Jateng

Berikut Kronologi Demonstrasi Gen Z di Nepal, Berujung Negara Chaos, Menteri Diserang Massa, Hingga PM Mengundurkan Diri

Theo Adi Pratama | 10 September 2025, 16:17 WIB
Berikut Kronologi Demonstrasi Gen Z di Nepal, Berujung Negara Chaos, Menteri Diserang Massa, Hingga PM Mengundurkan Diri

JATENG.AKURAT.CO, Berikut Kronologi Demonstrasi Gen Z di Nepal, Berujung Negara Chaos, Menteri Diserang Massa, Hingga PM Mengundurkan. Simak selengkapnya di artikel ini. 

Demonstrasi massa yang dipelopori oleh kaum anak muda (Gen Z) berujung kerusuhan besar terjadi di Nepal. Protes telah menyeruak di seluruh negeri sejak Kamis pekan lalu dan makin menggila hingga sekarang.

Mengutip AFP, Rabu (10/9/2025), demonstrasi Nepal bermula dari blokir yang dilakukan pemerintah ke dua lusin platform media sosial. 

Baca Juga: Ini Profil AS Trencin, Klub Baru Marselino Ferdinan Setelah Dipinjamkan dari Oxford United

Platform tersebut dianggap gagal memenuhi tenggat waktu pendaftaran di negara tersebut.

Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi telah menginstruksikan otoritas telekomunikasi untuk menonaktifkan akses ke 26 platform tidak terdaftar yang beroperasi di negara tersebut. 

Ini termasuk Facebook, YouTube, X, dan LinkedIn milik Meta.

"Platform media sosial yang tidak terdaftar akan dinonaktifkan mulai hari ini dan seterusnya," kata juru bicara kementerian, Gajendra Kumar Thakur.

Baca Juga: Tiga Tersangka Baru Ditetapkan, Tersangka Pelempar Bom Molotov Saat Demo di Mapolda Jateng Kini Berjumlah Sepuluh Orang

"Platform-platform tersebut akan segera dibuka kembali setelah mereka mengajukan pendaftaran," tambahnya

Pemblokiran merupakan keputusan kabinet setelah adanya perintah Mahkamah Agung pada September tahun lalu. 

Pada tahun 2023, negara tersebut mengeluarkan arahan yang mewajibkan platform media sosial untuk mendaftar dan membangun kehadiran lokal.

Meskipun telah ada beberapa pemberitahuan dan upaya, platform-platform besar belum mengajukan pendaftaran.

Jika sebuah platform media sosial digunakan di Nepal, platform tersebut harus diatur terhadap aktivitas ilegal atau konten yang tidak diinginkan.

Diketahui hanya lima platform, termasuk TikTok dan Viber, yang telah terdaftar secara resmi dan dua lainnya sedang dalam proses. 

Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan X memiliki jutaan pengguna di Nepal dengan akun untuk hiburan, berita, dan bisnis.

"Ini secara langsung melanggar hak-hak dasar publik," kata Presiden Digital Rights Nepal, Bholanath Dhungana, mengatakan bahwa penutupan mendadak ini menunjukkan pendekatan "mengendalikan" pemerintah.

Nepal telah membatasi akses ke platform daring populer di masa lalu. 

Akses ke aplikasi perpesanan Telegram diblokir pada bulan Juli, dengan alasan meningkatnya penipuan daring dan pencucian uang.

Pada bulan Agustus tahun lalu, pemerintah mencabut larangan sembilan bulan terhadap TikTok. Ini setelah aplikasi itu setuju untuk mematuhi peraturan Nepal

Hal ini kemudian membuat demo pecah menjadi kerusuhan. Para demonstran memulai protes mereka dengan menyanyikan lagu kebangsaan sebelum meneriakkan penolakan terhadap pemblokiran media sosial dan korupsi.

Baca Juga: Bangga Banget! 5 DJ Asal Indonesia Ini Sukses Tembus Panggung Internasional, Siapa Aja Mereka?

Para Mahasiswa memprotes "sikap otoriter" pemerintah. Meniru Indonesia, dari beberapa laporan foto, pendemo membawa bendera one piece dalam aksi

Ada beberapa kasus korupsi yang dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, melibatkan menteri, mantan menteri, dan pejabat tinggi lainnya. 

Sejak larangan tersebut, video yang membandingkan perjuangan rakyat Nepal biasa dengan anak-anak politisi yang memamerkan barang-barang mewah dan liburan mahal telah menjadi viral di TikTok.

"Ada gerakan-gerakan di luar negeri yang menentang korupsi, dan mereka khawatir hal itu juga akan terjadi di sini," kata pengunjuk rasa Bhumika Bharati

Senin, dilaporkan bagaimana aksi keras polisi membubarkan demonstran membuat 19 orang tewas. 

Polisi menggunakan peluru karet, gas air mata, meriam air, dan pentungan ketika para demonstran menerobos kawat berduri dan mencoba menyerbu area terlarang di dekat gedung parlemen.

Dua orang lainnya tewas di Distrik Sunsari di Nepal timur, lapor media lokal. 

Khanal mengatakan sekitar 400 orang terluka, termasuk lebih dari 100 polisi.

Beberapa saksi mengatakan mereka melakukan protes damai namun dibalas aparat dengan kekerasan. 

Dilaporkan bagaimana sirene meraung-raung di seluruh kota saat para korban luka dibawa ke rumah sakit.

Pada Senin malam, Menteri Dalam Negeri Nepal Ramesh Lekhak mengundurkan diri dalam rapat kabinet mendadak. 

PBB menuntut penyelidikan yang cepat dan transparan atas kekerasan tersebut.

Selasa, Perdana Menteri Nepal KP Sharma Oli juga mengundurkan diri. Ia memberi surat resmi ke Presiden Nepal.

Baca Juga: Bikin Nostalgia! Pasar Lawas Mataram 2025 Kembali Digelar, Siap Bawa Kamu 'Pulang' ke Masa Lalu!

Di sisi lain kemarin,sejumlah video menunjukkan bagaimana demonstran Nepal membakar parlemen pada hari Selasa saat PM Oli mengundurkan diri. 

Para demonstran membanjiri jalan-jalan ibu kota Kathmandu di mana beberapa bersuka cita dan merayakan, yang lain membakar gedung-gedung pemerintah dan mengacungkan senapan otomatis.

Pembakaran juga terjadi di rumah eks PM Oli. Bukan hanya itu, Menteri Keuangannya, Bishnu Prasad Paudel, juga dikejar di jalanan di Ibu Kota Kathmandu. *** 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.