Jateng

Perjalanan Kuliner Nusantara: Cakwe, Jejak Sejarah Hingga Jajanan Favorit di Pinggir Jalan Indonesia

Theo Adi Pratama | 25 Januari 2024, 11:00 WIB
Perjalanan Kuliner Nusantara: Cakwe, Jejak Sejarah Hingga Jajanan Favorit di Pinggir Jalan Indonesia

AKURAT.CO Sejarah, Di pinggir jalan Indonesia, terutama di pagi hari, aroma harum dari cakwe yang sedang digoreng seringkali menggoda selera.

Jajanan ini mudah ditemui dan menjadi pilihan favorit sebagai topping bubur ayam atau camilan di pagi hari, nikmat disantap dengan saus sambal sebagai cocolan.

Namun, tahukah Anda bahwa cakwe sebenarnya memiliki jejak sejarah yang panjang dan berasal dari Tiongkok?

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Pesanggrahan Ambarbinangun, Ruang Sejarah yang Hidup di Bawah Bayang Sultan Hamengkubuwono VI

Jejak Sejarah Cakwe: Donat Asal Tiongkok

Cakwe dikenal dengan beragam nama di Tiongkok, tergantung pada dialek setiap daerah. Salah satu nama umumnya adalah "You Tiao," yang berasal dari dialek Zhejiang dalam bahasa Tionghoa.

Dalam dialek Hokkian, cakwe disebut "iû-chi?-kóe," sedangkan di daerah Chaozhou dan Shantou, dikenal dengan nama "Zha Guo."

Penganan ini adalah bagian dari tradisi kuliner Tionghoa dan memiliki nama dalam bahasa Hokkian, "You Zha Gui," yang berarti "hantu yang digoreng."

Nama ini berkaitan erat dengan sejarahnya yang terkait dengan peristiwa pada zaman Dinasti Song.

Cakwe Sebagai Simbol Nasionalisme di Tiongkok

Pada zaman Dinasti Song, Cakwe mulai populer karena kisah Jenderal Yue Fei.

Yue Fei adalah tokoh penting yang dikenal karena keberhasilannya melawan suku Jurchen Dinasti Jin yang berasal dari utara.

Kematian Jenderal Yue Fei, akibat intrik Perdana Menteri Qin Hui, memicu kemarahan rakyat.

Dalam protes terhadap Qin Hui, masyarakat membuat dua batang kecil dari adonan tepung beras yang melambangkan Qin Hui dan istrinya.

Adonan itu digoreng sebagai bentuk simbol kebencian terhadap Perdana Menteri tersebut.

Sejak saat itu, Cakwe menjadi simbol nasionalisme dan penghormatan pada Jenderal Yue Fei.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah Yogyakarta: Kotagede, Jejak Bersejarah Mataram Islam di Bawah Naungan Masjid Makam

Kisah Legendaris di Balik Cakwe: Hui Goreng

Kematian Jenderal Yue Fei memicu ide brilian seorang pedagang makanan bernama Wang Xiaoer di ibukota Dinasti Song Selatan.

Wang Xiaoer menggoreng dua adonan tepung yang dibentuk seperti manusia yang saling membelakangi, menciptakan simbolisasi kemarahan rakyat terhadap Qin Hui.

Ia meneriakkan, "Dijual Hui Goreng!" untuk menarik perhatian pembeli.

Dengan cepat, Hui Goreng menjadi populer dan menyebar dari Lin’an, mengalami perubahan nama menjadi Cakwe seiring waktu.

Di Indonesia, Cakwe juga dikenal luas dan dijual di toko atau oleh pedagang kaki lima di berbagai daerah.

Cakwe di Indonesia: Variasi Penyajian yang Menggoda

Di Indonesia, Cakwe memiliki variasi cara penyajian.

Di Surakarta, Jawa Tengah, Cakwe disajikan dengan susu kedelai, menciptakan paduan rasa yang unik.

Di Jawa Barat, Cakwe sering disantap bersama sambal asam cair atau sambal kacang cair, menambahkan cita rasa pedas dan gurih yang khas.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah Yogyakarta: Kompleks Pantja Dharma UGM, Melangkah Sejarah Pendidikan dan Konferensi Internasional

Melalui perjalanan sejarahnya, Cakwe tidak hanya menjadi hidangan lezat namun juga menyimpan makna sejarah dan nilai-nilai nasionalisme dari negeri Tiongkok.

Kini, setiap gigitan Cakwe di pinggir jalan Indonesia membawa kita dalam petualangan panjang dari masa lalu yang kaya akan kisah dan cita rasa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.