Kisah Misteri Gapura Kleca Surakarta: Antara Ghofur dan Kisah Mistis yang Menyelimuti

AKURAT.CO, Memasuki bulan Ramadan, bulan penuh ampunan, teringat ada sebuah kata "ghofur" yang berarti ampunan.
Kata "ghofur" sendiri menjadi kata "gapura" dalam bahasa Indonesia.
Berbicara tentang gapura, ada cerita menarik tentang Gapura Kleca atau Gapura Ngendro di Surakarta.
Pada tahun 1922-1930, Sri Sultan Hamengkubuwono X membangun gapura batas kotanagari atau ibukota negara Surakarta Hadiningrat.
Gapura-gapura ini dimaknai sebagai simbol "ghofur" atau ampunan dari Tuhan.
Artinya, sebelum memasuki kotanagari, kita harus memohon ampunan kepada Tuhan dan dalam keadaan bersih ketika memasuki area "Kagungan Dalem" ini.
Namun, tahukah Anda bahwa salah satu gapura termegah, yaitu Gapura Kleca yang terletak di pintu masuk sebelah barat, adalah palsu?
Pada tahun 1970-an, terjadi sebuah kecelakaan tragis.
Sebuah bus penuh penumpang menabrak gapura sisi selatan dan konon semua awak bus meninggal.
Gapura kemudian dibangun ulang pada tahun 1975 dan dimundurkan beberapa meter.
Baca Juga: Tempat Angker di Trenggalek: Misteri Gunung Semungklung,Jejak Kelam di Balik Keindahan Alam
Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa sebelumnya memang ada wacana untuk memundurkan gapura tersebut.
Syaratnya adalah "tumbal". Dan terjadilah kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang bus itu.
Konon, menurut cerita tutur, kecelakaan itu sebagai tumbal atas pembangunan "gapura palsu" sebagai inisiatif pelebaran pada masa itu.
Kisah mistis tentang Gapura Kleca ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.
Ada yang mengatakan bahwa arwah para korban kecelakaan masih gentayangan di sekitar gapura.
Baca Juga: Kisah Angker di Trenggalek: Misteri Gunung Kumbokarno, Mitos dan Kisah Gaib di Balik Keangkerannya
Ada juga yang mengatakan bahwa gapura tersebut "memanggil" tumbal agar pembangunannya bisa selesai.
Terlepas dari benar atau tidaknya cerita mistis tersebut, Gapura Kleca tetap menjadi salah satu landmark penting di Surakarta.
Gapura ini menjadi saksi bisu sejarah dan perkembangan kota Surakarta.
Di bulan Ramadan ini, mari kita jadikan momen ini untuk introspeksi diri dan memohon ampunan kepada Tuhan.
Semoga kita semua dapat memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh berkah.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










