Mengungkap Keindahan Arsitektur dan Sejarah Perjalanan Klenteng Seng Hong Bio di Singaraja, Bali

AKURAT.CO Sejarah, Terletak di pinggir pantai lingkungan Tambak Sari, Klenteng Seng Hong Bio telah menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya di Kabupaten Buleleng, Singaraja.
Berdiri megah selama 104 tahun, klenteng ini tidak hanya sebuah tempat ibadat, tetapi juga saksi bisu perjalanan waktu dan keberagaman masyarakat Tionghoa di Singaraja.
Baca Juga: Perjalanan Klenteng Xian Ma: Puncak Keindahan Arsitektur dan Juga Sejarah Kota Makassar
Kisah Penyelamatan Dewa Seng Hong Ya
Pendirian Klenteng Seng Hong Bio tidak dapat dipisahkan dari kisah penyelamatan Dewa Seng Hong Ya dari huru-hara di Tiongkok pada awal abad ke-20.
Kapiten Titular Lie Eng Tjie, pejabat pemerintahan Belanda, bersama dua orang Tionghoa, Lie Chang dan Lie Ho, datang ke Singaraja membawa serta rupang Dewa Seng Hong Ya.
Mereka berdua, selain melarikan diri dari kekacauan di Tiongkok, turut menyelamatkan arca dewa yang menjadi pusat ibadah di klenteng ini.
Klenteng Milik Pribadi yang Jadi Warisan Umat
Awalnya, Seng Hong Bio merupakan klenteng milik pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, klenteng ini diserahkan kepada umat Tri Dharma di Singaraja.
Ketua Tempat Ibadat Tri Dharma (T.I.T.D.) Ling Gwan Kiong-Seng Hong Bio, Wirasanjaya alias Tjong San, menjelaskan bahwa klenteng ini memiliki makna dan sejarah yang kaya.
Dewa utama yang dihormati di sini adalah Dewa Seng Hong Ya, dewa pelindung kota yang dipercaya mampu melindungi tembok, benteng, dan parit dari roh pengganggu.
Baca Juga: Klenteng Dewi Kwan Im: Jejak Sejarah dan Tradisi Spiritual di Palembang
Artefak Kuno dan Kesejahteraan Kota
Selain sebagai tempat ibadah, Klenteng Seng Hong Bio juga menyimpan beberapa artefak kuno yang membawa jejak sejarah dari Tiongkok.
Tempat dupa Hio Lo dan lonceng perunggu menjadi bagian tak terpisahkan dari klenteng ini.
Tempat dupa diletakkan di atas altar dewa utama, sementara lonceng perunggu yang usianya lebih dari seratus tahun menjadi saksi bisu perubahan zaman.
Menurut Ketua Majelis Rohaniwan Tri Dharma Seluruh Indonesia, Pipit Budiman Teja alias Pik Hong, lonceng tersebut harus dibunyikan bersamaan dengan bedug pada acara-acara penting seperti hari berdirinya klenteng, Tahun Baru Imlek, dan upacara lainnya.
Suara lonceng dan bedug yang berirama memberikan nuansa khusuk dan meriah pada setiap perayaan.
Baca Juga: Menapaki Sejarah dan Kebudayaan: Perjalanan Klenteng Hoo Tong Bio di Banyuwangi
Keberlanjutan Tradisi dan Keberagaman
Sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya, Klenteng Seng Hong Bio tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Tri Dharma, tetapi juga destinasi wisata sejarah yang menarik.
Keberlanjutan tradisi dan perayaan di klenteng ini memperkuat keberagaman dan kerukunan antar-etnis di Singaraja.
Dengan kekayaan sejarah dan budayanya, Klenteng Seng Hong Bio tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pesona Kota Singaraja yang penuh warna.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 3Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 6Update Suhu Panas Siang Ini 16 Oktober 2026: Semarang, Solo, Surabaya Kompak Tembus 37 Derajat, Jakarta Nggak Mau Kalah
- 7Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Lies Iswar Aminuddin: Kegiatan PKK Berlandaskan 10 Program Pokok dan Pemberdayaan Masyarakat








