Jelajahi Solo Lebih Dalam: Rekomendasi Destinasi Wisata Budaya untuk Liburan Keluarga

JATENG.AKURAT.CO, Julukan The Spirit of Java memang layak disandang Kota Surakarta. Di kota ini, kita bisa menemukan begitu banyak "wajah" kebudayaan Jawa yang masih hidup dan terawat.
Paling populer tentu saja Keraton Surakarta yang selalu memancarkan aura sejarah kuat lewat arsitektur Jawa klasik dan tradisi yang kental. Tapi, Solo tidak sebatas keraton.
Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi untuk mengenal kota ini lebih dalam, mulai dari istana kadipaten, kampung batik tertua, museum bersejarah, pasar tradisional, hingga bekas pabrik gula peninggalan Belanda yang disulap menjadi museum epik.
Berikut lima rekomendasi tempat wisata di Solo yang kental dengan budaya, cocok untuk destinasi liburan keluarga.
1. Pura Mangkunegaran: Istana dengan Suasana Intim
Pura Mangkunegaran adalah istana resmi Kadipaten Mangkunegaran, sebuah kerajaan kecil di dalam wilayah Surakarta. Letaknya tidak jauh dari Keraton Surakarta. Istana ini masih berfungsi sebagai kediaman dan pusat kegiatan keluarga Mangkunegaran . Didirikan pada 17 Maret 1757 oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I setelah Perjanjian Salatiga, istana ini menyimpan sejarah panjang perjuangan dan budaya Jawa .
Beberapa area Pura Mangkunegaran terbuka untuk wisatawan yang ingin merasakan budaya Jawa dalam suasana lebih tenang, elegan, dan "intim". Saat berkunjung, pastikan mengenakan pakaian sopan dan tidak menggunakan batik bermotif parang atau lereng . Pengunjung bisa menjelajahi Pendopo Ageng seluas 3.500 meter persegi yang mampu menampung hingga 10.000 orang, Pringgitan untuk pertunjukan wayang, Ndalem Ageng yang berfungsi sebagai museum, hingga Keputren dengan taman berhias patung klasik Eropa .
Jika ingin membaca arsip, naskah kuno, atau melihat foto-foto sejarah, bisa menyambangi Perpustakaan Rekso Pustoko dengan koleksi mencapai 6.000 judul. Museum Pura Mangkunegaran juga menyimpan koleksi perhiasan milik raja dan permaisuri, koleksi senjata, hingga perlengkapan berburu. Ada pula koleksi gamelan yang digunakan untuk mengiringi upacara adat dan tarian tradisional. Kalau berkunjung hari Rabu dan Sabtu, pengunjung bahkan bisa mengikuti latihan tari dan karawitan .
Lokasi: Jalan Ronggowarsito No.83, Keprabon, Banjarsari, Surakarta
Jam Buka: 09.00-15.00 WIB (Senin-Rabu dan Jumat-Minggu)
Harga Tiket: Rp30.000
2. Kampung Batik Laweyan: Kampung Batik Tertua di Indonesia
Laweyan dikenal sebagai kampung batik tertua di Indonesia dan pelopor industri batik modern yang ramah lingkungan. Industri batik tulis di Laweyan sudah berkembang pesat sejak abad ke-14 pada masa Keraton Pajang . Bangunan-bangunan di Laweyan yang artistik dan bersejarah menghadirkan suasana tempo doeloe, memadukan arsitektur tradisional Jawa dengan pengaruh gaya Eropa seperti art deco .
Ada lebih dari 50 gerai produk batik berkualitas dengan harga bersahabat, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah . Pengunjung bisa melihat dan mencoba proses pembuatan batik tulis, batik cap, serta printing. Hasilnya bisa langsung dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Jika lelah berkeliling, coba menepi sebentar sambil menikmati kuliner khas Laweyan atau mengikuti paket kuliner "Laweyan tempo doeloe" yang disajikan prasmanan di rumah kuno para juragan batik .
Sejak 2006, Laweyan menjadi pelopor pengelolaan industri batik ramah lingkungan melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, bekerja sama dengan GTZ Jerman . Program ini menjadikan Laweyan sebagai rujukan bagi pemerintah daerah maupun pelaku UMKM dari berbagai wilayah.
Lokasi: Jl. dr Rajiman 521, Kampoeng Laweyan, Surakarta
Jam Buka: 08.00-20.00 WIB
Harga Tiket: Gratis (biaya parkir sesuai ketentuan)
3. Museum Radya Pustaka: Museum Tertua di Indonesia
Ini adalah museum tertua di Indonesia, didirikan pada tahun 1890 oleh Paku Buwono IX . Bangunannya memiliki desain arsitektur khas kolonial Belanda dengan sentuhan lokal, dan dulunya merupakan kediaman milik warga Belanda bernama Johannes Busselaar, sehingga memiliki nama lain Loji Kadipolo .
Museum ini dulunya menjadi tempat penyimpanan surat-surat serta benda penting kerajaan. Kini, koleksinya lebih beragam dengan berbagai jenis wayang dari dalam negeri dan luar negeri, uang logam berharga, senjata, keramik peninggalan Belanda, koleksi perunggu, hingga alat tenun tradisional. Koleksi benda purbakala mencakup artefak dari zaman prasejarah hingga masa kerajaan Majapahit, Pajang, Mataram, dan Demak .
Salah satu koleksi paling menarik adalah orgel atau kotak musik buatan Perancis berhiaskan bunga, yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Pakubuwana IV . Terdapat pula patung Rajamala, sebuah patung kepala raksasa dari kayu hasil karya Pakubuwana V. Museum ini juga memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang mayoritas berbahasa Belanda dan Jawa, termasuk naskah kuno seperti Wulang Reh karangan Pakubuwono IV dan Serat Rama karya pujangga Yasadipura I .
Lokasi: Jl. Slamet Riyadi No.275, Sriwedari, Kec. Laweyan, Surakarta
Jam Buka: Selasa-Minggu pukul 08.00-16.00 WIB (Senin tutup)
Harga Tiket: Rp5.000-Rp10.000 (domestik), Rp20.000 (mancanegara)
4. Pasar Gede Solo: Surga Kuliner dan Oleh-oleh Khas Solo
Pasar Gede atau Pasar Gede Hardjonagoro adalah pasar tertua dan terbesar di Solo, diresmikan tahun 1930 oleh Pakubuwono X. Pasar ini menjadi surga kuliner otentik Solo dengan suasana khas yang ramai sejak pagi . Aroma jajanan tradisional langsung terasa begitu memasuki area pasar.
Di sini pengunjung bisa menemukan berbagai kuliner khas seperti serabi Solo yang lembut dengan harga mulai Rp10.000, intip (kerak nasi kering renyah) mulai Rp15.000, lenjongan berisi aneka jajanan tradisional seperti tiwul dan cenil, brem Solo dengan tekstur padat mulai Rp12.000, serta kue Mandarijn yang legendaris . Selain kuliner, pengunjung juga bisa memborong batik dan kerajinan khas Solo dengan harga murah untuk oleh-oleh.
Berkunjung ke Pasar Gede sebaiknya dimulai pada pagi hari saat udara masih sejuk dan pilihan oleh-oleh masih lengkap. Jangan lupa bawa uang tunai untuk bertransaksi. Akses menuju pasar ini mudah menggunakan Batik Solo Trans, dengan beberapa halte yang berjarak dekat dari area pasar .
Lokasi: Jl. Jend. Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kec. Jebres, Surakarta
Jam Buka: 24 jam
Harga Tiket: Gratis
5. Museum De Tjolomadoe: Saksi Keemasan Industri Gula
Bergeser sedikit keluar Kota Solo ke arah Karanganyar, ada Museum De Tjolomadoe yang epik. Museum ini dulunya adalah kompleks Pabrik Gula Colomadu yang dibangun oleh Mangkunegoro IV pada tahun 1861 bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda . Colomadu merupakan pabrik gula modern pertama di Jawa yang menggunakan teknologi Eropa.
Setelah berhenti beroperasi pada tahun 1998 akibat krisis moneter, kawasan ini dihidupkan kembali dengan wajah baru. Pada tahun 2018, kawasan wisata De Tjolomadoe diresmikan dan dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata cagar budaya . Luas bangunan yang bisa dijelajahi sekitar 1,3 hektar dari total luas lahan 6,4 hektar.
Koleksi di museum ini akan mengajak pengunjung kembali ke era keemasan Indonesia sebagai produsen gula terbesar di dunia. Kita bisa melihat instalasi mesin tua berukuran besar, foto-foto kegiatan pekerja pabrik gula pada masa itu, hingga mengelilingi bangunan bekas pabrik dengan mobil klasik. Fasilitas yang tersedia antara lain museum, merchandise shop, kafe, area parkir luas, dan ruang konvensi .
Lokasi: Jl. Adi Sucipto No.1, Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar
Jam Buka: Selasa-Minggu, 09.00-17.00 WIB (Senin tutup)
Harga Tiket: Rp25.000-Rp35.000 (domestik), Rp25.000-Rp35.000 (mancanegara)
FAQ Seputar Wisata Budaya Solo
Q: Apa saja tempat wisata budaya di Solo yang wajib dikunjungi?
A: Lima tempat yang direkomendasikan adalah Pura Mangkunegaran, Kampung Batik Laweyan, Museum Radya Pustaka, Pasar Gede Solo, dan Museum De Tjolomadoe di Karanganyar.
Q: Berapa harga tiket masuk Pura Mangkunegaran?
A: Tiket masuk Pura Mangkunegaran adalah Rp30.000 per orang .
Q: Apakah ada biaya masuk ke Kampung Batik Laweyan?
A: Tidak ada biaya masuk ke kawasan Kampung Batik Laweyan. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir sesuai ketentuan .
Q: Apa koleksi unik yang ada di Museum Radya Pustaka?
A: Museum ini menyimpan kotak musik hadiah dari Napoleon Bonaparte untuk Pakubuwana IV, serta patung Rajamala karya Pakubuwana V .
Q: Kapan waktu terbaik berkunjung ke Pasar Gede Solo?
A: Waktu terbaik adalah pagi hari saat udara masih sejuk dan pilihan oleh-oleh masih lengkap .
Q: Di mana lokasi Museum De Tjolomadoe?
A: Museum De Tjolomadoe berada di Jl. Adi Sucipto No.1, Malangjiwan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, tidak jauh dari perbatasan Kota Solo .
Penutup
Kelima destinasi wisata budaya di atas membuktikan bahwa Solo memang pantas menyandang julukan The Spirit of Java. Setiap tempat menyimpan cerita dan keunikan tersendiri, mulai dari keanggunan Pura Mangkunegaran, denyut ekonomi kreatif di Laweyan, khazanah ilmu di Museum Radya Pustaka, semaraknya Pasar Gede, hingga kejayaan industri di De Tjolomadoe.
Dengan tiket masuk yang terjangkau, bahkan gratis untuk beberapa lokasi, liburan ke Solo bisa menjadi pengalaman wisata edukatif yang tak terlupakan bagi seluruh keluarga. Jangan lupa siapkan kamera dan selera makan yang besar ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








