Jateng

240 Kasus HIV Baru Ditemukan di Semarang, Dinkes Tegaskan Hasil Deteksi Dini Semakin Masif

Muhammad Husni Mushonifi | 4 Juni 2026, 18:31 WIB
240 Kasus HIV Baru Ditemukan di Semarang, Dinkes Tegaskan Hasil Deteksi Dini Semakin Masif
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Hakam

JATENG.AKURAT.CO, Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus HIV baru ditemukan selama periode Januari hingga Mei 2026. Temuan tersebut merupakan hasil dari peningkatan kegiatan skrining, perluasan akses layanan tes HIV, serta penguatan penemuan kasus secara aktif (active case finding) di fasilitas pelayanan kesehatan maupun kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Hakam, menegaskan bahwa meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak serta-merta menunjukkan peningkatan penularan HIV di masyarakat. Menurutnya, tingginya angka temuan justru mencerminkan semakin luasnya jangkauan layanan deteksi dini yang mampu menemukan kasus-kasus yang sebelumnya belum teridentifikasi.

“Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu berarti penularan HIV meningkat. Justru hal ini menunjukkan bahwa layanan skrining semakin menjangkau kelompok yang sebelumnya belum terdeteksi. Semakin banyak masyarakat yang melakukan tes HIV, maka semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan risiko penularan dapat dicegah,” ujar Hakam.

Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan kelompok risiko dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sebesar 44 persen. Selanjutnya pasien Tuberkulosis (TBC) sebanyak 12 persen, pasangan risiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks 2 persen.

Hakam menjelaskan, deteksi dini menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian HIV. Dengan mengetahui status HIV lebih awal, seseorang dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) sehingga penyakit tidak berkembang menjadi AIDS, tetap produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

“Saat ini HIV sudah dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan HIV. Semakin cepat diketahui, semakin baik hasil pengobatannya dan semakin kecil risiko penularannya kepada orang lain,” tambahnya.

Sebagai bentuk komitmen memperluas akses layanan, Dinas Kesehatan Kota Semarang menjalankan program LIDYA DIMARI (Layanan Tes HIV dan Layanan ARV di Malam Hari). Program ini ditujukan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengakses layanan kesehatan pada jam kerja. Informasi mengenai jadwal dan lokasi puskesmas penyelenggara dapat diakses melalui akun Instagram resmi Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Selain meningkatkan layanan kesehatan, Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada Orang Dengan HIV (ODHIV). HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi peralatan makan, bekerja bersama, maupun aktivitas sosial lainnya.

Dinas Kesehatan menegaskan bahwa ODHIV dapat tetap hidup sehat, produktif, dan beraktivitas normal selama menjalani pengobatan ARV secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Berbagai langkah pencegahan dan pengendalian HIV terus dilakukan melalui edukasi dan promosi kesehatan, perluasan layanan konseling dan tes HIV, penyediaan pengobatan ARV bagi seluruh ODHIV, pencegahan penularan dari ibu ke anak, pendampingan kepatuhan pengobatan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor bersama fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dan komunitas peduli HIV/AIDS.

Masyarakat yang merasa memiliki faktor risiko atau ingin mengetahui status kesehatannya diimbau untuk memanfaatkan layanan tes HIV di fasilitas kesehatan terdekat. Seluruh layanan tes HIV dan pengobatan ARV di Kota Semarang dilaksanakan dengan prinsip kerahasiaan, keamanan, dan tanpa diskriminasi.

Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya untuk mencapai target eliminasi HIV sebagai masalah kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang berkelanjutan. Keberhasilan upaya tersebut dinilai membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, keberanian melakukan tes HIV secara sukarela, serta dukungan bersama dalam menghapus stigma terhadap ODHIV.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.