Jateng

Retakan Rumah Warga Tinjomoyo Kian Parah, 19 Hunian Diduga Terdampak Dua Proyek Besar di Gombel

Muhammad Husni Mushonifi | 11 Juni 2026, 21:50 WIB
Retakan Rumah Warga Tinjomoyo Kian Parah, 19 Hunian Diduga Terdampak Dua Proyek Besar di Gombel

JATENG.AKURAT.CO, Sedikitnya 19 rumah warga di RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, dilaporkan mengalami keretakan yang semakin parah dalam beberapa bulan terakhir. Warga menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas dua proyek besar yang sedang berlangsung di kawasan Gombel, yakni perbaikan Jalan Gombel Lama dan pematangan lahan untuk pembangunan kawasan komersial Pakuwon.

Selain keretakan bangunan, warga juga mengeluhkan debu dan kebisingan yang muncul hampir setiap hari selama pekerjaan berlangsung. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan sekaligus memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Ketua RT 06 RW 05 Tinjomoyo, Tugimin, mengatakan hingga saat ini terdapat 19 rumah yang dihuni oleh 16 kepala keluarga terdampak kerusakan. Data tersebut telah disampaikan kepada pihak Kelurahan Tinjomoyo untuk ditindaklanjuti.

"Kami berharap ada perbaikan atau kompensasi atas kerusakan rumah warga. Dampak yang dirasakan bukan hanya keretakan bangunan, tetapi juga debu dari proyek yang sangat mengganggu kenyamanan warga," ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, kerusakan yang awalnya hanya berupa retakan halus kini mengalami perubahan signifikan. Bahkan, beberapa retakan disebut sudah mencapai ukuran sentimeter.

"Sebelum ada proyek itu retakannya hanya milimeter, sekarang sampai sentimeter. Bahkan di rumah Pak Parjono ada retakan yang bisa dimasuki jari tangan," ungkap Tugimin.

Ia menambahkan, pihak pelaksana proyek telah melakukan pendataan terhadap rumah-rumah terdampak. Dokumentasi berupa foto dan sketsa bangunan juga telah dibuat sebagai bagian dari proses identifikasi awal.

Salah seorang warga terdampak, Parjono (70), mengaku rumahnya memang pernah mengalami retakan kecil karena berada di kawasan dengan karakteristik tanah bergerak. Namun, kondisi tersebut disebut semakin memburuk sejak dua proyek berjalan bersamaan.

"Sebelumnya hanya garis-garis kecil. Sekarang retakannya semakin lebar dan semakin parah. Saya jadi khawatir karena temboknya mulai remuk," katanya.

Retakan ditemukan di berbagai bagian rumah, mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga area belakang bangunan. Tidak hanya itu, beberapa bagian lantai juga dilaporkan mengalami penggelembungan.

Parjono mengaku sering merasakan getaran terutama saat musim hujan. Aktivitas proyek yang berlangsung hingga malam hari juga disebut membuat warga semakin waswas.

"Kalau malam sekitar jam 01.00 dini hari pas musim hujan itu sering terasa getaran dan terdengar suara krek-krek. Besoknya saya langsung cek ada keretakan baru atau tidak," tuturnya.

Kerusakan serupa juga dialami rumah anaknya yang berada tepat di samping kediamannya. Pola retakan yang muncul disebut hampir sama dengan yang terjadi di rumah Parjono.

Selain persoalan bangunan, warga juga merasakan dampak ekonomi akibat penutupan total Jalan Gombel Lama. Menurut Tugimin, sejumlah pelaku usaha mikro dan pedagang yang selama ini bergantung pada lalu lintas kendaraan mengalami penurunan aktivitas usaha.

Menanggapi keluhan warga, Kepala Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menjelaskan bahwa saat ini memang terdapat dua pekerjaan fisik yang berlangsung bersamaan di kawasan Gombel Lama.

Pekerjaan pertama adalah perbaikan Jalan Gombel Lama yang merupakan ruas jalan nasional dan dikerjakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DI Yogyakarta. Sementara pekerjaan kedua berupa pematangan lahan di sisi barat jalan yang dipersiapkan untuk pembangunan kawasan komersial Pakuwon.

Ferry menegaskan bahwa aktivitas yang dilakukan saat ini masih sebatas pematangan lahan dan penguatan stabilitas tanah, belum memasuki tahap pembangunan gedung.

"Jadi yang sekarang dilaksanakan itu perbaikan jalan dan proses pematangan lahan, bukan proses pembangunan mal," tegasnya.

Untuk mengantisipasi potensi pergerakan tanah, Pemerintah Kota Semarang bersama pihak terkait telah melakukan pemantauan secara berkala menggunakan sensor khusus yang dipasang di sejumlah titik kawasan Gombel.

Menurut Ferry, selama dua tahun terakhir telah dipasang perangkat inclinometer dan piezometer pada 20 titik pemantauan guna mendeteksi pergerakan tanah, mengukur muka air tanah, serta memantau tekanan fluida di dalam tanah.

"Selama dua tahun terakhir, kawasan Gombel Lama telah dipasangi sensor inclinometer dan piezometer di 20 titik pantau untuk mendeteksi pergerakan tanah serta mengukur muka air tanah dan tekanan fluida," jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan dua pekerjaan secara paralel dilakukan untuk mengintegrasikan sistem drainase jalan nasional dengan konstruksi pengamanan lereng yang sedang dibangun. Pemantauan melalui sensor tersebut akan terus dilakukan guna mendeteksi potensi pergerakan tanah lebih dini dan mencegah dampak yang lebih besar bagi lingkungan sekitar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.