Sejarah Klenteng Kim Tek Le (Jin De Yuan): Keindahan dan Kebijaksanaan yang Abadi di Tengah Jakarta

AKURAT.CO Sejarah, Pada tahun 1650, sebuah klenteng megah berdiri di Jakarta yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kesejarahan.
Klenteng ini, awalnya dikenal sebagai Kwan Im Teng, kemudian dihancurkan pada tragedi Angke pada tahun 1740 oleh penguasa kolonial Belanda.
Namun, semangat kebangkitan dan kebijaksanaan memimpin jalannya kembali ke kemegahan dengan tangan kapten Cina Oei Tjhie yang bijak.
Baca Juga: Perjalanan Gereja Kecil Santa Maria: Keanggunan dan Sejarah dalam Batu di Jantung Jakarta Pusat
Dengan kebijaksanaan yang terpancar dari setiap dindingnya, klenteng ini diberi nama Kim Tek Le atau Jin De Yuan, yang secara harfiah berarti "kebijaksanaan emas".
Nama ini memiliki makna mendalam yang mengajak manusia untuk mengutamakan kebaikan antar sesama, bukan hanya dalam kehidupan duniawi semata.
Seiring berjalannya waktu, Kim Tek Le juga dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti, sebuah tempat ibadah yang merangkul nilai-nilai universal.
Klenteng ini menjadi perpaduan harmonis antara sejarah, seni, dan spiritualitas, yang memancarkan pesona kebijaksanaan melalui setiap detailnya.
Arsitektur dan dekorasi klenteng ini memukau pengunjung dengan ukiran dan kaligrafi indah, lukisan naga, dan burung walet yang mencerminkan keindahan seni dari beberapa ratus tahun yang lalu.
Di dalam klenteng, terdapat lima belas kedudukan Hud, Sin, dan Sien, menciptakan suasana yang mempesona bagi para pengunjung.
Baca Juga: Sejarah dan Kebudayaan di Indonesia: Sumur Timba, Jejak Masa Lalu yang Mulai Terlupakan
Ruangan untuk Hok Tek Tjin Sin (Tuan tanah) dan kedudukan Tjay Sin Ya menjadi bagian integral dari klenteng ini.
Di sisi lainnya, tempat kedudukan Sien Sing ang Kong dan Sien Thay Suy Ya menciptakan atmosfer yang khusyuk dan penuh makna.
Sebelum memasuki kuil utama, pengunjung disambut dengan aroma harum dari dupa yang membahana.
Orang-orang dapat melihat ritual membakar dupa (Hio) dan menanam dupa di wadah besar yang disebut Hio-louw.
Baca Juga: Bangunan Sejarah di Indonesia: Benteng Belgica, Saksi Bisu Penguasaan Eropa di Ambon
Empat pilar merah yang kokoh menopang langit-langit, dengan mahkota bunga teratai yang memikat, menunjukkan keanggunan dan keagungan klenteng.
Patung dewa perunggu yang dipajang di sekitar dinding klenteng melambangkan keragaman keyakinan dan kepercayaan.
Tao, Konghucu, dan Buddha bersama-sama menciptakan suasana kerukunan yang menghormati perbedaan dan kesatuan spiritualitas.
Setiap hari pertama dan ke-15 bulan baru, etnis Tionghoa berkumpul untuk sembahyang, memohon kemakmuran kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perayaan Imlek pun menjadi momen sakral di mana klenteng ini dihiasi dengan kembang api dan kegembiraan yang memenuhi udara.
Terletak di Jalan Kemenangan III No. 13 (Petak 9) Glodok, Jakarta Barat, Kim Tek Le atau Jin De Yuan menjadi penanda sejarah yang hidup, menarik perhatian tidak hanya sebagai klenteng tertua di Jakarta tetapi juga sebagai pusat kearifan dan keindahan yang melekat pada etnis Tionghoa.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










