Jateng

Mengungkap Keindahan Arsitektur dan Sejarah Perjalanan Klenteng Seng Hong Bio di Singaraja, Bali

Theo Adi Pratama | 5 Februari 2024, 12:00 WIB
Mengungkap Keindahan Arsitektur dan Sejarah Perjalanan Klenteng Seng Hong Bio di Singaraja, Bali

AKURAT.CO Sejarah, Terletak di pinggir pantai lingkungan Tambak Sari, Klenteng Seng Hong Bio telah menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya di Kabupaten Buleleng, Singaraja.

Berdiri megah selama 104 tahun, klenteng ini tidak hanya sebuah tempat ibadat, tetapi juga saksi bisu perjalanan waktu dan keberagaman masyarakat Tionghoa di Singaraja.

Baca Juga: Perjalanan Klenteng Xian Ma: Puncak Keindahan Arsitektur dan Juga Sejarah Kota Makassar

Kisah Penyelamatan Dewa Seng Hong Ya

Pendirian Klenteng Seng Hong Bio tidak dapat dipisahkan dari kisah penyelamatan Dewa Seng Hong Ya dari huru-hara di Tiongkok pada awal abad ke-20.

Kapiten Titular Lie Eng Tjie, pejabat pemerintahan Belanda, bersama dua orang Tionghoa, Lie Chang dan Lie Ho, datang ke Singaraja membawa serta rupang Dewa Seng Hong Ya.

Mereka berdua, selain melarikan diri dari kekacauan di Tiongkok, turut menyelamatkan arca dewa yang menjadi pusat ibadah di klenteng ini.

Klenteng Milik Pribadi yang Jadi Warisan Umat

Awalnya, Seng Hong Bio merupakan klenteng milik pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, klenteng ini diserahkan kepada umat Tri Dharma di Singaraja.

Ketua Tempat Ibadat Tri Dharma (T.I.T.D.) Ling Gwan Kiong-Seng Hong Bio, Wirasanjaya alias Tjong San, menjelaskan bahwa klenteng ini memiliki makna dan sejarah yang kaya.

Dewa utama yang dihormati di sini adalah Dewa Seng Hong Ya, dewa pelindung kota yang dipercaya mampu melindungi tembok, benteng, dan parit dari roh pengganggu.

Baca Juga: Klenteng Dewi Kwan Im: Jejak Sejarah dan Tradisi Spiritual di Palembang

Artefak Kuno dan Kesejahteraan Kota

Selain sebagai tempat ibadah, Klenteng Seng Hong Bio juga menyimpan beberapa artefak kuno yang membawa jejak sejarah dari Tiongkok.

Tempat dupa Hio Lo dan lonceng perunggu menjadi bagian tak terpisahkan dari klenteng ini.

Tempat dupa diletakkan di atas altar dewa utama, sementara lonceng perunggu yang usianya lebih dari seratus tahun menjadi saksi bisu perubahan zaman.

Menurut Ketua Majelis Rohaniwan Tri Dharma Seluruh Indonesia, Pipit Budiman Teja alias Pik Hong, lonceng tersebut harus dibunyikan bersamaan dengan bedug pada acara-acara penting seperti hari berdirinya klenteng, Tahun Baru Imlek, dan upacara lainnya.

Suara lonceng dan bedug yang berirama memberikan nuansa khusuk dan meriah pada setiap perayaan.

Baca Juga: Menapaki Sejarah dan Kebudayaan: Perjalanan Klenteng Hoo Tong Bio di Banyuwangi

Keberlanjutan Tradisi dan Keberagaman

Sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya, Klenteng Seng Hong Bio tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Tri Dharma, tetapi juga destinasi wisata sejarah yang menarik.

Keberlanjutan tradisi dan perayaan di klenteng ini memperkuat keberagaman dan kerukunan antar-etnis di Singaraja.

Dengan kekayaan sejarah dan budayanya, Klenteng Seng Hong Bio tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pesona Kota Singaraja yang penuh warna.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.