Kerjaan Kelar Jam 10, Tapi Pulang Jam 5: Seni Pura-Pura Sibuk yang Wajib Dikuasai

JATENG.AKURAT.CO, Kamu nggak sendirian. Sebuah survei yang dirilis Microsoft pada 2026 menemukan bahwa hampir 60 persen pekerja kantoran mengaku menyelesaikan tugas utama mereka dalam waktu kurang dari setengah hari kerja.
Sisanya? Dipakai untuk rapat yang nggak perlu, balas chat yang bisa ditunda, dan—ini yang paling jujur—akting pura-pura sibuk.
Fenomena ini bukan hal baru. Tapi di era di mana hampir semua orang kerja pakai laptop dan bos bisa ngintip dari belakang, seni berpura-pura sibuk sudah naik level.
Bukan lagi sekadar “buka Excel dan pencet-pencet tombol”, tapi sudah jadi performa harian yang butuh latihan.
Baca Juga: Senin Ngantuk: Kopi Saset atau Kopi Cafe, Sih? Ini Jawaban Jujurnya
Kenapa Kita Melakukannya? Bukan Cuma Soal Malas
Kalau kamu pikir orang pura-pura sibuk itu karena malas, kamu salah besar. Alasannya jauh lebih rumit.
1. Budaya “jam kerja = produktivitas”. Banyak kantor masih mengukur kinerja dari berapa lama kamu duduk di meja, bukan dari hasil kerja. Jadi kalau kamu pulang lebih awal meski kerjaan sudah beres, kamu dianggap “kurang dedicated”.
2. Takut dianggap nggak butuh. Di beberapa kantor, terlihat sibuk adalah bentuk “job security”. Kalau kamu terlihat santai, ada rasa takut atasan berpikir kamu bisa digantikan atau nggak perlu dipertahankan.
3. Ekspektasi sosial. Rekan kerja yang masih sibuk sampai jam 5 bisa bikin kamu merasa bersalah kalau pulang lebih awal. Padahal, kerjaan kamu sudah selesai sejak jam 10.
Seorang pekerja di Jakarta, Rani (28), mengaku sudah hafal betul seni ini. “Kerjaan saya sebagai admin selesai jam 10 paling lambat. Tapi bos saya duduk di seberang, jadi saya harus tetap kelihatan sibuk. Buka email, balas chat, buka Excel, tutup, buka lagi,” ujarnya sambil tertawa.
“Pernah suatu hari saya benar-benar nggak ada kerjaan, jadi saya buka notepad dan nulis draft novel. Bos lewat, saya langsung alt+tab ke Excel.”
Baca Juga: Kalender Jawa 19–25 Oktober 2026: Neptu Tertinggi Ada di Kamis Pahing
Seni Pura-Pura Sibuk: dari Level Pemula sampai Master
Berdasarkan “riset lapangan” (baca: obrolan di grup WhatsApp kantor), ada beberapa level kemahiran dalam seni ini.
Level Pemula: Buka Excel dan Pencet Tombol
Ini klasik. Buka spreadsheet, tekan panah kanan-kiri, kadang klik satu sel, lalu tekan Enter. Sesekali ketik angka random. Efektif untuk bos yang cuma lewat sekilas.
Level Menengah: Dual Monitor dengan Tampilan “Produktif”
Buka dua layar. Satu layar untuk kerjaan asli (yang sudah selesai), satu layar untuk hal lain—tapi pastikan yang terlihat dari pintu adalah layar kerjaan. Kalau bos mendekat, cukup gerakkan mouse ke layar yang benar.
Level Lanjutan: Meeting Palsu
Ini butuh keberanian. Buka kalender, buat event “Sync with Stakeholder” selama satu jam, lalu duduk di ruang meeting sendirian sambil buka laptop. Bos akan mengira kamu sedang rapat penting. Padahal kamu sedang nonton YouTube dengan earphone.
Level Master: “Deep Work Mode”
Pasang headphone, buka dokumen panjang, dan sesekali mengerutkan dahi sambil menatap layar. Kalau ada yang bertanya, jawab dengan kalimat magis: “Lagi baca laporan, nanti saya kabari.” Ini memberikan dua keuntungan: terlihat sibuk, dan orang lain segan mengganggu.
Tapi... Apakah Ini Sehat?
Meski terdengar lucu, ada sisi gelap dari fenomena ini. Psikolog organisasi dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, mengingatkan bahwa berpura-pura sibuk dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.
“Ketika seseorang harus terus-menerus berpura-pura, ada ketegangan batin antara apa yang dia lakukan dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Ini bisa memicu kelelahan emosional, bahkan burnout,” jelasnya.
Selain itu, budaya ini juga merugikan perusahaan. Kalau karyawan menghabiskan waktu untuk “akting” alih-alih mengerjakan hal yang benar-benar produktif, maka ada pemborosan energi dan talenta yang seharusnya bisa dialihkan ke hal yang lebih bernilai.
Yang Bisa Dilakukan: Baik oleh Karyawan maupun Perusahaan
Kalau kamu karyawan yang sering “sibuk palsu”, ada beberapa hal yang bisa dicoba:
1. Komunikasikan beban kerja dengan jujur. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, coba tawarkan bantuan ke tim lain atau minta tugas tambahan yang memang menantang. Ini lebih baik daripada berpura-pura sibuk selama tujuh jam.
2. Manfaatkan waktu luang untuk belajar. Kalau kamu punya waktu luang, gunakan untuk meningkatkan skill—baca artikel, ikut kursus online, atau pelajari tools baru. Ini jauh lebih produktif daripada membuka-tutup Excel.
3. Bicarakan dengan atasan tentang fleksibilitas. Kalau pekerjaanmu memang bisa selesai lebih cepat, tanyakan apakah ada opsi untuk pulang lebih awal atau kerja fleksibel. Beberapa perusahaan sudah mulai menerapkan sistem berbasis output, bukan jam kerja.
Sementara itu, untuk perusahaan, ada baiknya mulai mempertimbangkan:
1. Ubah cara mengukur kinerja. Fokus pada hasil, bukan pada berapa lama karyawan duduk di meja.
2. Ciptakan budaya keterbukaan. Karyawan harus merasa aman untuk mengatakan “kerjaan saya sudah selesai” tanpa takut dianggap malas.
3. Berikan tugas yang menantang. Karyawan yang merasa pekerjaannya meaningful cenderung tidak perlu berpura-pura sibuk, karena mereka memang benar-benar sibuk—tapi dengan hal yang mereka pedulikan.
Refleksi: Jam 10 Sudah Selesai, Lalu Ngapain?
Pada akhirnya, seni pura-pura sibuk adalah gejala, bukan akar masalah.
Selama budaya kerja masih mengukur “lama duduk” daripada “hasil kerja”, selama itu pula karyawan akan terus mengembangkan kreativitasnya—bukan untuk bekerja lebih baik, tapi untuk terlihat bekerja lebih lama.
Jadi, kalau hari ini kamu sudah menyelesaikan pekerjaan jam 10 pagi dan sekarang sedang membaca artikel ini sambil sesekali menggerakkan mouse, kamu nggak sendirian.
Tapi mungkin ada baiknya mulai memikirkan: apakah ada cara yang lebih jujur—dan lebih sehat—untuk menghabiskan sisa harimu?
Atau, ya, setidaknya sampai bosmu lewat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Lama Tak Terlihat, Tiba-tiba Hendi Menjabat Ketua LPEU MUI Jawa Tengah
- 4Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 5Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur
- 6Update Suhu Panas Siang Ini 16 Oktober 2026: Semarang, Solo, Surabaya Kompak Tembus 37 Derajat, Jakarta Nggak Mau Kalah
- 7Xiaomi Redmi G27Q 2026 Resmi Hadir, Monitor Gaming 2K 240Hz Harga di Bawah Rp2 Juta
- 8BRA Semarang Gelar Fuso Mosaic Campaign 2026, Dorong Bisnis Pelanggan Melaju Tanpa Henti
- 9Prediksi Skor Persib vs Persik: Adu Strategi Igor Tolic dan Marcos Reina, Mampukah Pangeran Biru Amankan Kemenangan?
- 10Rawapening Run Heritage 2026 Bidik 1.500 Pelari, Angkat Wisata Sejarah Ambarawa





