Jateng

Analisis Dampak Penutupan Selat Hormuz: Asia Terancam Krisis Energi Hebat?

Theo Adi Pratama | 1 Maret 2026, 16:32 WIB
Analisis Dampak Penutupan Selat Hormuz: Asia Terancam Krisis Energi Hebat?
Selat Hormuz

JATENG.AKURAT.CO, Ada selat yang lebarnya hanya 34 kilometer, tapi beban yang ia tanggung setara dengan seperlima kebutuhan minyak seluruh dunia. Itulah Selat Hormuz — jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, sekaligus menjadi urat nadi distribusi energi global yang tidak tergantikan.

Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak mentah melintas di sini. Ditambah lagi sekitar 20 persen dari seluruh perdagangan gas alam cair (LNG) dunia yang juga bergantung pada jalur ini. Jika Selat Hormuz terganggu — atau lebih buruk, ditutup — dampaknya tidak akan terasa hanya di kawasan Timur Tengah, tapi di pompa bensin Tokyo, di pabrik-pabrik Seoul, di pembangkit listrik Beijing, dan pada akhirnya di kantong konsumen di seluruh penjuru dunia.

Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus memanas, pertanyaan yang paling relevan sekarang bukan lagi 'apakah Hormuz bisa terganggu?' — tapi 'seberapa jauh dunia siap menghadapi konsekuensinya?'

Apa Itu Selat Hormuz? Definisi dan Posisi Geografisnya

Selat Hormuz adalah jalur maritim sempit yang terletak di antara Iran di sisi utara dan Semenanjung Musandam milik Oman di sisi selatan. Secara geografis, selat ini menghubungkan Teluk Persia — tempat sebagian besar cadangan minyak dan gas terbesar di dunia berada — dengan Teluk Oman, yang kemudian terhubung ke Laut Arab dan Samudra Hindia.

Pada titik tersempitnya, lebar selat ini hanya sekitar 34 kilometer atau kurang dari 21 mil. Di dalam lebar yang terbatas itu, terdapat dua jalur pelayaran masing-masing selebar 3,2 kilometer yang memikul tanggung jawab untuk menjaga pasokan energi dunia tetap mengalir setiap harinya.

Meskipun terlihat kecil di peta, tidak ada jalur alternatif yang bisa sepenuhnya menggantikan Selat Hormuz. Rute-rute bypass memang ada, seperti pipa minyak Petroline di Arab Saudi atau jalur Habshan-Fujairah, tapi kapasitasnya sangat terbatas dan tidak bisa mengimbangi volume yang biasanya melintas melalui selat ini.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.