Dalam 3 Hari Ada 4 Kasus Bunuh Diri di Kota Semarang, Begini Pandangan Psikolog

AKURAT.CO, Kota Semarang digegerkan kasus bunuh diri beruntun dalam tiga hari mulai tanggal 10 Oktober hingga 12 Oktober 2023. Bukan hanya dua yang ramai diberitakan, namun total ada empat kasus, tapi hanya dua yang berhasil diselamatkan.
Yang pertama terjadi pada Selasa (10/10/2023) seorang mahasiswi UNNES melompat dari atas lantai Mall Paragon. Lalu kasus kedua terjadi pada Rabu malam (11/10/2023) di sebuah kamar kos Kecamatan Tembalang.
Mirisnya, empat kasus bunuh diri tersebut terjadi pada Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober.
Baca Juga: Pakar Politik: Gen Z Perlu Didengar Pandangan Mereka Terkait Demokrasi dan Pemilu 2024
Dua kasus percobaan bunuh diri yang berhasil digagalkan salah satunya dilakukan oleh seorang remaja perempuan kelas 2 SMA di sebuah perlintasan kereta api sebidang di Kota Semarang pada Selasa, 10 Oktober 2023 dini hari sekira pukul 01.30 WIB.
Gadis itu hendak menabrakkan diri ke kereta api yang melintas. Beruntung aksi nekat tersebut dapat dicegah oleh pedagang angkringan yang berada di dekat lokasi kejadian. Ia kemudian dibujuk oleh warga sekitar dan relawan untuk mengurungkan niatnya. Selepas dibujuk untuk bercerita, ternyata korban memiliki masalah keluarga dan pacar.
Belakangan diketahui, korban telah berupaya melakukan tindakan serupa tetapi dengan cara yang berbeda sebanyak tiga kali.
Peristiwa kedua, percobaan bunuh diri dilakukan oleh mahasiswi di sebuah kampus negeri di kota semarang. Ia melakukan video call dengan pacarnya sembari menghunuskan pisau.
Baca Juga: Kobaran Api Hanguskan Gudang Rosok di Jalan Untung Suropati Semarang
Upaya bunuh diri ini dipicu oleh faktor asmara. Beruntung, percobaan bunuh diri ini dapat dicegah selepas dibujuk pacarnya.
Seorang Relawan yang mendampingi korban percobaan bunuh diri di rel kereta api Mangkang, Siswanto, menyebutkan dua kasus upaya bunuh diri yang dapat digagalkan lantaran ada peran responsif dari masyarakat sekitar.
"Misal di rel kereta api sudah ada yang mengamati sehingga dapat digagalkan. Kami datang lalu berupaya membantu," ucap Siswanto pada Jum'at (13/10/2023).
Ia mengatakan, kasus bunuh diri di Kota Semarang memang cukup banyak terjadi. Para korban mayoritas adalah remaja atau pelajar tingkat SMA dan mahasiswa. Bahkan di tahun 2023 ini saja, psikolog senior itu sudah mendampingi sebanyak 5 korban percobaan bunuh diri.
"Tahun ini kita sudah melakukan penanganan ada sekira lima kasus bunuh diri," bebernya.
Dari beberapa kasus itu, ia sangat menyayangkan stigma terhadap para korban, terutama di media sosial.
"Lihat saja di medsos dari kasus terbaru mahasiswi bunuh diri di mall dan kos Tembalang, komen netizen sangat menyudutkan korban, padahal kita tidak tahu background persoalannya," ungkapnya.
Di samping itu, angka kasus bunuh diri di Indonesia paling banyak terjadi di Jawa Tengah. Pusat Informasi Kriminal (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat penindakan terhadap kasus bunuh diri mencapai 451 kasus selama Januari sampai Mei 2023.
Baca Juga: Ganjar Silaturahmi dengan Keuskupan Agung Malang
Penindakan kasus bunuh diri paling banyak yakni di Polda Jawa Tengah dengan total 174 kasus. Psikolog asal RZ Elizabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro mengatakan, tingginya kasus bunuh diri tak lain disebabkan adanya komunikasi tersumbat dari para korban.
Terutama di lingkungan remaja, selain karena komunikasi tersumbat setidaknya disebabkan oleh beberapa hal lainnya seperti tantangan dan godaan lingkungan semakin kompleks, dan kesehatan mental yang terganggu.
"Kuncinya adalah komunikasi, mereka semua butuh perhatian, mereka tak ada teman untuk curhat," papar Probo saat dihubungi via Telfon.
Ia tak setuju para korban yang melakukan bunuh diri lantaran dipicu masalah gangguan jiwa. Para korban lebih tepat mengalami maladaptif atau tak bisa mengelola lingkungannya.
Baca Juga: Mbak Ita Ajak Ormas Jaga Semarang Kondusif Jelang Pemilu
"Dia alone (sendiri), tidak ada orang yang bisa diajak ngomong," terangnya.
Sebagai psikolog, lanjut Probo, banyak remaja datang ke kliniknya dengan pendampingan dari orang terdekat seperti tante maupun gurunya untuk berkonsultasi.
Mereka datang dengan kondisi ada yang sampai menyayat tangannya, sering murung, mengisolasi diri dan perubahan sikap lainnya.
"Kami dampingi, harus pelan, tak mudah seperti membalikan telapak tangan," terangnya.
Untuk mencegah tindakan bunuh diri, ia meminta masyarakat memiliki asah peka terhadap orang-orang terdekat.
Hal itu harus dilakukan dari lingkungan terkecil yakni keluarga. Terutama mengenali gejala stres dari perubahan sikap korban seperti cepat marah dan di sikap di luar kewajaran lainnya.
"Perlu ada sikap asah peka dari lingkungan terdekat untuk berkomunikasi karena kuncinya komunikasi," ujarnya.
Setiap individu yang merasa alami mentalnya tak sehat juga dapat mengakses layanan kesehatan mental yang disediakan Pemerintah maupun LSM di berbagai platform media sosial.
"Efektif pula akses layanan psikolog online, minimal bisa ada tempat untuk cerita," imbuh Probo.
Sebenarnya banyak komunitas yang peduli terhadap kesehatan mental seperti Into The Light, Get Happy, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, Indonesia Mental Health Care Foundation, yang peduli isu seperti depresi dan pencegahan bunuh diri. Lembaga tersebut mudah di akses di media sosial.
Sedangkan Lembaga Pemerintah dapat juga mengakses di layanan di rumah sakit semisal di Kota Semarang dapat diakses di di RSUD dr Amino Gondhoutomo.
Mereka ada Konsultasi Online Jiwa atau disebut Sultan Onji yang bisa diakses warga di nomor whatasapp 089524574017.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini






