Mitos dan Realita! Kenapa Mendaki Gunung di Musim Hujan Justru Bikin Kamu Lebih Cepat Dehidrasi?

JATENG.AKURAT.CO, Mendaki gunung di musim hujan seringkali dianggap lebih "aman" dari risiko dehidrasi karena cuaca yang dingin.
Logika sederhananya, tidak ada matahari terik, jadi kita tidak terlalu banyak berkeringat.
Eits, tunggu dulu! Anggapan ini adalah mitos besar yang bisa menjebak banyak pendaki.
Ironisnya, mendaki di cuaca dingin dan hujan justru bisa membuat Anda lebih rentan mengalami dehidrasi tanpa disadari. Mengapa bisa begitu?
5 Alasan Dehidrasi Mengintai di Balik Jas Hujan
Berikut adalah faktor-faktor tersembunyi yang membuat tubuh kehilangan cairan secara diam-diam saat berada di gunung saat hujan:
1. Sinyal Haus Tertipu Cuaca Dingin
Saat suhu lingkungan rendah, sistem pengaturan suhu tubuh (thermoregulation) kita bekerja berbeda.
Tubuh secara otomatis menekan sinyal rasa haus karena tidak merasakan panas berlebih.
Otak tidak mengirimkan peringatan "Minum!" sekuat saat kita mendaki di bawah terik matahari.
Padahal, cairan tubuh tetap keluar terus-menerus melalui pernapasan dan keringat yang menguap.
Akibatnya? Tubuh kekurangan cairan tanpa disadari hingga mencapai tahap yang cukup parah.
2. Keringat yang "Tidak Terasa"
Meskipun cuaca dingin, aktivitas mendaki adalah olahraga berat yang membutuhkan banyak energi. Tubuh tetap berkeringat untuk mengatur suhu internal.
Namun, karena suhu dingin, keringat cenderung cepat menguap. Selain itu, penggunaan pakaian berlapis (layering) tebal dan jas hujan (waterproof) membuat keringat tersebut tertutup dan tidak terasa basah di kulit.
Kehilangan cairan ini terjadi secara senyap, membuat pendaki salah mengira bahwa mereka tidak kehilangan cairan.
3. Kehilangan Cairan Melalui Napas
Semakin tinggi pendakian, udara semakin dingin dan tipis. Tubuh merespons dengan bernapas lebih cepat dan lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
Saat Anda menghembuskan napas, terutama di udara dingin, Anda dapat melihat uap air keluar.
Semakin cepat Anda bernapas (karena hiking yang berat), semakin banyak uap air yang hilang dari tubuh Anda—dan itu adalah cairan yang harus diganti.
4. Layering yang Justru Membuat Tubuh Panas
Penggunaan layering tebal (termal, fleece, jaket) yang ditutup lagi dengan jas hujan atau shell jacket menciptakan efek "rumah kaca" mini di sekitar tubuh Anda.
Efek ini membuat suhu di balik lapisan pakaian meningkat meskipun hujan turun di luar.
Kondisi panas ini memicu tubuh untuk berkeringat lebih banyak sebagai mekanisme pendinginan.
Sekali lagi, cairan hilang dengan cepat dan terperangkap, membuat Anda tidak menyadari seberapa banyak yang sudah terbuang.
5. Rasa Malas Minum
Ini adalah faktor perilaku yang paling umum. Ketika cuaca dingin atau hujan, mengeluarkan tangan dari jaket, membuka ritsleting, dan mengambil botol minum terasa merepotkan dan dingin.
Banyak pendaki akhirnya menunda atau mengurangi frekuensi minum. Semakin jarang minum, semakin besar risiko dehidrasi kumulatif yang berbahaya.
Waspadai Tanda Awal Dehidrasi
Jika Anda mendaki di musim hujan, jangan abaikan sinyal-sinyal tubuh ini:
- Pusing atau sakit kepala ringan.
- Tenggorokan kering atau mulut terasa lengket.
- Otot cepat lelah atau mengalami kram.
- Jarang buang air kecil, atau bahkan tidak sama sekali.
- Urine berwarna kuning gelap atau pekat.
- Konsentrasi menurun dan mudah bingung.
Jika salah satu tanda ini muncul, segera berhenti sejenak, cari tempat berlindung, dan ganti cairan tubuh Anda dengan minum air, atau lebih baik, minuman isotonik yang mengandung elektrolit. Ingat, keselamatan di gunung adalah prioritas utama!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










