Jateng

Kuliner Khas Sego Tiwul Gunungkidul: Kelezatan yang Membawa Sejarah Panjang

Theo Adi Pratama | 11 Januari 2024, 16:00 WIB
Kuliner Khas Sego Tiwul Gunungkidul: Kelezatan yang Membawa Sejarah Panjang

AKURAT.CO Sejarah, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, tetapi juga dengan kekayaan kuliner tradisionalnya yang lezat.

Salah satu makanan yang menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat Gunungkidul adalah Sego Tiwul.

Baca Juga: Perjalanan Masjid Agung Kauman Semarang: Kekayaan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Bangunan Ibadah

Tiwul: Legenda yang Menyimpan Sejarah Panjang

Meskipun Gunungkidul memiliki beragam hidangan lezat dari olahan singkong seperti Gatot, Gethuk, Lemet, Cenil, Sawut, dan Klepon, Tiwul tetap menjadi yang paling legendaris.

Sego Tiwul tidak hanya memikat lidah dengan kelezatannya, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang membawa kita ke zaman penjajahan.

Pada masa penjajahan, nasi dianggap makanan mewah dan hanya dapat dinikmati oleh golongan kelas atas karena kelangkaannya.

Menanam padi pada masa itu lebih sulit, dan variabilitas bibit yang primitif menyebabkan masa panen yang lama.

Sebagai alternatif, masyarakat Gunungkidul mengandalkan singkong untuk menciptakan Sego Tiwul.

Baca Juga: Perjalanan Gereja Blenduk Semarang: Menguak Kisah Sejarah dan Keindahan Arsitektur Bangunan di Kota Lama

Proses Pembuatan Sego Tiwul: Dari Singkong Hingga Hidangan Lezat

Proses pembuatan Sego Tiwul melibatkan beberapa tahap yang menampilkan kreativitas dan keahlian masyarakat Gunungkidul.

Pertama, singkong dikupas dan dijemur hingga kering, menjadi gaplek.

Gaplek kemudian diolah menjadi tepung halus dan dikukus hingga matang.

Sego Tiwul umumnya disajikan dengan taburan parutan kelapa, menciptakan paduan rasa sedikit manis dan aroma alami singkong.

Saat ini, variasi penyajiannya semakin beragam dengan tambahan lauk pauk seperti ayam bakar, tempe penyet, dan lainnya.

Tiwul: Dari Makanan Inferior ke Superior

Saat ini, Sego Tiwul bukan lagi makanan inferior. Sebaliknya, ia telah menjadi makanan superior dan menjadi identitas kebanggaan masyarakat Gunungkidul.

Sego Tiwul tidak hanya dijumpai di pasar tradisional, tetapi juga hadir di restoran-restoran mewah di destinasi wisata Gunungkidul.

Baca Juga: Gunung Raung: Keindahan Alam yang Dibalut Misteri Sejarah dan Horor di Puncak Jawa Timur

Kini, untuk memudahkan para penggemarnya, telah tersedia Tiwul instan di pasaran.

Bagi yang merindukan sensasi lezat Sego Tiwul, namun tidak memiliki waktu untuk membuatnya sendiri, Tiwul instan menjadi solusi praktis.

Cara Pengolahan Tiwul: Tradisi yang Tetap Dilestarikan

Pengolahan Tiwul dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat, seperti cerek dan dandang bambu, untuk memberikan bentuk yang cantik.

Meskipun demikian, memasak Tiwul secara tradisional menggunakan panci kukus juga tetap umum.

Cara mengukus Tiwul instan atau kering sedikit berbeda dengan Tiwul manis.

Sebelum dikukus, Tiwul instan perlu diberi air terlebih dahulu dan diamkan sesaat sebelum proses pengukusan.

Penggunaan alat tradisional seperti ceret dan dandang bambu memberikan sentuhan khas pada pengolahan Tiwul.

Baca Juga: Misteri dan Jejak Sejarah yang Terukir di Pondok Mayit Gunung Raung: Kisah Perlawanan Rakyat Indonesia Melawan Penjajah Belanda

Dengan berbagai inovasi dalam penyajian dan pengolahan, Sego Tiwul tetap menjadi kuliner yang mengakar dalam sejarah Gunungkidul.

Kelezatannya yang khas, nilai gizi yang baik, dan keterkaitannya dengan sejarah membuat Sego Tiwul tetap menjadi ikon kuliner yang tidak tergantikan di Kabupaten Gunungkidul.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.