Jateng

Saat Penjahat Berjalan Bebas: Memahami Makna Paskah dari Sudut Pandang Barabas

Theo Adi Pratama | 3 April 2026, 11:36 WIB
Saat Penjahat Berjalan Bebas: Memahami Makna Paskah dari Sudut Pandang Barabas

JATENG.AKURAT.CO, Ada satu nama yang nyaris tenggelam dalam hiruk-pikuk perayaan Paskah setiap tahunnya.

Namanya Barabas. Seorang teroris, pembunuh, dan pemimpin pemberontakan yang dijatuhi hukuman mati di kayu salib.

Namun, dalam sebuah peristiwa dramatis yang tercatat dalam Injil Lukas pasal 23 ayat 18–19, ribuan orang justru berteriak memilihnya untuk dibebaskan.

Sementara di sisi lain, seorang pria bernama Yesus dari Nazaret—yang dinyatakan tidak bersalah oleh Gubernur Romawi Pontius Pilatus—justru dijatuhi hukuman yang sama.

“Enyahkanlah Orang ini dan lepaskanlah Barabas bagi kami,” teriak massa saat itu.

Barabas, yang namanya dalam bahasa Aram berarti “anak bapa”, adalah simbol ironi terbesar dalam sejarah keselamatan umat manusia.

Artikel ini akan mengupas tuntas siapa sebenarnya Barabas, mengapa pilihan tragis itu terjadi, serta bagaimana kisahnya menjadi cermin bagi setiap kita hari ini.

Bukan hanya sekadar cerita kuno, pertukaran nasib antara Barabas dan Yesus menyimpan pelajaran tentang keadilan, kasih karunia, dan pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab setiap orang: “Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus?”

Baca Juga: Pontius Pilatus di Persimpangan Sejarah: Sosok Kontroversial Dibalik Penyaliban Yesus

Siapa Barabas? Definisi Singkat Tokoh Kontroversial di Balik Paskah

Barabas adalah seorang narapidana yang disebut dalam keempat Injil Kanonik.

Menurut catatan Lukas 23:18–19, ia dijebloskan ke penjara karena dua kejahatan berat: pemberontakan di kota dan pembunuhan.

Dalam konteks Yerusalem abad pertama, pemberontakan melawan kekuasaan Romawi adalah tindakan terorisme politik.

Ia bukan sekadar pencuri kecil, melainkan seorang lestes—istilah Yunani yang sering dipakai untuk menyebut gerilyawan bersenjata yang menggunakan kekerasan.

Markus 15:7 menambahkan bahwa ia bersama para pemberontak lainnya telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan itu.

Dengan kata lain, Barabas adalah ancaman nyata bagi perdamaian Romawi sekaligus momok bagi warga biasa.

Namun, ironisnya, namanya justru lebih harum di mata massa daripada Yesus yang dianggap tidak bersalah.

Tradisi Paskah: Mengapa Satu Narapidana Harus Dibebaskan?

Tradisi membebaskan satu orang hukuman pada perayaan Paskah adalah kebiasaan Romawi yang diadopsi di provinsi Yudea.

Gubernur Pontius Pilatus, yang dilukiskan dalam Injil sebagai sosok yang ragu-ragu, mencoba memanfaatkan tradisi ini untuk menyelamatkan Yesus.

Ia pikir massa tentu akan memilih seorang yang tidak bersalah dan penuh kebaikan daripada seorang teroris terkenal. Namun perhitungan Pilatus meleset.

Para imam kepala dan tua-tua Yahudi telah menghasut orang banyak (Matius 27:20) untuk meminta pembebasan Barabas dan penyaliban Yesus.

Pilatus pun tercengang. Ia sudah menyatakan Yesus tidak bersalah enam kali, tetapi tekanan politik dan teriakan “Salibkan Dia!” akhirnya memaksanya menyerah.

Makna Teologis: Kita Semua Adalah Barabas

Dalam salah satu ironi terbesar sejarah, nama ‘Barabas’ berarti ‘anak bapa’.

Sementara Yesus adalah Anak Bapa yang sejati—Anak Allah. Yesus, Anak Bapa yang tak berdosa, berdiri di posisi Barabas, anak bapa yang penuh dosa, agar Barabas bisa menjadi anak bapa yang diampuni.

Teolog J.C. Ryle dalam Expository Thoughts on the Gospels menulis, “Marilah kita dengan bebas mengaku bahwa, seperti Barabas, kita layak menerima kematian, penghakiman, dan neraka. Tetapi marilah kita berpegang teguh pada kebenaran mulia bahwa Juruselamat yang tak berdosa telah menderita menggantikan kita, dan dengan percaya kepada-Nya, orang yang bersalah dapat pergi bebas.”

Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menegaskan: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Inilah pertukaran terbesar yang pernah terjadi: Yesus diperlakukan seperti Barabas—terkutuk, disalib, mati—agar Barabas (dan setiap kita) diperlakukan seperti Yesus—dibebaskan, dibenarkan, dan dipulihkan.

Manfaat Merenungkan Kisah Barabas

Merenungkan sosok Barabas bukanlah latihan teologis tanpa makna. Ada beberapa manfaat praktis yang bisa kita petik:

  1. Menyadari kedalaman kasih karunia – Bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni. Barabas, seorang pembunuh dan teroris, tetap dikasihi.

  2. Mengoreksi kesombongan rohani – Kita cenderung merasa “tidak seburuk Barabas”, padahal secara moral kita semua telah melanggar hukum Allah (Yakobus 2:10).

  3. Memahami keadilan ilahi – Bahwa Allah tidak mengampuni dengan mengabaikan keadilan, melainkan dengan mengalihkan hukuman kepada Yesus.

  4. Menginspirasi pengampunan nyata – Jika Allah bisa mengampuni Barabas, kita pun dipanggil untuk mengampuni sesama yang bersalah kepada kita.

Risiko dan Kesalahan Umum dalam Memaknai Kisah Barabas

Sayangnya, banyak orang salah memahami kisah ini. Berikut risiko dan kesalahan umum yang sering terjadi:

Kesalahan Umum

Penjelasan & Risiko

Menganggap Barabas hanya tokoh fiksi

Padahal ia disebut dalam empat Injil dan catatan sejarah Romawi tentang kebiasaan Paskah.

Menyalahkan orang Yahudi secara kolektif

Massa yang berteriak dipengaruhi oleh para pemimpin, bukan seluruh bangsa Yahudi. Yesus sendiri adalah orang Yahudi.

Merasa tidak seburuk Barabas sehingga tak butuh pengampunan

Kesombongan ini justru menghalangi seseorang menerima kasih karunia. Semua orang telah berbuat dosa (Roma 3:23).

Memahami pembebasan Barabas sebagai pembenaran atas kekerasan

Tidak. Kisah ini justru menunjukkan bahwa kejahatan tetap jahat, tetapi kasih Allah melampaui kejahatan.

Melupakan bahwa Barabas pun akhirnya harus bertobat

Tidak ada catatan Alkitab tentang pertobatan Barabas, tetapi tradisi gereja awal menyebut ia menjadi percaya.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q: Apakah benar Barabas adalah nama depan atau nama keluarga?
A: “Barabas” lebih merupakan patronimik (nama yang menunjukkan keturunan) dari bahasa Aram Bar-Abba, artinya “anak bapa”. Beberapa naskah kuno bahkan menulis namanya sebagai “Yeshua Bar Abba” (Yesus anak bapa), menambah lapisan ironi.

Q: Mengapa massa lebih memilih Barabas daripada Yesus?
A: Ada beberapa faktor: hasutan para imam kepala, kekecewaan politik karena Yesus bukan mesias yang membebaskan dari Romawi, dan mungkin juga karena Barabas adalah “pahlawan lokal” bagi kelompok anti-Romawi.

Q: Apakah Pilatus benar-benar tidak bersalah seperti ia mencuci tangan?
A: Pilatus secara hukum bertanggung jawab karena ia memiliki wewenang mutlak. Mencuci tangan hanya ritual simbolis yang tidak membebaskannya dari kesalahan moral.

Q: Apa hubungan kisah Barabas dengan Paskah Yahudi?
A: Dalam tradisi Paskah, domba disembelih sebagai kurban penebus. Secara simbolis, Yesus adalah “Anak Domba Allah” yang mati menggantikan Barabas dan semua orang berdosa.

Q: Apakah ada bukti sejarah di luar Alkitab tentang tradisi pembebasan narapidana?
A: Sejarawan Romawi seperti Livy dan Pliny mencatat kebiasaan amnesti pada hari raya tertentu. Prasasti dan papirus juga mengonfirmasi adanya praktik pembebasan tahanan oleh gubernur provinsi.

Penutup dan Pesan Penting

Kisah Barabas bukan sekadar cerita kuno tentang seorang teroris yang beruntung. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah kita masing-masing.

Kita mungkin tidak pernah merampok atau membunuh, tetapi kita semua telah melanggar hukum Allah dalam hati, pikiran, dan tindakan. Dan sama seperti Barabas, kita layak menerima hukuman.

Namun di kayu salib, Yesus mengambil tempat yang seharusnya untuk kita. Ia mati sebagai Barabas agar kita bisa hidup sebagai anak-anak Bapa.

Pertanyaan Pilatus bergema hingga kini: “Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus?” Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan nasib kekal setiap jiwa. Jangan biarkan keramaian dunia membutakan mata dan telinga kita.

Seperti Barabas yang berjalan bebas setelah melihat salib yang seharusnya untuknya, marilah kita merespons dengan iman dan syukur.

Sudahkah Anda merenungkan pertukaran luar biasa ini? Bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang sedang mencari makna Paskah yang lebih dalam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.