Jateng

Sungai Plumbon Meluap, Air Datang Cepat dan Menyisakan Trauma di Pemukiman Barat Semarang

Arixc Ardana | 16 Januari 2026, 17:12 WIB
Sungai Plumbon Meluap, Air Datang Cepat dan Menyisakan Trauma di Pemukiman Barat Semarang

 

JATENG.AKURAT.CO, Hujan yang turun sejak sore Kamis (15/1/2026) seolah menjadi pertanda buruk bagi warga di bantaran Sungai Plumbon, Semarang Bagian Barat. 

 

Menjelang malam, sungai yang membelah Kecamatan Tugu dan Ngaliyan itu tak lagi mampu menahan debit air. Sekitar pukul 18.00, limpasan mulai merayap ke permukiman. 

 

Tiga jam berselang, air telah menguasai rumah-rumah warga.

 

Tiga kelurahan terdampak langsung dalam peristiwa ini adalah Mangkang Kulon dan Mangunharjo di Kecamatan Tugu, serta Wonosari di Kecamatan Ngaliyan. 

 

Di wilayah-wilayah tersebut, ratusan rumah terendam, sebagian hingga ketinggian satu meter. 

 

Bagi warga, banjir kali ini bukan sekadar genangan biasa, melainkan luapan yang datang cepat, disertai jebolnya tanggul di beberapa titik.

 

Di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, banjir paling parah terjadi di RW 2. Hampir seluruh RT terendam akibat limpasan Sungai Plumbon. Air juga merembet ke RW 3 dan RW 7 di kawasan Jalan Kuda. 

 

Perumnas Mangkang, kawasan padat penduduk yang sudah akrab dengan banjir, kembali menjadi kolam besar. Dalam kondisi gelap dan listrik yang tak sepenuhnya aman, warga berusaha menyelamatkan diri dan barang seadanya.

 

Situasi darurat memaksa 10 warga yang terdiri dari lansia dan balita untuk dievakuasi. Mereka dipindahkan ke rumah warga lain yang posisinya lebih tinggi. 

 

Evakuasi dilakukan secara sederhana, mereka digendong dan dituntun karena air naik terlalu cepat untuk menunggu bantuan peralatan.

 

“Ada 10 tadi yang dievakuasi. Saat ini warga masih waspada karena debit air Sungai Plumbon masih tinggi,” ujar Lurah Wonosari, Ngaliyan, Dimas Sancoyo, saat dikonfirmasi Kamis malam.

 

Sementara itu, di Kecamatan Tugu, kondisi tak kalah genting. Di Kelurahan Mangunharjo dan Mangkang Kulon, ratusan rumah terendam akibat limpasan sungai dan jebolnya tanggul. 

 

Data sementara mencatat dua titik tanggul Sungai Plumbon kembali jebol, masing-masing di RT 4 RW 4 Kelurahan Mangunharjo dan RT 2 RW 3 Kelurahan Mangkang Kulon. 

 

Selain itu, sejumlah titik lain mengalami rembesan dan limpasan yang mempercepat masuknya air ke permukiman.

 

Air mulai memasuki rumah warga sekitar pukul 20.00 dan terus meningkat hingga sekitar pukul 21.00. Bagi warga yang tinggal dekat sungai, malam itu menjadi ujian ketahanan yang berulang.

 

“Sekitar jam delapan malam air mulai masuk rumah, apalagi rumah saya dekat sungai. Ini limpasan air sungai, tapi banjir kali ini cukup parah,” tutur Novianti, warga RT 5 RW 4 Kelurahan Mangunharjo.

 

Di dalam rumahnya, air mencapai sekitar 50 sentimeter. Di luar, ketinggian air bahkan hampir sepinggang orang dewasa. Lumpur dan sampah terbawa arus, menyusup ke setiap sudut rumah.

 

“Harapannya tentu normalisasi, karena sudah beberapa kali ini warga kebanjiran,” keluhnya, mengulang harapan yang kerap terdengar setiap kali air surut.

 

Lurah Mangunharjo, Siti Komariyah, menyebut wilayah RW 4 menjadi titik terparah. Lokasinya yang berada tak jauh dari bibir Sungai Plumbon membuat kawasan ini sempat terisolasi. 

 

Hampir semua RT terdampak, dan jebolnya tanggul memperburuk keadaan.

 

“Desember kemarin warga kebanjiran dua kali, Januari ini kebanjiran lagi,” ujarnya. 

 

Menurutnya, curah hujan yang masih tinggi membuat warga harus tetap waspada. Penanganan sementara terhadap tanggul yang jebol baru bisa dilakukan setelah air benar-benar surut. 

 

Pemerintah kelurahan juga berencana mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak mulai Jumat (16/1/2026).

 

Di luar permukiman, dampak banjir menjalar ke urat nadi transportasi. Jalan Pantura sempat lumpuh di beberapa titik. 

 

Salah satu yang terparah berada di depan Kampus Universitas Terbuka, di mana ketinggian air mencapai satu ban sepeda motor. 

 

Kendaraan kecil tak berani melintas; sebagian memilih putar balik, sebagian lagi menunggu dengan mesin dimatikan. 

 

Tak sedikit pengendara motor yang nekat akhirnya harus menerima kenyataan pahit: mesin mogok di tengah genangan.

 

Banjir di jalur Pantura ini dipicu kombinasi curah hujan tinggi dan debit Sungai Beringin yang sangat besar, membuat sistem drainase tak mampu menampung air. 

 

Limpasan Sungai Plumbon juga menyebabkan genangan di depan SDN Wonosari 02, masih di kawasan Mangkang.

 

Air di jalur Pantura mulai surut sekitar pukul 00.30. Perlahan, kendaraan kembali bisa melintas, meski arus sempat tersendat akibat kemacetan panjang yang diperparah oleh perbaikan jalan. 

 

Ekor kemacetan bahkan mencapai lampu lalu lintas Kawasan Industri Wijaya Kusuma, sekitar empat kilometer dari titik banjir.

 

Di permukiman warga, air baru berangsur surut sekitar pukul 02.00 dini hari. Begitu genangan menyusut, warga langsung bergerak. 

 

Ember, sapu, dan alat seadanya dikeluarkan. Lumpur dibersihkan, perabot dijemur, dan sisa-sisa banjir disingkirkan sebelum matahari terbit.

 

Namun, di balik aktivitas itu, tersimpan kelelahan dan kekhawatiran yang belum benar-benar hilang. 

 

Bagi warga di bantaran Sungai Plumbon, banjir Kamis malam bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pengingat akan persoalan lama yang belum menemukan muara, sungai yang tak lagi ramah, tanggul yang rapuh, dan harapan akan penanganan jangka panjang yang terus diuji oleh hujan berikutnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.