Jateng

Sejarah Dunia: Marie Louise Istri Kedua Napoleon Bonaparte, Antara Pernikahan Tak Diinginkan dan Kehidupan Kontroversial

Theo Adi Pratama | 5 Desember 2023, 12:42 WIB
Sejarah Dunia: Marie Louise Istri Kedua Napoleon Bonaparte, Antara Pernikahan Tak Diinginkan dan Kehidupan Kontroversial

AKURAT.CO Sejarah Dunia, Dalam sebuah sejarah dunia mencatatkan pada tahun 1810, sebuah peristiwa besar terjadi dalam pernikahan politik.

Marie Louise, seorang bangsawan Habsburg berusia 18 tahun, meninggalkan kota kelahirannya di Wina untuk menikahi Napoleon Bonaparte, kaisar Prancis yang kontroversial dalam sejarah dunia.

Pernikahan ini tidak hanya mengguncang dunia aristokrasi Eropa, tetapi juga membawa dampak besar pada kehidupan Marie Louise yang kelak penuh kontroversi yang tercatat dalam sejarah dunia.

Baca Juga: Sejarah Dunia: Napoleon Bonaparte, Pemimpin Agung dengan Jiwa Kepemimpinan yang Mengesankan

Pernikahan Tak Diinginkan

Sebelum pernikahan Marie Louise dengan Napoleon, kaisar Prancis tersebut telah berpisah dari istri pertamanya, Josephine de Beauharnais.

Sejarawan Deborah Jay menulis bahwa tidak ada kandidat yang lebih diinginkan untuk menggantikan Josephine selain Marie-Louise.

Marie Louise, seorang bangsawan Habsburg, memiliki kredibilitas yang sempurna.

Marie Louise bukanlah sosok yang asing dalam lingkungan kerajaan.

Sebagai cicit permaisuri Maria Theresa dan putri kaisar Francis II dari Kekaisaran Romawi Suci, ia memiliki hubungan keluarga yang kompleks dengan hampir semua dinasti yang berkuasa di Eropa.

Di istana Habsburg, Marie Louise tumbuh sebagai gadis yang memiliki bakat luas, baik dalam seni musik seperti bermain piano dan gitar, maupun dalam pemahaman manajemen hubungan diplomatik.

Baca Juga: Sejarah Dunia: Napoleon Bonaparte, Kepahlawanan dan Kontroversi yang Terus Melekat

Pertemuan dengan Napoleon

Meskipun Marie Louise terkenal dengan kepribadiannya yang jenaka dan menyenangkan, ia tidak pernah tampak kagum pada siapa pun.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kesannya terhadap Napoleon, seorang tokoh yang sangat dikagumi di seluruh dunia?

Menteri luar negeri Austria, Klemens von Metternich, melihat pernikahan ini sebagai alat yang ampuh untuk menumpas apa yang ia sebut sebagai 'perampas Korsika,' atau Napoleon.

Dengan cerdik, Metternich membawa masa depan Marie Louise dengan Napoleon, sementara di istana Prancis, para intrikus sedang berusaha untuk menciptakan perceraian antara kaisar dan Josephine.

Baca Juga: Sejarah Dunia: Napoleon Bonaparte, Antara Mitos dan Fakta Tentang Tinggi Badan

Tantangan bagi Marie Louise

Meski pada awalnya terlihat sebagai pernikahan politik yang strategis, Marie Louise tidak sepenuhnya mendukung hubungan ini.

Keinginan untuk menjaga monarki Habsburg dan mencegah Prancis menguasai wilayahnya membuatnya merasa terjebak dalam situasi yang sulit.

Keberaniannya diuji ketika pada 11 Maret 1810, ia akhirnya menikah dengan Napoleon, yang memilih pamannya, Archduke Charles, sebagai wakilnya di altar Gereja Augustinian di Wina.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah dan Misteri Pabrik Gula Pangkah: Menelusuri Jejak yang Tak Terlupakan

Kehidupan Setelah Pernikahan

Pernikahan ini kemudian melahirkan raja Roma, pewaris laki-laki yang sangat diharapkan.

Meskipun Napoleon gembira, negara-negara lain seperti Austria, Rusia, Prusia, dan Inggris tidak senang dengan aliansi ini.

Namun, kehadiran Marie Louise dan anaknya membuat kaisar Prancis mulai mengabaikan urusannya, terutama saat ia melakukan invasi yang merugikan ke Rusia pada tahun 1812.

Operasi militer yang kurang berhasil ini membawa bencana bagi Napoleon.

Ketika ayah Marie Louise, Kaisar Franz, bergabung dengan Rusia untuk melawan menantunya, Marie Louise terpaksa berdiri sendiri sebagai penguasa sementara Prancis pada tahun 1814.

Namun, keberaniannya tidak dapat menyelamatkannya dari kenyataan pahit.

Baca Juga: Perjalanan Sejarah Keraton Kartasura: Dari Konflik Amangkurat II hingga Runtuhnya Geger Pecinan

Kehidupan Kontroversial di Parma

Terpisah dari Napoleon, Marie Louise dan putranya terpaksa kembali ke Wina sebagai pengungsi.

Setelah perjuangan yang keras, ia mendapatkan wilayah Parma, Piacenza, dan Guastalla, yang dijanjikan oleh sekutu untuk mengamankan pengunduran diri suaminya.

Namun, kehidupannya di Parma tidak selalu sejahtera.

Marie Louise berusaha mempertahankan kedudukannya sebagai adipati, tetapi gelombang semangat nasionalis yang dilancarkan Napoleon di Italia mengganggu ketenangan hidupnya.

Ia berjuang keras untuk melindungi rakyatnya dari pengadilan politik dan hukuman brutal, tetapi upayanya justru mengakibatkan pengusiran dari Parma oleh para patriot.

Baca Juga: Sejarah Kelam dan Misteri yang Menyelimuti Brug Abang: Saksi Bisu Peristiwa 3 Daerah

Kesetiaan dan Kontroversi

Meskipun dilema dan kontroversi meruncingi kehidupan Marie Louise, ia tetap setia pada tugasnya sebagai pemimpin di tengah tekanan dan tantangan.

Kehidupannya yang penuh intrik dan keputusasaan, terutama setelah kematian putranya, memberikan gambaran tentang keberanian seorang perempuan yang terjebak dalam jaringan politik dan dinasti pada masanya.

Kisah Marie Louise mencerminkan kompleksitas perpolitikan dan tuntutan moral pada periode tersebut.

Meskipun menjadi penguasa yang dihormati di Parma, ia juga menghadapi kritik dan pengusiran yang menyakitkan.

Akhir hidupnya, terpisah dari Napoleon dan terus dihadapkan pada konflik politik, menjadi epilog dari pernikahan yang mungkin tidak pernah diinginkannya, tetapi menjadi bagian integral dari sejarah Eropa yang penuh gejolak.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.