Jateng

5 Alasan Orang Tua Menolak Intimate Wedding: Bukan Sekadar Soal Gengsi!

Theo Adi Pratama | 23 Juni 2026, 19:46 WIB
5 Alasan Orang Tua Menolak Intimate Wedding: Bukan Sekadar Soal Gengsi!

JATENG.AKURAT.CO, Pernikahan intim alias intimate wedding tengah menjadi tren di kalangan milenial dan Gen Z.

Konsep dengan tamu terbatas, suasana hangat, dan anggaran minimal ini dinilai lebih personal serta realistis secara finansial.

Namun di balik popularitasnya, tak sedikit pasangan muda yang justru berhadapan dengan tembok penolakan dari orang tua mereka sendiri.

Mengapa generasi tua tampak begitu sulit menerima gagasan pernikahan kecil yang sederhana? Faktanya, penolakan ini bukan sekadar soal "gengsi" semata.

Ada sejumlah alasan mendasar yang berakar dari nilai-nilai budaya, pandangan sosial, hingga luka lama dalam keluarga yang belum terselesaikan.

Psikoterapis Eliza Davis mengungkapkan bahwa konflik seputar pernikahan kerap memicu ketegangan karena peristiwa ini membawa ke permukaan sejarah keluarga yang selama ini terpendam serta batasan-batasan yang belum jelas.

Lalu, apa saja sebenarnya alasan di balik ketidaksetujuan orang tua terhadap konsep intimate wedding? Berikut ulasan lengkapnya.

Baca Juga: Fakta Unik Intimate Wedding: Gaya Nikah Gen Z yang Bikin Orang Tua Geleng-Geleng Kepala

1. Pesta Kecil Dianggap Tidak Serius dan Seperti Menyembunyikan Sesuatu

Bagi sebagian besar orang tua, pesta pernikahan adalah simbol rasa syukur yang harus dirayakan secara terbuka dan meriah.

Mereka masih memegang keyakinan bahwa sebuah momen baru layak disebut pernikahan bila dirayakan secara besar-besaran.

Ketika anak memilih konsep intim dengan tamu terbatas, orang tua kerap menafsirkannya sebagai ketidakseriusan—seolah-olah sang anak tidak ingin banyak orang tahu akan momen bahagianya.

Bahkan di beberapa daerah, pernikahan sederhana di KUA tanpa resepsi besar masih dibayangi stigma negatif.

Purnomo, seorang modin di Desa Becirongengor, Sidoarjo, mengakui masyarakat kerap memberi cap negatif pada pasangan yang menikah tanpa resepsi besar.

"Biasanya langsung dianggap nikah diam-diam. Ada yang mengira karena kecelakaan (hamil duluan), atau ada masalah keluarga," ujarnya pada Februari 2026.

Pandangan yang sudah mengakar ini membuat orang tua khawatir anak mereka akan menjadi bahan gunjingan atau dianggap menyembunyikan sesuatu.

2. Orang Tua Punya Banyak Teman dan Kolega yang "Harus" Diundang

Pernikahan bukan hanya milik pengantin, tetapi juga menjadi momen istimewa bagi orang tua untuk berbagi kebahagiaan dengan lingkungan sosial mereka.

Masalahnya, orang tua biasanya memiliki banyak teman, kolega, atau kerabat yang menurut mereka "wajib" diundang.

Rasanya hampir tidak mungkin untuk tidak mengundang seluruhnya karena khawatir akan mendapatkan protes atau dianggap tidak menghargai.

Seorang calon pengantin di Reddit menceritakan bagaimana ibunya meminta tambahan empat undangan untuk kerabat yang bahkan jarang dia ajak bicara, termasuk sepupu yang pernah mengejeknya di acara keluarga.

Ketika dia menolak, ibunya merasa tidak dihargai dan menuduhnya tidak sopan.

Konflik semacam ini menunjukkan bahwa daftar tamu sering kali menjadi ajang perebutan kontrol antara keinginan anak dan ekspektasi sosial orang tua.

3. Pesta Pernikahan Besar sebagai Tanda Status Sosial dan Gengsi

Secara historis dan budaya, pesta pernikahan besar di Indonesia kerap menjadi ajang pembuktian status sosial sekaligus penuntasan "gengsi" orang tua di mata masyarakat.

Pesta mewah dengan ribuan tamu, tenda megah, dan jamuan tanpa henti menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah acara.

Bagi orang tua, semakin besar dan meriah pesta, semakin tinggi pula status sosial yang terpancar.

Konsep intimate wedding yang membatasi tamu hanya 50 hingga 100 orang dianggap tidak cukup untuk menunjukkan kebanggaan keluarga.

Padahal di sisi lain, anak-anak muda justru memaknai pernikahan dari kualitas momen sakral dan penghematan anggaran, bukan dari kuantitas audiens.

Perbedaan cara pandang inilah yang kerap memicu gesekan antara dua generasi.

4. Takut Kehilangan Kontrol dan "Kehilangan" Anak

Dari sisi psikologis, penolakan orang tua terhadap pilihan pernikahan anak sering kali berakar pada rasa kehilangan kendali.

Psikoterapis Eliza Davis menjelaskan bahwa ketika orang tua merasa kehilangan rasa hormat atau pengaruh dalam kehidupan anak mereka, mereka cenderung berusaha memegang lebih erat.

Aktivis kesehatan mental Mark Henick menambahkan bahwa pernikahan adalah ritus peralihan besar—simbol bahwa sesuatu yang baru dimulai, tetapi juga sesuatu yang lama berakhir.

Transisi ini sama sulitnya bagi orang tua sebagaimana bagi anak, karena menandai perubahan identitas mereka sebagai orang tua dari anak yang kini benar-benar dewasa dan mandiri.

Bagi sebagian orang tua, menolak konsep pernikahan yang dipilih anak adalah cara bawah sadar untuk tetap mempertahankan pengaruh dan keterlibatan dalam kehidupan anak mereka.

5. Investasi Finansial Orang Tua Memberi Hak "Suara"

Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang masih berkontribusi secara finansial dalam pernikahan anak mereka.

Dalam situasi ini, orang tua merasa memiliki hak suara dalam menentukan jalannya acara.

Mereka tumbuh dengan hubungan yang berbeda terhadap otoritas media dan industri pernikahan—terbiasa dengan pesan tentang bagaimana seharusnya sebuah pernikahan terlihat.

Seorang pengantin di Reddit menceritakan bagaimana ibunya bersikeras ingin mengundang kerabat tambahan dengan alasan "karena mereka berkontribusi secara finansial, mereka harus mendapat hak suara dalam siapa yang diundang".

Ketika sang anak menawarkan untuk mengembalikan kontribusi tersebut, ibunya justru menuduhnya tidak sopan.

Ini menunjukkan bahwa uang sering kali menjadi alat kontrol yang memperumit dinamika keluarga, terutama ketika orang tua masih memperlakukan anak dewasa mereka sebagai anak-anak yang harus diatur.

Pesan Penting: Penolakan orang tua terhadap intimate wedding bukanlah sikap yang muncul tanpa alasan.

Ini adalah cerminan dari nilai-nilai budaya, kekhawatiran sosial, rasa kehilangan kendali, dan ekspektasi yang telah tertanam selama puluhan tahun.

Di sisi lain, generasi muda juga memiliki hak untuk mewujudkan pernikahan impian mereka.

Kuncinya adalah komunikasi terbuka, saling pengertian, dan kompromi.

Seperti yang diungkapkan Ichwan Nanda Herwina, setelah mendapat pemahaman yang cukup, banyak orang tua akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan anak-anak mereka lebih penting daripada sekadar pandangan orang lain.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.