Resmi: F1 Batalkan GP Bahrain dan Saudi Arabia Akibat Perang di Timur Tengah

JATENG.AKURAT.CO, Formula 1 dan badan pengatur FIA secara resmi mengumumkan pembatalan dua seri balapan yang dijadwalkan berlangsung di Timur Tengah pada April 2026. Grand Prix Bahrain (12 April) dan Grand Prix Saudi Arabia (19 April) batal digelar menyusul eskalasi konflik bersenjata di kawasan tersebut.
Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan matang dan konsultasi dengan seluruh pemangku kepentingan, dengan mengutamakan faktor keselamatan seluruh personel dan komunitas F1.
Pengumuman resmi disampaikan pada Minggu (15/3/2026) dini hari WIB, bertepatan dengan akhir pekan digelarnya Grand Prix China di Sirkuit Shanghai .
Pembatalan ini merupakan dampak langsung dari memburuknya situasi geopolitik di kawasan Teluk. Konflik meletus setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta lebih dari seribu warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah negara, termasuk Bahrain yang menjadi lokasi pangkalan angkatan laut AS dan Arab Saudi yang menjadi rumah bagi infrastruktur minyak vital dunia.
Akibatnya, beberapa negara menutup wilayah udaranya, mengganggu rute penerbangan kargo dan personel F1 sejak GP Australia .
Pertimbangan Logistik dan Alternatif yang Buntu
F1 dan FIA menegaskan bahwa berbagai opsi pengganti telah dijajaki, namun tidak ada yang memungkinkan untuk diwujudkan.
Sirkuit Imola di Italia dan Portimao di Portugal sempat dipertimbangkan, demikian pula rencana menggelar balapan kedua di Jepang.
Namun, kompleksitas logistik dalam menyiapkan balapan dalam waktu singkat, sulitnya menjual tiket, minimnya peluang mendapatkan biaya penyelenggaraan yang signifikan, serta kelelahan personel membuat opsi tersebut dinyatakan mustahil.
Dampaknya, kalender F1 2026 yang semula direncanakan terdiri dari 24 seri, kini menyusut menjadi 22 balapan.
"Dengan kalender yang sudah sangat padat, tidak ada opsi untuk menyisipkan kembali balapan Bahrain atau Saudi ke akhir musim 2026," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari laporan Motorsport.com.
Keputusan ini juga membatalkan seluruh rangkaian seri pendukung, yaitu balapan Formula 2, Formula 3, dan F1 Academy yang sedianya digelar di kedua sirkuit tersebut .
Pernyataan Resmi: Prioritas Utama adalah Keselamatan
CEO Formula 1, Stefano Domenicali, menyatakan bahwa keputusan ini sangat sulit namun merupakan langkah yang tepat.
"Meskipun ini adalah keputusan yang sulit, sayangnya ini adalah langkah yang tepat pada tahap ini mengingat situasi terkini di Timur Tengah," ujar Domenicali.
Ia juga berterima kasih kepada FIA serta para promotor atas dukungan dan pengertian mereka, dan berharap dapat kembali ke Bahrain dan Saudi Arabia segera setelah situasi memungkinkan .
Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, menegaskan komitmen organisasinya terhadap keselamatan.
"FIA akan selalu mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan komunitas dan kolega kami. Setelah pertimbangan matang, kami mengambil keputusan ini dengan tanggung jawab itu," kata Ben Sulayem.
Ia juga menyampaikan harapannya agar situasi di kawasan segera kondusif dan mengucapkan terima kasih kepada para promotor dan mitra atas pendekatan kolaboratif yang konstruktif .
Dampak Finansial dan Kalender yang Berubah
Pembatalan ini dipastikan akan menimbulkan pukulan finansial bagi F1 dan tim. Bahrain dan Saudi Arabia termasuk penyelenggara dengan biaya hosting termahal di kalender, dan diperkirakan dampak finansialnya mencapai lebih dari 100 juta poundsterling.
Pendapatan tersebut biasanya dibagi antara 11 tim dan F1 sendiri sesuai struktur pendapatan yang kompleks . CEO McLaren Racing, Zak Brown, menyikapi hal ini dengan legawa.
"Mengingat apa yang terjadi, itu (dampak finansial) adalah hal terkecil yang kami khawatirkan. Kami tidak terganggu. Jika memang ada sedikit dampak finansial, biarlah," ujarnya .
Dengan batalnya dua seri, kalender F1 akan memiliki jeda selama lima pekan. Setelah GP Jepang pada 27-29 Maret, seri selanjutnya baru akan bergulir pada GP Miami, 1-3 Mei 2026.
Jeda ini memberi tim waktu ekstra untuk mencerna hasil tiga seri pertama dan mengembangkan mobil, serta memberi ruang diskusi untuk penyesuaian regulasi mesin baru yang menuai kritik .
Reaksi dari Paddock dan Dampak ke Ajang Lain
Dari dalam paddock Shanghai, pembalap Mercedes Kimi Antonelli yang meraih pole position untuk GP China menyampaikan simpatinya.
"Pikiran saya, dan saya rasa juga Lewis dan George, tertuju pada mereka yang menderita akibat situasi ini. F1 dan FIA akan menangani situasi dengan cara terbaik untuk menjamin keselamatan semua orang," kata Antonelli .
Dampak konflik juga merembet ke ajang balap lain. Kejuaraan Ketahanan Dunia (WEC) telah lebih dulu menunda seri pembuka di Qatar dari 28 Maret menjadi 24 Oktober.
MotoGP, yang dijadwalkan balapan di Doha pada akhir pekan yang sama dengan GP Bahrain, juga tengah berupaya menjadwal ulang serinya .
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Pembatalan GP Bahrain dan Saudi
Q: Apakah balapan di Bahrain dan Saudi akan dijadwalkan ulang di akhir tahun?
A: Tidak. F1 memastikan tidak akan ada pengganti untuk kedua seri ini. Kalender 2026 akan tetap dengan 22 balapan karena tidak ada celah untuk menjadwalkan ulang di akhir musim yang sudah padat .
Q: Apa penyebab langsung pembatalan ini?
A: Eskalasi perang setelah serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan Iran ke sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain dan Arab Saudi. Keamanan personel dan logistik menjadi pertimbangan utama .
Q: Bagaimana nasib seri pendukung seperti F2 dan F3?
A: Semua seri pendukung yaitu Formula 2, Formula 3, dan F1 Academy yang dijadwalkan di Bahrain dan Saudi juga ikut dibatalkan .
Q: Apakah GP Qatar dan Abu Dhabi di akhir musim juga terancam?
A: F1 masih berharap kedua seri di akhir musim (Qatar 29 November dan Abu Dhabi 6 Desember) dapat berjalan sesuai jadwal, tergantung perkembangan situasi keamanan di kawasan .
Keselamatan di Atas Segalanya
Keputusan F1 membatalkan dua seri di Timur Tengah menunjukkan bahwa aspek kemanusiaan dan keselamatan tidak dapat ditawar. Di tengah konflik bersenjata yang meluas, logistik dan keamanan ribuan personel yang bekerja di paddock menjadi prioritas mutlak.
Meskipun berdampak finansial signifikan dan mengubah dinamika kejuaraan, langkah ini mendapat dukungan luas dari seluruh elemen Formula 1.
Kini, dengan jeda lima pekan yang tak terduga, tim-tim akan memanfaatkan waktu untuk mengembangkan mobil dan menyusun strategi baru.
Semoga situasi di Timur Tengah segera kondusif, dan kita bisa kembali menikmati aksi jet darat di sirkuit-sirkuit kebanggaan kawasan tersebut. Bagikan artikel ini untuk terus mengikuti perkembangan terkini dunia Formula 1.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







