Royston Drenthe hingga Moha Ramos: Kisah 9 Wonderkid yang Gagal Bersinar di Madrid

JATENG.AKURAT.CO, Real Madrid, klub raksasa Spanyol, selalu identik dengan pembelian pemain bintang dunia. Namun, di balik gemerlap nama-nama besar seperti Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, atau Jude Bellingham, ada banyak pemain muda berbakat yang direkrut dengan harapan tinggi, tetapi akhirnya tenggelam dan terlupakan.
Mereka adalah para wonderkid yang pernah dianggap sebagai masa depan klub, namun kenyataan berkata lain. Dari Royston Drenthe yang sempat naik daun hingga Moha Ramos yang hanya populer di game Football Manager, nasib mereka menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Berikut adalah sembilan wonderkid Real Madrid yang akhirnya sirna dari ingatan publik.
1. Royston Drenthe: Dari Idola Menjadi Kelana
Waktu seakan berputar begitu cepat. Rasanya baru kemarin Real Madrid mengontrak Drenthe yang berusia 20 tahun bersama rekan senegaranya, Wesley Sneijder. Pemain sayap asal Belanda itu diharapkan menjadi bintang masa depan.
Namun, setelah lima musim di klub dengan hanya 65 penampilan dan empat gol, kariernya justru menurun drastis. Ia berpindah-pindah ke 12 klub berbeda, dari Asia hingga Eropa, sebelum akhirnya pensiun.
Kini di usia 36 tahun, Drenthe terakhir kali tercatat bermain untuk Real Murcia di Divisi Segunda pada musim 2021/2022 .
2. Omar Mascarell: Debut di Era Mourinho, Kini di Tim Degradasi
Omar Mascarell adalah salah satu dari 16 lulusan akademi yang menjalani debut di era Jose Mourinho. Ia bermain di laga terakhir Mourinho sebagai pelatih Madrid pada 2013. Setelah itu, ia dipinjamkan ke Derby County dan Sporting Gijon, sebelum akhirnya dijual pada 2016.
Kini, gelandang berusia 32 tahun itu bermain untuk Elche, sebuah klub yang justru terdegradasi dari La Liga musim ini .
3. Mink Peeters: Nama Bagus, Karier Merana
Meski memiliki nama yang menjanjikan, karier pemain asal Belanda ini justru kurang cemerlang. Peeters direkrut dari akademi Ajax ke Real Madrid dengan reputasi mengesankan di tim muda (Juvenil A).
Ia mendapat kontrak profesional tiga tahun, tetapi hanya dipinjamkan ke beberapa klub sebelum akhirnya hengkang ke Serbia. Saat ini, ia berada di FC Volendam, klub Belanda, namun tanpa kontrak sejak 2021 .
4. Philipp Lienhart: Hanya 12 Menit di Tim Utama
Bek tengah asal Austria ini awalnya datang dengan status pinjaman dari Rapid Wien. Performanya di tim B Madrid membuatnya dikontrak profesional dengan biaya 800.000 euro. Namun, satu-satunya penampilannya di tim utama hanyalah sebagai pengganti selama 12 menit saat Madrid menang 3-1 atas Cadiz di Copa del Rey 2015.
Ia kemudian dipinjamkan ke Freiburg dan akhirnya dipermanenkan hingga saat ini, membangun karier stabil di Bundesliga meski tak lagi bersama Madrid .
5. Augusto Galvan: Dari Sao Paulo ke Serie D Brasil
Real Madrid mengontrak remaja Brasil ini dengan transfer 3 juta euro dari Sao Paulo pada Februari 2017. Sayangnya, gelandang serang itu tak pernah mampu memenuhi ekspektasi.
Ia hanya tampil untuk tim B Madrid dan dipinjamkan ke beberapa klub berbeda. Tahun lalu, ia hengkang dan kini kembali ke Brasil, tetapi harus bermain di kasta terendah, Serie D, bersama klub Caxias .
6. Oscar Rodriguez: Hanya Sekali Tampil di Copa del Rey
Lahir dan besar di dekat Talavera de la Reina, Oscar Rodriguez bergabung dengan akademi Madrid sejak usia 10 tahun pada 2009. Ia menghabiskan lebih dari 11 tahun di klub dan bahkan dipanggil ke tim nasional Spanyol senior oleh Luis Enrique pada 2020.
Namun, ironisnya, ia hanya tampil satu kali di Copa del Rey untuk tim utama. Ia hengkang ke Sevilla pada 2020, dan musim lalu dipinjamkan ke Celta Vigo .
7. Fran Garcia: Menawan di Rayo, Bertahan di Rayo
Fran Garcia menempa kemampuannya di akademi Madrid sejak usia 14 tahun. Ia tampil lebih dari 50 kali untuk tim B antara 2018 dan 2020, namun hanya membuat satu penampilan di tim utama, itu pun di Copa del Rey.
Saat dipinjamkan ke Rayo Vallecano pada 2020/2021, ia tampil begitu menawan hingga akhirnya memutuskan bertahan di Rayo dengan status permanen .
8. Hugo Vallejo: Hanya 18 Bulan di Madrid
Vallejo bergabung dengan Real Madrid pada Januari 2020 dan sempat dipuji sebagai wonderkid berbakat. Ia mengembangkan permainannya di tim B Madrid, lalu dipinjamkan ke Deportivo La Coruna.
Namun, ia hanya bertahan 18 bulan di Madrid. Pada 2021, ia bergabung dengan Real Valladolid, tetapi gagal menembus tim utama dan akhirnya dipinjamkan ke Ponferradina di Segunda Division .
9. Moha Ramos: Bintang Football Manager yang Meredup
Para pencinta game Football Manager (FM) pasti ingat nama Moha Ramos. Sebagai prospek lulusan akademi Real Madrid, ia selalu menjadi incaran di dunia virtual.
Namun, di kehidupan nyata, segalanya berbeda. Kiper ini dipinjamkan ke Birmingham City dan Real Union, tetapi hampir tak pernah bermain.
Ia kemudian pindah ke Rayo Cantabria (tim B Racing Santander) pada 2021. Kini, di usia 23 tahun, ia bermain untuk Las Palmas B, dan peluangnya untuk kembali ke La Liga tampaknya sangat berat .
FAQ Seputar Wonderkid Real Madrid
Q: Apa kriteria wonderkid Real Madrid yang gagal?
A: Mereka adalah pemain muda yang direkrut dengan ekspektasi tinggi, baik dari akademi sendiri (La Fabrica) atau dari klub lain, tetapi gagal menembus tim utama secara reguler karena berbagai faktor, seperti persaingan ketat, cedera, atau performa yang tak sesuai harapan.
Q: Apakah ada di antara mereka yang sukses setelah hengkang dari Madrid?
A: Philipp Lienhart cukup sukses di Freiburg (Bundesliga), sementara Fran Garcia menjadi pemain penting di Rayo Vallecano. Oscar Rodriguez sempat bersinar di Celta Vigo meski akhirnya kembali ke Sevilla.
Q: Mengapa banyak wonderkid gagal di Real Madrid?
A: Tekanan untuk tampil di klub sebesar Madrid sangat tinggi. Selain itu, persaingan dengan pemain bintang dunia membuat kesempatan bermain bagi pemain muda menjadi sangat terbatas. Kebijakan peminjaman yang tidak selalu tepat juga kerap menjadi faktor.
Q: Apa yang terjadi dengan akademi Real Madrid saat ini?
A: La Fabrica tetap produktif melahirkan talenta. Beberapa nama seperti Nico Paz atau Gonzalo García saat ini mulai mendapat perhatian, tetapi jalan mereka ke tim utama tetap berat.
Pelajaran Penting
Kisah sembilan wonderkid ini menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah industri yang kejam. Bakat saja tidak cukup; dibutuhkan mental baja, kerja keras, dan sedikit keberuntungan untuk bisa bertahan di klub sekelas Real Madrid.
Namun, di balik kegagalan mereka, ada pelajaran berharga: bahwa tidak semua pemain harus bersinar di klub besar untuk tetap berkarier. Mereka tetap berjuang, meski di klub-klub kecil, dan itu patut dihargai.
Real Madrid sendiri, sebagai klub terbesar, akan terus memproduksi dan merekrut talenta baru, berharap suatu hari nanti salah satu dari mereka akan menjadi legenda, bukan sekadar nama yang terlupakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










