Jateng

Menjaga Gombel dari Ancaman Longsor, Ikhtiar Distaru Kota Semarang Wujudkan Harapan Warga

Muhammad Husni Mushonifi | 4 Juni 2026, 19:13 WIB
Menjaga Gombel dari Ancaman Longsor, Ikhtiar Distaru Kota Semarang Wujudkan Harapan Warga

JATENG.AKURAT.CO, Di balik hiruk-pikuk alat berat yang terlihat bekerja di kawasan Gombel Lama, tersimpan sebuah upaya panjang yang selama ini nyaris tak terlihat publik. Bukan pembangunan pusat perbelanjaan yang sedang berlangsung, melainkan pekerjaan besar untuk menjaga lereng perbukitan agar tetap aman bagi ribuan warga yang tinggal di sekitarnya.

Rabu (3/6/2026), Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang bersama Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung melakukan inspeksi lapangan di area perbaikan Jalan Gombel Lama dan lokasi rencana pembangunan kawasan komersial Pakuwon. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengawasan terpadu terhadap dua proyek yang berada berdampingan di koridor strategis tersebut.

Di satu sisi, pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta tengah melakukan perbaikan Jalan Gombel Lama yang merupakan ruas jalan nasional. Di sisi lain, pihak swasta sedang melakukan pematangan lahan sebagai tahap awal penguatan stabilitas tanah sebelum pembangunan kawasan komersial dimulai.

Bagi sebagian warga sekitar, keberadaan alat berat sempat memunculkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap kestabilan lereng yang selama ini dikenal rawan pergerakan tanah. Namun, hasil kajian para ahli justru menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk mengurangi risiko tersebut.

Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ir. Ferry Kuntoaji, ST, menjelaskan bahwa pengawasan terhadap kawasan Gombel Lama sebenarnya telah berlangsung selama dua tahun terakhir dengan dukungan teknologi pemantauan geoteknik modern.

“Dalam dua tahun terakhir kawasan Gombel Lama telah terpasang sensor inclinometer dan piezometer pada 20 titik pantau untuk mendeteksi pergerakan tanah serta mengukur muka air tanah dan tekanan fluida. Sensor monitoring ini dipantau dan dianalisis secara ketat secara periodik setiap dua minggu sekali, sehingga deformasi sekecil apa pun pada lapisan tanah terdalam dapat langsung terdeteksi dan diantisipasi sejak dini sebelum memicu pergerakan yang lebih masif,” ujar Ferry Kuntoaji.

Ia menegaskan bahwa aktivitas yang saat ini berlangsung masih berupa proses pematangan lahan dan penguatan lereng, bukan pembangunan mal sebagaimana yang banyak dipersepsikan masyarakat.

“Yang sekarang dilaksanakan adalah proses pematangan lahan, bukan proses pembangunan mal,” tegasnya.

Berdasarkan hasil kajian geoteknik yang dilakukan para ahli selama dua tahun terakhir, diketahui bahwa salah satu faktor utama pemicu pergerakan tanah di kawasan Gombel adalah tingginya infiltrasi air hujan yang bertemu dengan lapisan clay shale di bawah permukaan tanah. Karakteristik material tersebut sangat rentan terhadap air dan dapat memicu pergeseran lereng apabila tidak ditangani dengan tepat.

Karena itu, sistem penguatan lereng dirancang secara khusus melalui pembangunan tujuh lapis dinding penahan tanah menggunakan metode borpile dengan kedalaman mencapai 35 hingga 40 meter. Metode ini dipilih karena dinilai lebih aman dan minim getaran dibanding teknik konstruksi lainnya.

Tim ahli memastikan bahwa aktivitas alat berat yang terlihat saat ini murni digunakan untuk pemasangan struktur soldier pile atau dinding penahan tanah yang berfungsi sebagai sabuk pengaman lereng. Kehadirannya bukan hanya untuk melindungi area pengembangan kawasan komersial, tetapi juga menjaga keamanan permukiman warga dan infrastruktur publik yang berada di sekitar lereng Gombel.

Bagi warga yang tinggal di kawasan perbukitan tersebut, ancaman pergerakan tanah bukanlah cerita baru. Banyak rumah mengalami retak dan kerusakan ringan yang harus diperbaiki secara berkala akibat pergeseran alami tanah. Kondisi itulah yang membuat upaya penguatan lereng menjadi kebutuhan bersama, bukan semata kepentingan investasi.

Ferry berharap, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dapat menghasilkan manfaat jangka panjang bagi Kota Semarang.

Menurutnya, keberhasilan proyek penguatan lereng ini tidak hanya akan mendukung tumbuhnya investasi dan lapangan kerja baru, tetapi juga menciptakan rasa aman bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman pergerakan tanah di kawasan Gombel Lama.

Di tengah perdebatan mengenai pembangunan kawasan komersial, ada pekerjaan penting yang sesungguhnya sedang berlangsung: menjaga tanah tetap berpijak, melindungi rumah-rumah warga, dan memastikan lereng Gombel tetap kokoh untuk generasi yang akan datang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.