Jateng

UPDATE: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz usai 50 Pesawat Israel Gempur Lebanon, Gencatan Senjata Batal?

Arixc Ardana | 9 April 2026, 10:52 WIB
UPDATE: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz usai 50 Pesawat Israel Gempur Lebanon, Gencatan Senjata Batal?
Laporan awal menyebutkan bahwa sedikitnya 50 pesawat tempur Angkatan Udara Israel terlibat dalam operasi serangan di Lebanon tersebut

JATENG.AKURAT.CO, Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon pada Rabu, 8 April 2026, menewaskan ratusan orang dan melukai lebih dari seribu lainnya.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran luas bahwa upaya deeskalasi konflik terancam gagal.

Laporan awal menyebutkan bahwa sedikitnya 50 pesawat tempur Angkatan Udara Israel terlibat dalam operasi tersebut.

Dalam waktu sekitar sepuluh menit, lebih dari 100 serangan udara dilancarkan dengan menjatuhkan sekitar 160 bom berpemandu ke sedikitnya 10 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Lebanon, termasuk kawasan permukiman dan titik strategis.

Dampak serangan tersebut sangat signifikan. Secara keseluruhan, sedikitnya 500 orang dilaporkan tewas, sementara 1.165 lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, ratusan warga dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat gempuran udara.

Secara terpisah, otoritas pertahanan sipil Lebanon mencatat bahwa serangan yang menghantam Beirut saja telah menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya.

Serangan ini disebut berlangsung tanpa peringatan sebelumnya dan menyasar kawasan padat penduduk serta pusat komersial.

Asap tebal terlihat membumbung tinggi di langit ibu kota, sementara ledakan terdengar di berbagai penjuru kota.

Kepanikan melanda warga yang berusaha menyelamatkan diri di tengah situasi yang kacau.

Banyak di antara mereka yang terluka berlarian menuju rumah sakit, sementara sebagian lainnya meninggalkan kendaraan di tengah kemacetan.

Palang Merah Lebanon mengerahkan sekitar 100 ambulans untuk melakukan evakuasi korban dari lokasi-lokasi terdampak.

Proses penyelamatan berlangsung dalam kondisi sulit akibat kerusakan infrastruktur dan banyaknya titik serangan.

Seorang jurnalis yang melaporkan dari lokasi kejadian menyebutkan bahwa sejumlah area yang menjadi sasaran merupakan lokasi yang tidak diduga sebelumnya akan diserang.

Hal ini memicu kepanikan yang meluas di kalangan masyarakat sipil.

Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada hari yang sama awalnya disambut positif oleh sejumlah negara.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, menyatakan bahwa gencatan senjata itu berlaku secara menyeluruh, termasuk di Lebanon dan kawasan lainnya.

Namun demikian, pemerintah Israel melalui pernyataan resmi kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa mereka tidak menganggap kesepakatan tersebut mencakup wilayah Lebanon.

Israel menyatakan hanya akan menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan seluruh serangan terhadap Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara sekutunya.

Perkembangan situasi semakin kompleks setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon.

Penutupan jalur strategis tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global serta memperluas dampak konflik ke tingkat internasional.

Militer Israel menyatakan bahwa serangan ke Lebanon merupakan bagian dari operasi terkoordinasi terbesar sejak dimulainya operasi militer terbaru mereka pada awal Maret.

Target utama disebutkan adalah infrastruktur milik kelompok Hizbullah.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut bahwa ratusan anggota Hizbullah menjadi sasaran dalam serangan tersebut yang diarahkan ke pusat-pusat komando di seluruh Lebanon.

Ia menilai operasi tersebut sebagai pukulan terbesar terhadap Hizbullah dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Hizbullah. Kelompok itu menegaskan bahwa serangan Israel justru menyasar wilayah sipil, termasuk kawasan padat penduduk di pinggiran selatan Beirut, Sidon, wilayah Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, turut mengecam keras serangan tersebut.

Ia menilai tindakan Israel sebagai bentuk pengabaian terhadap berbagai upaya regional dan internasional untuk menghentikan konflik, serta pelanggaran terhadap hukum internasional dan hukum humaniter.

Sejak eskalasi konflik meningkat pada awal Maret 2026, serangan udara Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.530 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Selain itu, lebih dari 1,2 juta warga terpaksa mengungsi akibat situasi keamanan yang terus memburuk.

Perkembangan terbaru ini memperlihatkan bahwa situasi di kawasan Timur Tengah masih sangat rapuh.

Serangan yang terjadi di tengah momentum gencatan senjata menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan proses perdamaian, sekaligus meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan ketegangan.

Komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi dengan kekhawatiran bahwa eskalasi lanjutan dapat berdampak tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga terhadap stabilitas global secara keseluruhan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.