Rentang Waktu 3 Bulan, 171 Kebakaran Hutan Lahan Terjadi di Jateng, Hanguskan Ratusan Hektar

AKURAT.CO SEMARANG - Kemarau panjang yang tengah terjadi di wilayah Jateng, membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin tinggi.
Tercatat dalam periode 3 bulan terakhir, termasuk hingga awal September 2023, terjadi 171 kasus karhutla di wilayah Jateng.
Termasuk kebakaran di Gunung Sumbing di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, pada awal September 2023 yang mencapai 240 hektar.
Baca Juga: Onigiri Daun Kelor Kreasi Mahasiswa Unissula, Upaya Diversifikasi Pangan Cegah Resiko Diabetes
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, kejadian karhutla yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah periode Mei – 8 September 2023, mencapai 171 kejadian.
Kejadian tersebut terdiri dari 156 kejadian kebakaran lahan, 12 kali kejadian kebakaran hutan dan 3 kali kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA).
Akibat dari karhutla tersebut, ratusan hektar lahan hangus terbakar.
Baca Juga: SETIA WS Semarang Siap Alih Status Menjadi Universitas dan Percepat Pembangunan Kampus
Terbesar terjadi pada awal September 2023 lalu, tepatnya pada Sabtu 2 September 2023.
Kebakaran hutan yang terjadi selama dua hari tersebut, menghanguskan 240 hektare lahan di Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah.
Dari hasil identifikasi dari tim Perhutani, TNI, Polri dan juga BPBD ini, luasan yang terdampak kebakaran ada di petak 29-1 dengan 221,5 hektare, sementara di petak 29-2 ada 18,5 hektare, jadi totalnya ada 240 hektar luasan hutan yang terbakar.
Mayoritas yang terbakar berupa rumput alang-alang kering akibat kemarau panjang.
Kepala pelaksana harian BPBD Jateng, Bergas Catursasi mengatakan tingginya angka karhutla di Jateng, disebabkan beberapa faktor.
"Pertama karena faktor manusia, misalnya ada yang membakar lahan kemudian merembet ke lingkungan sekitar," terangnya.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Liga 2 Hari Ini, Cek Jadwal Pekan Kedua Liga 2 Musim 2023-2024
Faktor ini menjadi penyebab utama kebakaran lahan yang terjadi di Jateng, khususnya di lahan produktif.
"Contohnya di Kabupaten Klaten, sebelum panen tebu, untuk membersihkan daun-daunnya masyarakat memilih dengan cara dibakar. Alasannya lebih murah dan cepat," terangnya.
Namun akibat kurang kehati-hatian kebakaran lahan tersebut berpotensi meluas.
Sementara untuk kasus kebakaran hutan, umumnya disebabkan karena faktor alam.
Kemarau panjang dengan suhu udara tiggi, mampu mematik munculnya sumber api di lahan-lahan ilalang atau semak belukar kering.
Termasuk juga di lahan non produktif yang tidak terawat dengan banyak belukar, juga umumnya terjadi akibat faktor alam. *
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









