Jateng

Bukan Sekadar Dioles Sambal! Ini Definisi Ayam Geprek Khas Jogja yang Hancur Lebur di Cobek

Theo Adi Pratama | 29 Juni 2026, 12:44 WIB
Bukan Sekadar Dioles Sambal! Ini Definisi Ayam Geprek Khas Jogja yang Hancur Lebur di Cobek
foto ilustrasi (generated by Gemini AI)

JATENG.AKURAT.CO, Di berbagai kota di Indonesia, istilah "ayam geprek" sering kali hanya dimaknai sebagai ayam goreng tepung krispi yang di atasnya diberi topping sambal korek atau sambal matah—praktis, instan, tapi jauh dari esensi sebenarnya.

Namun, jika kamu berkunjung ke Yogyakarta, bersiaplah untuk mendefinisikan ulang apa itu "geprek".

Di kota pelajar ini, ayam geprek adalah sebuah tindakan destruktif yang justru sarat akan seni dan cita rasa.

Ayam goreng tepung yang masih hangat dimasukkan ke dalam cobek batu, lalu diulek bersama cabai, bawang putih, dan garam sampai dagingnya hancur lebur, suwir-suwir, dan benar-benar menyerap setiap serpihan bumbu ke dalam seratnya.

Hasil akhirnya bukan sekadar ayam berbumbu, melainkan perpaduan sempurna antara tekstur renyah dari tepung dan keempukan daging yang sudah menyatu dengan sambal.

Proses "penggeprekan" inilah yang menjadi jantung dari kuliner khas Jogja, menjadikannya berbeda dari sekadar ayam penyet yang hanya dipukul ringan di atas sambal.

Lantas, bagaimana kuliner yang kini mendunia ini lahir dari kamar kos hingga menjadi warisan kuliner yang tak tergantikan?

Sejarah Geprek: Dari Request Mahasiswa hingga Warung Legendaris

Fenomena ayam geprek tidak bisa dipisahkan dari sejarah sosial urban Yogyakarta sebagai kota pelajar.

Lahir dari kawasan yang padat mahasiswa, kuliner ini awalnya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan makan cepat, murah, tapi punya rasa yang benar-benar "nendang".

Cerita bermula dari Bu Ruminah, atau yang akrab disapa Bu Rum, pemilik warung makan di Jalan Wulung, Papringan, Caturtunggal, Sleman.

Sejak tahun 2002, Bu Rum berjualan menu biasa seperti soto, lotek, dan ayam goreng tepung.

Hingga suatu hari, seorang mahasiswa langganan meminta ayam goreng tepungnya diberikan sambal bawang dan digeprek sampai hancur.

"Mbak Rum mbok tulung gawekke sambal bawang... ayamnya suruh geprek gitu," ujar Bu Rum mengenang permintaan sang mahasiswa.

Dari situlah nama "ayam geprek" lahir, setelah sebelumnya orang lebih familiar menyebutnya "ayam digejrot" atau "ayam diulek".

Bu Rum pun memutuskan, "Ya udah sekarang bikin aja ayam geprek".

Warung pertama Ayam Geprek Bu Rum resmi berdiri pada 2003.

Dari mulut ke mulut—dan bahkan melalui SMS—menu ini menyebar di kalangan mahasiswa.

Kini, Bu Rum telah membuka enam hingga tujuh cabang di Yogyakarta, dan ayam geprek telah menjadi fenomena nasional yang tak terbendung.

Bebas Kustomisasi: Kamu yang Tentukan Nasib Geprekmu

Salah satu hal yang membuat geprek Jogja begitu dicintai adalah kebebasan untuk menentukan nasib makananmu sendiri.

Di sini, kamu bisa request jumlah cabai dari nol hingga puluhan biji tanpa dihakimi.

Proses mengantre dan menyaksikan ayam digeprek langsung di cobek batu di depan mata menjadi pengalaman yang tidak ternilai.

Tak hanya itu, kultur geprek Jogja juga mengizinkanmu menambahkan "sekte-sekte" pelengkap ke dalam cobek—tempe, tahu, telur dadar, bahkan keju—semua bisa digeprek bareng ayam.

Proses modifikasi langsung di atas cobek batu inilah yang membuat setiap porsi geprek terasa sangat personal dan tak tergantikan.

Kuah Tongseng dan Sayur Sup: Kombinasi Pelumas Terbaik

Jika di luar kota ayam geprek disajikan kering begitu saja, di Jogja ada kultur unik yang tak bisa dilewatkan: menyiramkan kuah.

Banyak warung geprek mahasiswa menyediakan panci besar berisi kuah tongseng, lodeh, atau sayur sup secara gratis atau dengan harga sangat murah.

Warung legendaris seperti Ayam Geprek Bu Made di Papringan terkenal dengan kuah tongsengnya yang gurih.

Menyiramkan sedikit kuah hangat ke atas ayam geprek yang sudah hancur lebur adalah life hack yang membuat nasi hangat makin nikmat dan teksturnya pas di lidah.

Kombinasi pedasnya sambal, gurihnya ayam, dan segarnya kuah menciptakan harmoni yang sulit ditolak.

Lebih dari Sekadar Makanan, Geprek Jogja adalah Pengalaman

Ayam geprek Jogja bukan sekadar makanan; ia adalah pengalaman kuliner yang melibatkan seluruh indra.

Dari proses penggeprekan di cobek batu yang memuaskan, kebebasan menentukan level pedas, hingga siraman kuah tongseng yang menghangatkan—semuanya menciptakan kenangan yang tak terlupakan.

Bagi para mahasiswa, geprek adalah simbol dari keriaan dan kreativitas di balik keterbatasan.

Bagi wisatawan, ia adalah cita rasa otentik yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Jadi, ketika kamu ke Jogja, jangan hanya mencicipi gudeg.

Datanglah ke Papringan, cari warung bertenda biru, dan rasakan sendiri bagaimana ayam geprek yang beneran digeprek itu.

Siapa tahu, kamu juga bakal ketagihan dan ikut-ikutan request "level pedas 30 cabai" seperti para mahasiswa Jogja. Selamat menikmati!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.