Jateng

Dokumenter Termahal dalam Sejarah? Melania Trump Habiskan Rp1,2 Triliun Hanya untuk Satu Film!

Theo Adi Pratama | 31 Januari 2026, 12:30 WIB
Dokumenter Termahal dalam Sejarah? Melania Trump Habiskan Rp1,2 Triliun Hanya untuk Satu Film!

JATENG.AKURAT.CO, Dokumenter Melania mendadak menjadi sorotan publik internasional, bukan hanya karena mengangkat sosok mantan Ibu Negara Amerika Serikat, tetapi juga karena anggaran produksinya yang mencapai US$75 juta atau setara lebih dari Rp1,2 triliun.

Angka ini terbilang tidak lazim untuk sebuah film dokumenter, bahkan di level Hollywood sekalipun.

Pertanyaan demi pertanyaan pun bermunculan, mulai dari efektivitas biaya, motif pendanaan, hingga tujuan rilis teatrikalnya.

Menanggapi sorotan tersebut, Melania Trump bersama sutradara Brett Ratner akhirnya angkat bicara dalam pemutaran perdana dokumenter Melania di Kennedy Center, Washington DC.

Proyek yang didukung Amazon MGM Studios ini kini menjadi salah satu dokumenter paling kontroversial sekaligus ambisius tahun ini.

Biaya Dokumenter Melania Jadi Sorotan

Menurut laporan Deadline, total anggaran dokumenter Melania Trump mencapai US$75 juta, dengan rincian sekitar US$40 juta untuk produksi dan US$35 juta untuk pemasaran global.

Angka ini langsung memicu perbandingan dengan film layar lebar berskala besar.

Brett Ratner menilai kritik tersebut berlebihan. Ia menegaskan bahwa proyek ini bukan dokumenter konvensional.

“Ini bukan satu film saja. Ada film layar lebar dan tiga episode tambahan. Bahkan, biaya musiknya saja lebih besar dari anggaran film Rush Hour yang pernah saya sutradarai,” ujar Ratner.

Ia juga menyebut skala produksi yang besar, termasuk 80 kru yang sudah terlibat sejak hari pertama, demi mencapai kualitas sinematik yang diinginkan.

Melania Trump: Bukan Sekadar Dokumenter

Melania Trump menegaskan bahwa Melania tidak dimaksudkan sebagai dokumenter jurnalistik pada umumnya.

“Sebagian orang menyebut ini dokumenter, tapi sebenarnya bukan. Ini adalah pengalaman kreatif yang memberikan perspektif, wawasan, dan momen,” katanya di atas panggung Kennedy Center.

Menurut Melania, tujuan utama film ini adalah menghadirkan pengalaman sinematik untuk layar lebar, sekaligus menjadi dasar untuk serial dokumenter lanjutan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini tidak semata diukur dari kritik atau box office.

“Bagi saya pribadi, ini sudah sukses. Apa yang kami capai akan berbicara dengan sendirinya.”

Strategi Distribusi dan Promosi Besar-besaran

Dokumenter Melania dijadwalkan tayang di 1.500 bioskop, langkah yang jarang ditempuh film dokumenter. Amazon MGM mendukung rilis ini dengan kampanye pemasaran masif, termasuk:

  • Iklan selama NFL Playoffs
  • Billboard dan iklan subway di kota-kota besar
  • Karpet hitam dengan branding MELANIA berukuran raksasa

Menariknya, tidak ada pemutaran khusus untuk kritikus sebelum premiere, dan awak media tidak diizinkan masuk ke pemutaran utama di Opera House Kennedy Center.

Kontroversi Publik dan Kritik Tajam

Anggaran besar ini turut memicu kontroversi politik. Presiden Donald Trump bahkan mengecam seorang reporter New York Times yang mempertanyakan apakah pendanaan Amazon merupakan bentuk upaya “mengambil hati”.

Kritik juga datang dari dunia hiburan. Komedian Jimmy Kimmel sebelumnya menyebut proyek ini sebagai “suap senilai US$75 juta”, mencerminkan skeptisisme publik terhadap motif di balik pendanaan film tersebut.

Isi Film: Menjelang Pelantikan Trump

Film Melania berfokus pada 20 hari menjelang pelantikan kedua Donald Trump sebagai Presiden AS. Narasi personal dan visual sinematik menjadi pendekatan utama, alih-alih gaya dokumenter investigatif.

Dokumenter Melania Trump bukan hanya proyek film, tetapi juga fenomena budaya dan politik.

Dengan anggaran raksasa, rilis teatrikal luas, serta dukungan Amazon MGM, film ini menantang definisi dokumenter modern.

Apakah biaya US$75 juta sepadan dengan hasilnya? Jawabannya masih menunggu reaksi publik luas.

Namun satu hal pasti, Melania telah berhasil mencuri perhatian global dan memicu diskusi panjang soal batas antara dokumenter, seni sinema, dan kekuatan politik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.