secara langsung menyapa Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan AS Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam unggahannya.

Ini menunjukkan bahwa Pakistan, yang selama ini aktif dalam upaya diplomatik mengakhiri perang, melihat kesepakatan ini bukan sekadar urusan bilateral, melainkan terobosan yang bisa membuka jalan bagi de-eskalasi yang lebih luas.

Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz—yang dijuluki "katup aorta produksi global"—hampir sepenuhnya diblokir oleh Garda Revolusi Iran (IRGC), menyebabkan harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel dan perdagangan global terganggu parah.

Baca Juga: Eskalasi Perang Iran: Kelompok Houthi Yaman Resmi Buka Front Baru, Rudal Balistik Hantam Israel

Selat Hormuz: Dari Blokade Total Menuju Aliran Terbatas

Selama sebulan terakhir, IRGC mengubah selat strategis ini menjadi pos pemeriksaan.

Setiap kapal yang ingin melintas harus menyerahkan rincian kargo, daftar kru, dan tujuan kepada perantara yang disetujui Iran, mendapatkan kode izin, dan dikawal melalui perairan teritorial Iran.

Bahkan, setidaknya dua kapal dilaporkan membayar "biaya lintas" sebesar 2 juta dolar AS per perjalanan dalam yuan China.

Kini, dengan izin bagi 20 kapal Pakistan, aliran mulai berdenyut meski sangat lambat.

Sejak perang dimulai, hanya sekitar 150 kapal yang berhasil melewati selat—setara dengan lalu lintas normal dalam satu hari. Lalu lintas maritim melalui jalur ini turun hingga 90 persen.

Kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala, menyebut gangguan ini sebagai "yang terburuk dalam 80 tahun terakhir".

Kesepakatan Pakistan-Iran diharapkan menjadi uji coba untuk membuka jalur bagi negara-negara lain, terutama mengingat Pakistan sendiri berbagi perbatasan darat sepanjang 900 km dengan Iran.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga mengonfirmasi bahwa kapal Malaysia telah diizinkan melintas, dan berterima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Tuntutan Iran dan Respons AS

Di balik kesepakatan ini, Iran terus mendesak pengakuan formal internasional atas otoritasnya atas selat tersebut sebagai syarat mengakhiri perang.

Parlemen Iran bahkan sedang menyusun undang-undang untuk melegalkan pungutan tol secara permanen.

Sementara itu, Menteri Uni Emirat Arab, Sultan Al Jaber, menyebut tindakan Iran sebagai "terorisme ekonomi", memperingatkan bahwa "setiap negara membayar tebusan di pompa bensin, di toko kelontong, di apotek."

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington telah melonggarkan serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari, dan jendela waktu itu berakhir Sabtu ini.

Namun, Israel menyatakan serangan mereka akan terus berlanjut tanpa memedulikan jeda tersebut.

Pakistan sendiri menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pembicaraan damai jika kedua belah pihak menghendaki.

Dengan hanya sekitar 150 kapal yang berhasil melintas sejak perang dimulai—sebanding dengan lalu lintas normal dalam satu hari—kesepakatan ini menjadi langkah kecil namun signifikan.

Dunia kini menanti apakah terobosan ini akan diikuti oleh negara-negara lain dan apakah dapat menjadi pintu menuju gencatan senjata yang lebih luas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.