Jateng

Keindahan dan Sejarah Masjid Menara Kudus: Simbol Akulturasi Budaya dan Kebangkitan Spiritual

Theo Adi Pratama | 8 Februari 2024, 16:00 WIB
Keindahan dan Sejarah Masjid Menara Kudus: Simbol Akulturasi Budaya dan Kebangkitan Spiritual

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Menara Kudus, salah satu masjid tua yang terletak di Pulau Jawa, tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu dari akulturasi budaya yang menakjubkan antara kebudayaan Jawa, Hindu, dan Islam.

Dibangun oleh Ja’far Sodiq, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kudus, pada tahun 956 H, masjid ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia.

Dengan bentuk menara yang mirip candi, Masjid Menara Kudus memiliki daya tarik unik yang menarik perhatian banyak pengunjung.

Baca Juga: Sejarah Masjid Darussalam Temanggung: Kesejukan Spiritual dan Kebesaran Arsitektur

Batu dari Baitul Maqdis atau Al-Quds di Yerusalem, Palestina, yang menjadi bagian dari masjid ini, mengabadikan kenangan Sunan Kudus saat bertandang ke Masjid Al-Aqsa.

Inspirasi dari kunjungan tersebut juga memberikan nama pada kota dan masjid yang kini dikenal sebagai Kudus.

Kisah pembangunan masjid ini juga menarik. Konon, Sunan Kudus membangun menara masjid hanya dengan menggosok-gosokkan batu bata hingga lengket.

Baca Juga: Perjalanan dan Perkembangan Masjid Darul Muttaqin: Jejak Sejarah dan Kebesaran di Purworejo

Keunikan lainnya adalah pintu gapura yang berbentuk menyerupai gapura candi di Bali, atau yang dikenal sebagai kori agung.

Gapura ini, selain berada di depan masjid, juga terdapat di dalam ruang utama ibadah, yang dahulu dikenal sebagai Lawang Kembar atau Pintu Kembar.

Masjid Menara Kudus menerapkan metode soko guru dengan empat tiang utama penyangga bangunan dan soko rawa dengan empat tiang pendamping, seperti masjid-masjid kuno di Jawa.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Agung Payaman: Keberkahan dan Kesakralan di Tengah Magelang

Struktur ini, yang belum diganti sejak renovasi tahun 1918, menjadi bukti kelestarian arsitektur tradisional.

Di kompleks masjid, terdapat kompleks pemakaman di bagian belakang, tempat Sunan Kudus dan tokoh-tokoh lain dimakamkan.

Hal ini menjadikan masjid ini sebagai tempat ziarah dalam daftar cagar budaya.

Masjid Menara Kudus telah mengalami beberapa renovasi untuk mempertahankan keindahannya.

Renovasi pertama pada tahun 1918, dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 1977-1980 oleh Sasana Budaya.

Saat ini, menara masjid ini telah menjadi tujuan wisata religi bagi umat Islam dari dalam dan luar negeri, memberikan dampak positif terhadap dinamika perekonomian masyarakat sekitar.

Dengan sejarahnya yang kaya dan keindahannya yang memesona, Masjid Menara Kudus tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi budaya dan kebangkitan spiritual yang menginspirasi banyak orang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.