Jateng

Mimpi Buruk Pramac Yamaha di Sprint MotoGP Brasil, Razgatlioglu dan Miller Terjun ke Paling Buncit

Theo Adi Pratama | 22 Maret 2026, 21:51 WIB
Mimpi Buruk Pramac Yamaha di Sprint MotoGP Brasil, Razgatlioglu dan Miller Terjun ke Paling Buncit

JATENG.AKURAT.CO, Hari Sabtu (21/3/2026) di Sirkuit Internasional Ayrton Senna menjadi akhir pekan yang sulit bagi Pramac Yamaha.

Meskipun Fabio Quartararo berhasil mencatatkan hasil terbaik Yamaha V4 musim ini dengan finis keenam di sprint race MotoGP Brasil, dua pembalap Pramac justru mengalami mimpi buruk.

Toprak Razgatlioglu dan Jack Miller mengakhiri balapan di posisi paling buncit, masing-masing di urutan 18 dan 19 dari 19 pembalap yang menyelesaikan sprint.

Keduanya tertinggal lebih dari 23 detik dari pemenang sprint, Marc Marquez, dan sekitar 15 detik dari rekan setim mereka, Quartararo.

Perbedaan hasil ini disorot oleh pilihan ban. Sementara Quartararo dan mayoritas pembalap memilih ban belakang kompon soft, Razgatlioglu dan Miller memilih medium.

Namun, direktur tim Pramac, Gino Borsoi, mengakui bahwa meski soft mungkin sedikit memperbaiki situasi, bukan itu akar masalah utama.

"Kami berdua melaporkan kekurangan grip, tidak hanya di belakang—yang memang kami perkirakan dengan ban medium—tetapi juga di depan," ujar Borsoi. "Itu sesuatu yang harus kami analisis lebih dalam."

Baca Juga: MotoGP Brasil 2026: Jadwal Lengkap FP1, Kualifikasi, Sprint, dan Balapan

Start Buruk dan Grip yang Hilang Jadi Penyebab Utama

Razgatlioglu, yang berhasil lolos langsung ke Q2 dan memulai sprint dari posisi ke-12, langsung kehilangan segalanya saat lampu padam.

"Saat saya melepas kopling, rasanya seperti kehilangan tenaga," ungkap pembalap asal Turki itu.

"Ini masalah yang mirip dengan Thailand, tetapi kali ini lebih parah. Saya langsung terlempar ke belakang dan harus berjuang dari posisi 21 di lap pertama."

Meski ia berusaha bangkit, kesulitan untuk menyalip dan kurangnya grip membuatnya tidak bisa mengejar ketertinggalan.

Jack Miller, yang start dari posisi 18, juga mengalami nasib serupa.

"Dari awal, saya sudah berjuang melawan understeer yang kuat. Keseimbangan motor tidak berada di titik yang kami butuhkan," kata Miller. Ia menyebut bahwa perasaan dengan ban depan tidak ideal.

"Saat saya mencoba mendorong, ban depan terasa mulai mengunci, jadi sangat sulit untuk mengelola balapan sejauh ini."

Kecepatan Puncak Jadi Kelemahan Tambahan

Selain masalah handling, kecepatan tertinggi juga menjadi titik lemah Yamaha V4.

Razgatlioglu mencatatkan puncak kecepatan 337,5 km/jam, yang merupakan yang paling lambat di seluruh grid.

Sebagai perbandingan, Marc Marquez dengan Ducati melesat hingga 348,3 km/jam—selisih lebih dari 10 km/jam yang sangat terasa di trek lurus.

Kelemahan ini membuat upaya menyalip semakin sulit, terutama setelah start yang buruk membuat mereka terperosok jauh ke belakang.

Pramac Yamaha Kumpulkan Data, Target Perbaikan di Balapan Utama

Meski hasil sprint sangat mengecewakan, tim Pramac mencoba melihat sisi positif.

Borsoi menegaskan bahwa mereka sekarang memiliki data berharga untuk bekerja.

"Pada sisi positif, kami memiliki data yang sangat berharga untuk dianalisis. Itu sangat penting pada tahap proyek ini. Kami akan fokus memahami masalah dan berusaha membuat langkah maju untuk balapan besok," ujarnya.

Miller sendiri berharap perubahan cuaca bisa membantu.

"Prakiraan mengatakan mungkin akan hujan untuk balapan besok, dan jujur, itu mungkin membantu dalam jangka pendek. Tapi target kami tetap kompetitif di semua kondisi, terutama di trek kering, jadi kami perlu fokus meningkatkan keseimbangan dan feeling motor," tambah pembalap Australia itu.

Razgatlioglu menegaskan komitmennya untuk terus berjuang.

"Saya akan memberikan yang terbaik lagi, seperti biasa, dan kami akan mencoba kembali lebih kuat. Jika kondisi berubah, itu bisa membantu, tetapi bagaimanapun kami harus memahami masalah kami dan melangkah maju," tutupnya.

FAQ Seputar Performa Pramac Yamaha di Sprint

Q: Mengapa Razgatlioglu memilih ban medium padahal mayoritas pembalap memilih soft?
A: Keputusan itu diambil dengan pertimbangan balapan utama hari Minggu, dengan harapan ban lebih awet. Namun di sprint yang pendek, medium terbukti kurang optimal.

Q: Apakah masalah start Razgatlioglu terjadi karena motor atau kesalahan teknis?
A: Menurut pernyataannya, masalahnya mirip dengan Thailand di mana tenaga terasa hilang saat kopling dilepas. Tim sedang menyelidiki penyebabnya.

Q: Seberapa besar selisih kecepatan puncak Yamaha dengan Ducati?
A: Razgatlioglu mencatat 337,5 km/jam, sementara Marc Marquez dengan Ducati mencapai 348,3 km/jam—selisih lebih dari 10 km/jam.

Q: Apa harapan Pramac untuk balapan utama?
A: Tim berharap data dari sprint dapat membantu perbaikan setelan. Jika hujan turun, mereka mungkin mendapat keuntungan karena semua pembalap memulai dari awal lagi dalam hal adaptasi trek basah.

Q: Apakah Jack Miller merasa motor bisa diperbaiki?
A: Miller optimistis bahwa dengan analisis data yang tepat, mereka bisa menemukan arah setelan yang lebih baik untuk balapan utama.

Sprint race di Goiania menjadi babak yang sulit bagi Pramac Yamaha.

Namun, dengan komitmen untuk menggali data dan perbaikan setelan, Razgatlioglu dan Miller masih punya kesempatan untuk membalikkan keadaan di balapan utama.

Apakah hujan akan turun dan membantu mereka? Atau justru Yamaha bisa menemukan solusi untuk meningkatkan grip dan kecepatan? Saksikan balapan utama MotoGP Brasil, Minggu malam pukul 01.00 WIB, hanya di Vidio.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.