Jateng

Mengenal Sejarah Stasiun Kedungjati, Salah Satu Rute Wisata Heritage antara Semarang - Grobogan

Theo Adi Pratama | 24 Agustus 2023, 23:36 WIB
Mengenal Sejarah Stasiun Kedungjati,  Salah Satu Rute Wisata Heritage antara Semarang - Grobogan

AKURAT.CO GROBOGAN - Pemerintah Kota Semarang mengajak peserta Rakernas X JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia), untuk mengikuti kegiatan Heritage Tour dari Stasiun Tawang Kota Semarang menuju Stasiun Kedungjati di Kabupaten Grobogan.

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan kegiatan Heritage Tour, dapat menjadi salah satu daya tarik baru pariwisata di Kota Semarang.

Apalagi jalur ini merupakan jalur kereta api yang menjadi penghubung dua wilayah antara Kota Semarang dengan Kabupaten Grobogan.

Baca Juga: Ketua PKK Jateng Atikoh Ganjar: Perempuan Berperan Penting dalam Kedaulatan Pangan

Perempuan yang akrab disapa Mbak Ita tersebut berharap jalur kereta api Stasiun Tawang – Stasiun Kedungjati nantinya dapat menjadi salah satu rute wisata heritage antar kedua daerah.

Lalu apa yang membuat stasiun Kedungjati menjadi rute wisata heritage?

Berikut ini sejarah stasiun Kedungjati di Kabupaten Grobogan.

Baca Juga: UPGRIS Peroleh DRTPM 2023 dengan Judul Terbayak di LLDIKTI Wilayah VI

Dikutip dari Journal of Indonesian History Universitas Negeri Semarang (Unnes), berjudul 'Stasiun Kereta Api Kedungjati dan Perekonomian Desa Kedungjati Tahun 1966- 1989', Stasiun Kedungjati dengan kode (KED) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Grobogan.

Wilayah Kedungjati merupakan pusat penghasil hutan dengan komoditi utamanya adalah kayu jati.

Pada zaman kolonial, Belanda memutuskan untuk membangun stasiun kereta api di Desa Kedungjati Kecamatan Kedungjati, yang menghubungkan antara Semarang dengan Surakarta melalui jalur kereta api untuk mempermudah mengangkut dan membawa kayu jati.

Baca Juga: Sudah Kalah Lawan Persib, PSIS Diberondong Tiga Sanksi Komdis

Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 mdpl ini berada di Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang.

Stasiun Kedungjati diresmikan pada 21 Mei 1873.

Stasiun kereta api Kedungjati ini dibangun enam tahun setelah jalur kereta api Semarang-Tanggung yang merupakan jalur pertama yang beroprasi di pulau Jawa, yang beroperasi pada tahun 1867.

Baca Juga: Ratusan Massa Tuntut Polda Jateng Segera Tuntaskan Kasus Kematian Misterius Pegawai Pemkot Semarang

Jalur tersebut diteruskan menjadi jalur Semarang-Yogyakarta, melalui Solo agar lebih menguntungkan bagi kepentingan militer Belanda pada masa itu, serta pengangkutan hasil hutan.

Pada masa itu, Kedungjati memiliki hutan yang sangat luas dan merupakan penghasil kayu jati terbesar di Jawa Tengah, sehingga pemerintah Belanda memerintahkan untuk dibangunnya stasiun kereta api Kedungjati di desa Kedungjati, untuk mengangkut hasil hutan yang berupa kayu jati dari desa Kedungjati menuju Yogyakarta melalui Solo

Menariknya, arsitektur stasiun Kedungjati ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur kereta api dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1978.

Baca Juga: Bea Cukai Kudus Amankan Rokok Ilegal yang Ditimbun di Bangunan dan Dikirim dengan Minibus

Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati awalnya dibangun dari kayu, diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.

Pada awalnya jalur-jalur yang berada di stasiun kereta api Kedungjati memiliki tujuan masing-masing.

Di jalur utama dan kedua, difungsikan untuk kereta api yang menuju ke Semarang atau Jakarta.

Jalur ketiga dan keempat difungsikan untuk kereta api yang menuju ke Solo atau Jawa Timur, jalur kelima difungsikan untuk jalur kereta api Tuntang-Kedungjati, sedangkan jalur keenam, difungsikan untuk kereta lokal Kedungjati-Ambarawa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.