Jateng

Perjalanan Istana Maimun Medan: Jejak Sejarah yang Hidup dalam Sebuah Kebudayaan

Theo Adi Pratama | 30 Januari 2024, 15:00 WIB
Perjalanan Istana Maimun Medan: Jejak Sejarah yang Hidup dalam Sebuah Kebudayaan

AKURAT.CO Sejarah, Melayu Deli, suku yang menyebar dan menetap di pesisir timur Sumatra Utara, khususnya di Kota Medan, memiliki keterkaitan erat dengan Kesultanan Deli.

Kesultanan ini, berdiri pada tahun 1632-1946, menjadi pendorong berkembangnya kebudayaan Melayu Deli.

Awalnya, masyarakat Melayu Deli menetap di sekitaran Sungai Deli hingga Pantai Timur Sumatra, namun dengan perkembangan industri di Kota Medan, mereka mulai berpindah ke berbagai wilayah sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, kelompok etnis Melayu Deli di Medan perlahan berkurang, dan sering kali kota Medan diartikan sebagai Tanah Batak, mengaburkan jejak sejarah Melayu Deli yang telah berusia ratusan tahun.

Baca Juga: Sejarah Sebuah Bangunan: Transformasi SOR Merdeka, Dari Kerkhof hingga Sarana Olahraga Modern

Padahal, Melayu Deli memiliki warisan bersejarah yang membuktikan keberadaannya, salah satunya adalah Istana Maimun.

Istana Maimun: Pusaka Sejarah yang Tetap Berkilau

Istana Maimun adalah peninggalan yang ditinggalkan oleh Sultan Melayu Deli ke-IX, Sutan Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1973, ketika memimpin Kerajaan Deli.

Tempat ini juga menjadi kediaman bagi empat Sultan Melayu lainnya.

Jika ingin mengunjungi Istana Maimun, kalian dapat menuju Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.

Baca Juga: Sejarah Transportasi: Perkembangan Bus di Cirebon pada Zaman Hindia Belanda

Arsitektur Istana Maimun memikat dengan sentuhan keunikan.

Dirancang oleh arsitek Italia, Ir. Kapten Th. Van Erp, yang juga seorang tentara Kerajaan Hindia-Belanda.

Pembangunan istana ini membutuhkan waktu sekitar 3 tahun, dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891.

Dengan gaya campuran antara Islam, tradisional Melayu, dan Eropa, Istana Maimun mencuri perhatian.

Baca Juga: Sejarah dan Kisah Perjalanan Candi Songgoriti: Peninggalan Warisan Bersejarah di Kota Batu

Ornamen bangunan ini mengingatkan pada seni Islam di Timur Tengah dan India, sementara interior-nya diimpor langsung dari Eropa. Warna dominan kuning, mencerminkan ciri khas Melayu.

Keunikan Istana Maimun yang Memikat Hati

Istana Maimun, meskipun sederhana dibanding istana-istana megah, menawarkan keunikan pada setiap detailnya.

Dengan luas lahan 217 x 200 m2 dan bangunan seluas 2.772 m2, istana ini memiliki dua tingkat.

Pada sekelilingnya, didukung oleh 82 tiang batu oktagonal dan 43 tiang kayu bergaya Eropa.

Baca Juga: Mitos Larangan Menikah antara Lamongan dan Kediri: Jejak Sejarah Tragedi Cinta Panji Laras dan Panji Liris

Atap istana ini berbentuk limasan atau kubah dengan bahan sirap dan tembaga (seng), menambah pesona estetika Istana Maimun.

Terdapat tiga atap limasan di bagian depan dan atap-atap lainnya di bangunan induk serta sayap kiri dan kanan.

Dengan 30 ruangan yang tersebar di dua tingkat, Istana Maimun menjadi saksi bisu sejarah Melayu Deli.

Ruang utama, Balairung Sri, seluas 412 m2, digunakan untuk acara-adat kerajaan, penerimaan tamu, dan penobatan Sultan Deli.

Dapur, gudang, dan ruangan penjara turut melengkapi bangunan ini.

Meskipun Istana Maimun tidak lagi menjadi tempat kediaman Sultan, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari sejarah Melayu Deli.

Dengan menjaga dan mengunjunginya, masyarakat dapat terus mengenang kejayaan dan kekayaan budaya yang diwariskan oleh suku Melayu Deli.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.