MENGGUNCANG BALKAN! Awal Mula Perang Yugoslavia yang Ganas: Dari Kosovo yang Bergolak Hingga Neraka Berdarah di Kroasia!

JATENG.AKURAT.CO, Pada tahun 1991, dunia terpaku pada Perang Teluk di Kuwait. Rudal Tomahawk Amerika menghantam pasukan Saddam Hussein, mengubah Irak menjadi puing-puing api.
Namun, jauh di Eropa Tenggara, sebuah negeri yang dulu bernama Yugoslavia mulai retak dari dalam, bukan oleh rudal atau invasi asing, melainkan oleh luka lama dan nasionalisme etnis yang dibangkitkan.
Api peperangan mulai menyala. Slovenia dan Kroasia menyatakan kemerdekaan, memicu pengerahan pasukan federal Yugoslavia. Perang saudara pun pecah.
Di Slovenia, perang berlangsung singkat, hanya 10 hari dan menelan 10 nyawa. Namun di Kroasia, neraka benar-benar pecah.
Kota Vukovar hancur dibombardir selama 87 hari, ratusan warga sipil dibantai, rumah dan gereja dibakar, serta jutaan orang terusir dari rumahnya.
Yugoslavia yang dulu dikenal sebagai negeri damai kini berubah menjadi ladang pembantaian. Pasukan federal yang katanya menjaga persatuan justru menjadi alat penghancur.
Siapakah yang menggerakkan mereka? Mengapa semua ini harus terjadi? Dan bagaimana perang ini berubah menjadi bencana kemanusiaan terbesar di Eropa setelah Perang Dunia Kedua?
Kekosongan Kepemimpinan Pasca-Tito dan Krisis Ekonomi Membara
Kepergian Josip Broz Tito pada tahun 1980 membuat Yugoslavia seperti rumah besar yang kehilangan kepala keluarga. Tidak ada lagi suara yang bisa membungkam perdebatan, tidak ada tangan yang mampu menjaga keseimbangan antar etnis. Bak kapal yang kehilangan nakhodanya, Yugoslavia kini sangat mudah diterpa oleh badai besar.
Pasca Tito wafat, kepemimpinan diserahkan ke Dewan Kepresidenan Kolektif yang terdiri dari delapan wakil dari enam republik dan dua provinsi otonom. Presidensi ini bergiliran tiap tahun.
Namun, mereka memiliki satu masalah serius: tidak ada otoritas tunggal yang mampu menyatukan negara seperti Tito. Keputusan terhambat, kepemimpinan jadi pasif, dan rakyat mulai kehilangan kepercayaan pada sistem federal.
Tahun 1980-an menjadi masa suram ekonomi Yugoslavia. Krisis utang luar negeri memuncak, inflasi melonjak dari 200% menjadi lebih dari 1000% pada akhir tahun 1980-an. Bahkan pada tahun 1989, inflasi mencapai angka ekstrem sekitar 2.500%.
Lebih dari itu, utang luar negeri menembus 20 miliar dolar AS. Bank Dunia dan IMF memaksa Yugoslavia menjalankan kebijakan pengetatan, subsidi pun dicabut, pajak dinaikkan, dan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan. Sementara itu, korupsi mewabah di pemerintahan Yugoslavia.
Lantas, efek dari semua itu? Tentu saja masyarakat menderita dan semakin frustrasi. Dan seperti biasa dalam sejarah perjalanan suatu negara yang dihuni oleh beragam etnis, ketika ekonomi hancur, identitas etnis kembali dicari. Hal ini yang mengakibatkan api konflik akan menyala. Api konflik itu pertama kali menyala di Kosovo.
Kosovo Bergolak: Nasionalisme Albania Melawan Dominasi Serbia
Kosovo saat itu dihuni oleh 80% rakyat Muslim Albania dan 15% Kristen Ortodoks Serbia. Rakyat Albania yang merasa mayoritas enggan tunduk pada Serbia yang minoritas, mengingat Kosovo saat itu adalah provinsi otonom dalam Republik Serbia.
Berdasarkan Konstitusi 1974, statusnya diperkuat hingga hampir setara dengan republik lain, namun tetap berada dalam struktur Serbia. Sebaliknya, Serbia menganggap rakyat Albania sebagai etnis penjajah.
"Mengapa kami yang menjadi mayoritas di tanah ini harus tunduk pada republik lain yang minoritas di sini?" teriak mereka. Rakyat Albania berkeinginan Kosovo harus merdeka. Beberapa bulan setelah Tito wafat, mereka mulai bergerak.
Maret 1981, demonstrasi mulai terjadi di berbagai kota. Awalnya pemerintah daerah mencoba meredam, namun demonstrasi menyebar cepat dan semakin bersifat nasionalis etnis. Para demonstran meneriakkan, "Kosova Republik! Kami bukan minoritas, kami bangsa!"
Demonstrasi mahasiswa Albania di Kosovo ini menandai adanya lonjakan nasionalisme yang telah lama ditekan. Bagi Serbia itu ancaman, sementara bagi Albania itu adalah harapan.
Pada 1 April 1981, Gereja Kristen Ortodoks dibakar oleh para demonstran. Hal ini semakin memperparah situasi. Untuk meredam kerusuhan, pemerintah Yugoslavia, termasuk Serbia yang menganggap rakyat Albania sebagai separatis, mulai mengerahkan 10.000 pasukan militer. Bentrokan pun terjadi, puluhan orang tewas, lebih dari 1000 orang luka-luka, dan ribuan orang ditangkap, terutama mahasiswa dan intelektual Albania.
Akibat kerusuhan etnis ini, demiliterisasi mulai diberlakukan di Kosovo. Rakyat Albania mulai diawasi dengan sangat ketat. Hal ini tentu saja memiliki dampak panjang yang sangat fatal, menumbuhkan rasa ketidakadilan yang semakin dalam. Mereka mulai mengembangkan gerakan bawah tanah untuk melawan, yang kelak akan mengakibatkan Kosovo menjadi medan perang saudara.
Slobodan Milošević: Bintang Nasionalis yang Memecah Belah Yugoslavia
Di tengah kekacauan ini, muncul seorang politisi muda dari Serbia bernama Slobodan Milošević. Awalnya ia dianggap teknokrat biasa, birokrat partai yang sebelumnya mengecam nasionalisme. Tapi semuanya berubah ketika ia melihat emosi rakyat.
Pada tahun 1987, Milošević datang ke Kosovo Polje, tempat minoritas etnis Serbia mengeluhkan diskriminasi dari mayoritas Albania. Tujuan awalnya adalah untuk meredam. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Di depan kerumunan Serbia yang marah karena merasa ditindas, Milošević pun menemukan panggungnya. Dengan menggunakan retorika nasionalis Serbia dalam pidato-pidatonya, Milošević menekankan bahwa Serbia selama ini dizalimi dan perlu mengambil kembali hak-haknya. "Tidak ada yang akan memukul kalian lagi!" teriaknya. Rakyat bersorak, dan Milošević pun menjadi bintang.
Dari sinilah dimulai era baru politik Serbia, termasuk pamor Milošević. Dalam waktu singkat, Milošević menguasai Partai Komunis Serbia dan mengendalikan pers serta televisi negara. Milošević adalah politisi ulung.
Tanpa perlu kultus personal ala diktator klasik, ia menanamkan loyalitas melalui kontrol media dan aparat keamanan. Satu per satu pejabat yang tak sejalan disingkirkan, dan sebuah rencana besar pun dimulai.
Oktober 1988, selama 5 hari, ratusan ribu orang tumpah ruah di Novi Sad, Vojvodina. Mereka meneriakkan kemarahan pada pemerintahan Provinsi Vojvodina dengan slogan "Oh Serbia dalam tiga bagian, sebentar lagi kau akan utuh." Amarah massa meluap.
Kantor pemerintah Vojvodina dilempari ratusan kantong yogurt. Rakyat pun menggulingkan pemerintahan provinsi dengan paksa dan menggantinya dengan tokoh pro-Milošević. Tanpa tank, tanpa darah, hanya dengan protes yogurt. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Revolusi Yogurt.
Dengan revolusi itu, Vojvodina jatuh ke tangan tokoh pro-Milošević. Menurut pengamat politik, serangan terhadap Vojvodina adalah persiapan politik paling kotor untuk mulai memecah Yugoslavia.
Namun bagi pendukung Milošević, ini justru momen perjuangan mereka. Tak lama setelah Vojvodina, gelombang protes serupa menjalar ke Montenegro dan Kosovo. Para pemimpin republik yang dianggap menghalangi persatuan semuanya disapu bersih oleh gerakan people power ini.
Pada akhirnya, tidak bisa dipungkiri, Milošević tampil bak pelindung orang kecil. Dengan mengendarai kemarahan rakyat, Milošević telah menjelma sebagai manusia agung di mata orang Serbia.
Ia naik ke puncak dengan cepat. Pada tahun 1989, Slobodan Milošević resmi menjadi Presiden Serbia, yang mana kini memegang empat dari delapan suara di Dewan Kepresidenan (Serbia, Kosovo, Vojvodina, dan Montenegro).
Pada akhirnya, Milošević berhasil membuat Serbia secara de facto memegang kendali atas Federasi Yugoslavia. Dominasi Serbia pun dimulai, dan perpecahan itu dimulai dari Kosovo.
Pencabutan Otonomi Kosovo dan Pidato Provokatif Gazimestan
Pada tahun 1989, Slobodan Milošević mulai melancarkan manuvernya untuk mencabut otonomi Kosovo. Melihat hal ini, ribuan rakyat Albania di Kosovo turun ke jalan. Bahkan pada bulan Februari 1989, sebanyak 1.200 penambang tambang Trepça melakukan mogok makan selama 8 hari di kedalaman bumi.
Aksi itu mengguncang Yugoslavia. Presiden Slovenia, Milan Kučan, secara terbuka menyatakan, "Para penambang Kosovo itu sedang membela Yugoslavia!" Sementara Milošević dan pendukungnya menuduh hal ini sebagai aksi separatis melawan Serbia.
Melihat situasi genting ini, pada 3 Maret 1989, Pemerintah Federal Yugoslavia mengambil langkah keras dengan mengumumkan keadaan darurat di Kosovo dan mulai mengirimkan 15.000 militer ke sana, lengkap dengan puluhan tank untuk mengamankan Kosovo. Meski begitu, rakyat Albania tetap melakukan protes senyap.
Lebih dari itu, dengan kekuatan militer dan rakyat Serbia, para legislator Kosovo ditekan untuk mengadakan sidang Majelis Republik untuk mencabut otonominya. Akhirnya, pada 23 Maret 1989, dengan todongan tank di luar gedung dan kehadiran pasukan bersenjata lengkap, para legislator Kosovo secara terpaksa mengadakan sidang Majelis Republik.
Sidang pun dimulai, dan sebagaimana telah diatur sebelumnya oleh pimpinan partai, mayoritas anggota akhirnya menyetujui amandemen konstitusi yang mencabut sebagian besar otonomi Kosovo.
Hanya 10 orang anggota Albania dari 190 anggota yang berani menyuarakan penolakan. Palu sidang pun diketuk. Hasilnya: otonomi Kosovo dicabut. Salah satu anggota sidang menitikkan air mata. Kosovo baru saja diserahkan kembali kepada Serbia.
Berselang 5 hari kemudian, pada 28 Maret 1989, Majelis Serbia di Belgrade meresmikan amandemen konstitusi tersebut. Sehingga resmilah otonomi Kosovo dan Vojvodina yang diatur konstitusi 1974 dicabut. Bagi warga Serbia, ini adalah kemenangan historis. Sorak-sorai warga Serbia kian menggema di Kosovo. Sementara itu, bagi warga Albania Kosovo, ini adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.
Pada 24 Maret 1989, sehari setelah pemungutan suara, 20.000 pelajar dan warga Albania turun ke jalan di Pristina dan Ferizaj untuk memprotes pencabutan. Aparat keamanan pun dikerahkan, dan bentrokan pun terjadi. Di tempat lain, aksi serupa juga terjadi, bahkan hingga minggu-minggu berikutnya.
Akibat berbagai bentrokan ini, sebanyak 21 orang tewas. Pemerintah pusat kembali mengerahkan militer ke Kosovo. Bak zona perang, Kosovo praktis menjadi wilayah dengan penjagaan militer dan pengawasan intelijen paling ketat di Eropa. Sekitar 100 tank dan kendaraan lapis baja serta 15.000 serdadu terus bersiaga di seluruh pelosok Kosovo, menciptakan teror agar rakyat tunduk.
Aparat keamanan mulai melakukan razia dan penangkapan besar-besaran. Banyak politisi, manajer, dan tokoh masyarakat Albania diciduk dan ditahan. Beberapa bahkan diancam hukuman mati dengan tuduhan kontra-revolusioner. Kini, Kosovo bagi rakyat Albania ibarat provinsi yang terjajah.
Dalam kekacauan ini, menurut pengamat politik, Slobodan Milošević adalah aktor kunci di balik pencabutan otonomi dan penindasan di Kosovo. Ia yang menginisiasi dan ia pula yang paling diuntungkan secara politik.
Dengan memainkan sentimen nasionalis, Milošević berhasil mempersatukan mayoritas rakyat Serbia di belakangnya, menjadikannya pemimpin tak tergoyahkan di Serbia dan menjadikan etnis lain sebagai kambing hitam. Namun upaya Milošević tak berhenti di sini. Kelak, dia justru akan memicu api peperangan yang membelah peta Yugoslavia.
Pada 28 Juni 1989, tepat 600 tahun setelah peristiwa bersejarah Pertempuran Kosovo 1389, Milošević berpidato di Gazimestan di hadapan lebih dari sejuta warga Serbia. Dengan penuh emosi, Milošević menggelorakan mitos sejarah bahwa Serbia pernah dikalahkan karena terpecah.
"Di Padang Kosovo yang melegenda ini, kita nyatakan bahwa keterpecahan itu tak boleh terjadi lagi!" Nada nasionalistis kembali mengeras di akhir orasinya. Bagian paling kontroversial pun terucap: "Enam abad kemudian, sekarang kita kembali terlibat dalam pertempuran... Mereka bukan pertempuran bersenjata, meski hal semacam itu belum bisa dikesampingkan."
Sorak-sorai massa Serbia kian membahana. Bahkan terdengar teriakan "Kosovo adalah milik Serbia!" Milošević menutup pidatonya dengan slogan "Hidup Serbia! Hidup Yugoslavia! Hidup perdamaian dan persaudaraan antarbangsa!"
Namun, dunia sudah menangkap isyarat keras bahwa perdamaian dan persaudaraan itu justru di ambang kehancuran. Pidato ini disiarkan ke seluruh negeri, dengan retorika sejarah bercampur nasionalisme etnis dan trauma kolektif.
Kini, Serbia bersiap untuk merebut kembali hak-haknya di Yugoslavia. Menurut pengamat politik, pidato ini tak lain adalah deklarasi perang Serbia terhadap etnis lain.
Yugoslavia di Ambang Keruntuhan: Kongres Partai dan Kerusuhan Sepak Bola
Melihat hal ini, republik lain seperti Slovenia dan Kroasia meradang. Mereka merasa khawatir dengan gelagat rezim Beograd. Retorika "Persatuan Serbia" Milošević dianggap sebagai ancaman bagi otonomi mereka. Ketegangan pun meningkat. Surat kabar Slovenia dan Kroasia mulai berani mengkritik hegemoni Serbia, sementara media Serbia menuduh pemimpin Slovenia dan Kroasia sebagai separatis egois.
Di tengah kekacauan konflik etnis ini, pada Januari 1990, Partai Tunggal Yugoslavia, Liga Komunis Yugoslavia (SKJ), mengadakan kongres ke-14 yang luar biasa tegang. Dalam pemilihan umum, Milošević ngotot menerapkan asas "satu orang satu suara".
Namun delegasi Slovenia menolak mentah-mentah karena hal itu hanya akan menguntungkan Serbia. Suasana memanas hingga akhirnya delegasi Slovenia walk out, meninggalkan kongres. SKJ pun pecah. Komunisme Yugoslavia kehilangan daya rekat terakhirnya.
Beberapa bulan kemudian, di masing-masing republik diadakan pemilu bebas multi-partai pertama dalam puluhan tahun. Hasilnya mencerminkan jurang politik. Di Slovenia dan Kroasia, Partai Nasionalis Antikomunis menang besar. Sementara di Serbia dan Montenegro, Milošević dan sekutunya justru menang mutlak dengan agenda sentralistis.
Retorika nasionalis di semua sisi ini kian membara. Slovenia secara terang-terangan mendeklarasikan kedaulatan hukum. Sementara itu, Kroasia di bawah Presiden terpilih Franjo Tuđman menyiapkan jalan menuju kemerdekaan sembari mengkampanyekan kebangkitan identitas Kroasia. Sebaliknya, Serbia bersih keras menolak setiap upaya pemisahan. Ketegangan segera beralih ke aksi langsung. Aksi itu terjadi di stadion sepak bola.
Mei 1990, sebuah pertandingan sepak bola diadakan di Zagreb antara klub Dinamo Zagreb dari Kroasia melawan klub Red Star Belgrade dari Serbia. Namun pertandingan ini berubah menjadi kerusuhan massal.
Fans tuan rumah Dinamo Zagreb menerobos lapangan, menyerang pendukung Red Star. Sementara polisi Yugoslavia bentrok dengan pemuda Kroasia, dan kapten Dinamo, Zvonimir Boban, terekam kamera menendang seorang polisi yang memukuli suporter.
Adegan dramatis ini menjadi lambang perlawanan Kroasia terhadap dominasi Serbia. Bentrokan di dalam bahkan di luar stadion terjadi sangat hebat. Puluhan orang mengalami luka-luka.
Jurnalis Barat menyebut bahwa stadion hari itu bak "lingkaran neraka". Peristiwa ini bukan sekadar pertandingan, melainkan awal perang saudara Yugoslavia kelak. Sebab, dalam hitungan bulan, para pemain klub itu tidak lagi bermain sepak bola, melainkan menjadi milisi-milisi yang memperjuangkan etnisnya masing-masing dalam Perang Yugoslavia.
Perang Slovenia (10 Hari) dan Neraka di Kroasia (Vukovar)
Pada tahun 1991, Slovenia dan Kroasia mengejutkan dunia. Khawatir dan geram akan dominasi Serbia, pada 25 Juni 1991, dua republik terkaya di barat Yugoslavia, Slovenia dan Kroasia, secara bersamaan menyatakan kemerdekaannya.
Melihat deklarasi ini, pemerintah pusat mengerahkan Tentara Rakyat Yugoslavia (JNA) untuk mencegah perpecahan negara. Namun, sudah terlambat.
Dengan menumpas tidak akan bisa dengan mudah menyelesaikan masalah. Kemerdekaan ini sudah direncanakan matang-matang, dan mereka bersiap untuk mengorbankan darah dan nyawanya untuk tanah airnya.
Pemerintah Slovenia sepenuhnya mengantisipasi bahwa militer Yugoslavia akan merespons dengan kekuatan militer pada hari deklarasi kemerdekaan atau segera setelahnya.
Dan benar saja, pada 27 Juni 1991, perang dimulai. Tentara JNA mulai menyerang Slovenia, sementara pasukan Slovenia menghadang. Pertempuran berlangsung sengit hingga berhari-hari dan mengalami maju mundur.
Akibat pertempuran ini, puluhan tentara tewas. Pertempuran yang dikenal sebagai "Perang 10 Hari" ini berakhir pada 7 Juli 1991, dengan Slovenia sebagai pemenangnya. Mereka berhasil mempertahankan tanah airnya. Gencatan senjata pun diadakan.
Hasilnya, pada akhir Oktober 1991, pasukan federal JNA sepenuhnya ditarik dari Slovenia. Dengan demikian, Slovenia berhasil memisahkan diri dari negara federal Yugoslavia tanpa pertumpahan darah besar.
Namun, di Kroasia, situasi yang terjadi berbeda. Situasinya jauh lebih kompleks dan mematikan. Banyak etnis Serbia yang tinggal di wilayah Kroasia merasa terancam oleh deklarasi kemerdekaan itu.
Mereka kemudian membentuk kelompok-kelompok milisi pasukan separatis atas bantuan pasukan JNA. Awalnya JNA mencoba untuk menduduki seluruh wilayah Kroasia. Namun usaha itu gagal.
Akhirnya, atas bantuan JNA, para milisi Serbia Krajina memproklamasikan pendirian Republik Serbia Krajina (RSK) di hampir sepertiga wilayah Kroasia. Akibat hal ini fatal. Akhirnya perang saudara yang jauh lebih kompleks dan mematikan pun terjadi.
Artileri pasukan JNA dan milisi RSK mulai melancarkan kampanye pembersihan etnis Kroasia. Mereka menyerang daerah-daerah berpenduduk Serbia dan mengusir warga Kroasia dari sana.
Sebaliknya, di wilayah yang dikuasai pemerintah Kroasia, milisi nasionalis Kroasia juga melakukan kekerasan terhadap warga Serbia lokal. Tiada luka, tiada darah. Seluruh target, baik warga sipil, dihabisi dengan sangat keji.
Perang Kroasia tidak hanya soal kemerdekaan. Ini adalah soal teritori, etnisitas, dan dendam sejarah. Serbia trauma akan tragedi fasis Kroasia, sementara Kroasia berupaya mempertahankan kemerdekaannya.
Lebih dari itu, pada Agustus 1991, pertempuran sengit juga terjadi di kota perbatasan Vukovar, di mana kota itu dikepung dan dibombardir oleh pasukan Serbia JNA, baik dari darat maupun udara, tiada henti.
Kota itu hancur lebur hanya dalam 87 hari—sebuah pengepungan dan serangan paling brutal di Eropa sejak Perang Dunia Kedua. Setelah itu ada sebuah tragedi di mana ratusan warga sipil Kroasia dibantai oleh pasukan JNA di dalam sebuah ladang di luar Vukovar.
Sementara itu, pada akhir tahun 1991 di selatan, di kota bersejarah Dubrovnik yang dilindungi UNESCO, juga dihujani artileri-artileri JNA. Serangan ini memicu kecaman internasional. Sangat ironis: tentara federal kini bagaikan mesin penghancur.
Perang di Kroasia berlangsung sengit hingga bertahun-tahun. Gencatan senjata yang dibantu PBB pada Januari 1992 memang berhasil membekukan front, tetapi tidak mengakhiri permusuhan sepenuhnya.
Selama konflik yang terjadi, banyak desa yang dibakar dan ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Diperkirakan sekitar 15.000 warga Kroasia dan 7.000 warga Serbia tewas akibat perang saudara ini.
Berkali-kali perundingan damai mengalami kebuntuan. Akhirnya, pada tahun 1995, dengan sandi Operasi Flash dan Operasi Storm, militer Kroasia mulai menyerang dan merebut kembali hampir semua wilayah yang dikuasai pasukan JNA dan pasukan milisi RSK Serbia.
Kemenangan Kroasia ini mengakhiri eksistensi Republik Krajina. Akibatnya, sekitar 150.000 hingga 200.000 penduduk etnis Serbia dari Krajina melarikan diri ke Bosnia dan wilayah Serbia sendiri.
Dikatakan, selama operasi balasan itu, sejumlah kejahatan terhadap warga sipil Serbia terjadi, dan sebagai akibatnya, komunitas Serbia Krajina nyaris sepenuhnya terusir dari Kroasia. Pada akhir tahun 1995, wilayah Slavonia Timur yang tersisa di bawah kontrol pemberontak pun diserahkan kembali ke Kroasia melalui proses damai di bawah administrasi PBB. Kroasia akhirnya utuh kembali dalam batas teritorialnya.
Dengan demikian, Kroasia resmi berpisah dari Republik Federal Yugoslavia, dan peta Yugoslavia telah berubah. Yugoslavia hampir runtuh sepenuhnya. Perang di Kroasia hanyalah awal. Badai yang sesungguhnya belum datang.
Di jantung Balkan, ada sebuah negeri yang lebih rumit, lebih rapuh, dan lebih mematikan. Negeri itu tak lain adalah Bosnia Herzegovina, sebuah republik yang dihuni oleh tiga bangsa: Muslim Bosniak, Serbia Ortodoks, dan Kroasia Katolik.
Namun mimpi mereka berbeda. Ketika Bosnia menyatakan kemerdekaan, bukan hanya senjata yang terangkat, tapi dendam masa lalu yang selama ini ditekan. Kota Sarajevo dikepung seperti neraka yang tak berujung. Ribuan pria Muslim dibantai di Srebrenica. Di bawah bayang-bayang bendera PBB, sebuah tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa pasca-Holocaust.
Dunia pun yang awalnya diam akhirnya dipaksa turun tangan. Inilah saat ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa, NATO, dan seluruh dunia Barat memasuki kancah Balkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









