Jateng

Di Tengah Kepungan Rob, Harapan Ngadiyanto Akhirnya Berlabuh di Rumah Apung

Arixc Ardana | 16 Agustus 2026, 13:32 WIB
Di Tengah Kepungan Rob, Harapan Ngadiyanto Akhirnya Berlabuh di Rumah Apung
Bagi Ngadiyanto, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah simbol harapan yang selama bertahun-tahun nyaris tenggelam bersama daratan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

JATENG.AKURAT.CO, DEMAK – Pagi itu, air laut masih menggenangi sebagian wilayah Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Di tempat yang bagi banyak orang mungkin sulit disebut sebagai permukiman, Ngadiyanto berdiri menatap rumah apung yang kini menjadi tempat tinggal keluarganya.

Wajahnya tampak tenang. Berbeda dengan belasan tahun lalu, ketika setiap datang angin kencang dan gelombang pasang, dirinya harus dihantui kecemasan akan keselamatan istri dan keempat anaknya.

Bagi Ngadiyanto, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah simbol harapan yang selama bertahun-tahun nyaris tenggelam bersama daratan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Di momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Provinsi Jawa Tengah, harapan itu akhirnya menemukan tempat berlabuh.

Melalui program bantuan rumah apung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Bank Jateng, Ngadiyanto kini memiliki hunian yang lebih aman dan layak di tengah ancaman rob yang tak kunjung usai.

Saat Laut Mulai Mengambil Daratan

Jauh sebelum rob menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Sayung, Ngadiyanto hidup seperti kebanyakan masyarakat pesisir lainnya.

Ia bekerja sebagai petani. Tanah yang dimilikinya masih subur dan bisa ditanami. Kehidupan berjalan sederhana, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Semua berubah ketika air laut mulai masuk ke wilayah mereka pada tahun 2006.

Awalnya hanya genangan sesekali. Namun dari tahun ke tahun, air laut datang semakin sering dan semakin tinggi. Perlahan, sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan berubah menjadi lahan yang tidak lagi bisa ditanami.

Kondisi tersebut memaksa Ngadiyanto beradaptasi. Ia beralih profesi menjadi petambak udang dengan harapan tetap bisa menyambung hidup dari kawasan pesisir.

Namun kenyataan tidak semudah yang dibayangkan.

Abrasi terus menggerus garis pantai. Daratan yang dulu menjadi tempat warga beraktivitas perlahan hilang ditelan laut. Pada sekitar tahun 2011, perubahan itu semakin nyata. Kampung yang dulu ramai dengan aktivitas masyarakat berubah wajah.

Tempat bermain anak-anak, halaman rumah, hingga jalan yang biasa dilalui warga perlahan tenggelam. Laut seakan mengambil kembali ruang hidup yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Membesarkan Anak di Tengah Ketidakpastian

Di tengah kondisi yang terus memburuk, Ngadiyanto dan istrinya, Sri Ningsih, berjuang membesarkan empat anak mereka.

Bukan perkara mudah menjalani kehidupan ketika setiap musim pasang membawa ancaman baru.

Ketika cuaca buruk datang, kekhawatiran selalu menyelimuti keluarga kecil tersebut. Air laut yang semakin tinggi bisa datang kapan saja.

Dalam situasi tertentu, mereka bahkan harus meninggalkan rumah demi keselamatan keluarga.

“Kalau ada badai, anak-anak saya bawa mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman,” tutur Ngadiyanto.

Kalimat sederhana itu menggambarkan beratnya kehidupan yang dijalani selama bertahun-tahun.

Bagi keluarga ini, mengungsi bukanlah peristiwa luar biasa. Itu telah menjadi bagian dari rutinitas yang harus dilakukan ketika alam menunjukkan kekuatannya.

Malam-malam panjang diiringi suara angin dan deburan ombak menjadi pengalaman yang akrab bagi mereka. Di balik ketegaran yang ditunjukkan, tersimpan harapan sederhana yang terus dijaga: memiliki rumah yang aman untuk keluarga.

Harapan yang Tak Pernah Tenggelam

Belasan tahun hidup berdampingan dengan rob membuat keluarga Ngadiyanto terbiasa menghadapi berbagai keterbatasan.

Air laut menjadi pemandangan sehari-hari. Aktivitas dilakukan dengan menyesuaikan kondisi pasang surut. Bahkan tidur pun sering kali harus menunggu lantai rumah mengering dari genangan.

Meski demikian, mereka tidak pernah kehilangan harapan.

Harapan itulah yang akhirnya terjawab melalui program bantuan rumah apung yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Jateng.

Rumah apung yang kini ditempati menjadi jawaban atas kebutuhan mendasar yang selama ini sulit mereka dapatkan: rasa aman.

Berdiri di atas konstruksi yang dirancang untuk beradaptasi dengan kondisi rob, rumah tersebut memberikan ruang hidup yang lebih nyaman bagi keluarga Ngadiyanto.

Kini mereka tidak lagi sekadar bertahan menghadapi air laut, tetapi mulai menata kembali kehidupan dengan optimisme baru.

Kebahagiaan Sri Ningsih

Bagi Sri Ningsih, rumah apung yang kini mereka tempati memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar bangunan fisik.

Rumah itu menjadi simbol perjuangan panjang keluarganya menghadapi rob selama bertahun-tahun.

Ia masih mengingat bagaimana sulitnya menjalani aktivitas sehari-hari ketika rumah selalu tergenang air. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memengaruhi tumbuh kembang anak-anak mereka.

Kini situasinya berbeda.

Anak-anak dapat bermain dengan lebih nyaman. Mereka juga memiliki tempat yang lebih layak untuk belajar dan beristirahat.

“Sekarang punya rumah apung, rasanya senang sekali. Anak-anak bisa nyaman bermain dan belajar. Dulu kan kalau mau tidur harus menunggu kering dulu, sekarang sudah tidak lagi,” ungkap Sri Ningsih.

Ucapan itu menggambarkan kebahagiaan yang mungkin sulit diukur dengan angka. Sebuah rasa lega yang lahir setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian.

Wujud Kepedulian untuk Warga Pesisir

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, mengatakan bantuan rumah apung merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadirkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat yang terdampak rob dan abrasi.

Program tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di kawasan pesisir utara Jawa Tengah, khususnya di wilayah Sayung, Demak.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, pembangunan rumah apung terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup di tengah ancaman rob.

Pada tahun 2025, sebanyak tiga unit rumah apung dibangun melalui program CSR Bank Jateng dan Pemerintah Kabupaten Demak untuk Mulyono, Romani, dan Muslim.

Program tersebut kemudian berlanjut pada 2026 dengan pembangunan tiga unit rumah apung melalui CSR Bank Jateng yang diperuntukkan bagi Ngadiyanto, Krisma, dan Rokani.

Selain itu, sembilan unit rumah apung lainnya sedang dibangun melalui APBD Murni 2026, sementara delapan unit tambahan direncanakan melalui APBD Perubahan 2026.

Ketika Rumah Menjadi Simbol Harapan

Di usia ke-81 tahun Jawa Tengah, kisah Ngadiyanto menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu berbicara tentang gedung megah atau infrastruktur besar.

Kadang, pembangunan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: sebuah rumah yang membuat keluarga merasa aman.

Di Desa Timbulsloko, ketika daratan terus terkikis dan laut perlahan mengambil ruang hidup masyarakat, rumah apung menjadi simbol bahwa harapan tidak harus ikut tenggelam.

Bagi Ngadiyanto dan keluarganya, rumah baru itu bukan hanya tempat berteduh dari panas dan hujan. Rumah itu adalah bukti bahwa di tengah ujian panjang yang mereka hadapi, masih ada tangan yang hadir untuk membantu mereka bangkit.

Dan di atas rumah yang mengapung di tengah kepungan rob itu, sebuah harapan baru kini tumbuh untuk masa depan yang lebih baik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.