Jateng

Jawa Tengah Jadi Percontohan Nasional, Program MBG Dorong Sinergi Perikanan dan UMKM

Muhammad Husni Mushonifi | 13 April 2026, 16:40 WIB
Jawa Tengah Jadi Percontohan Nasional, Program MBG Dorong Sinergi Perikanan dan UMKM

JATENG.AKURAT.CO, Keberhasilan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah mendorong Kementerian Koordinator Bidang Pangan menjadikan provinsi ini sebagai pilot project penguatan kemitraan antara sektor perikanan, pelaku UMKM, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan konsumsi ikan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dandy Satria Iswara, menyatakan dukungan Jawa Tengah terhadap MBG tergolong kuat, baik dari sisi jumlah SPPG maupun kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

Baca Juga: HUT ke-479 Semarang Dimulai dengan Layanan Gratis dan Program Gizi Warga

Ia menyebut banyak dapur SPPG di daerah ini telah mengantongi sertifikasi dan aktif menggandeng UMKM lokal sebagai penyedia bahan baku.

Hingga saat ini, potensi penerima manfaat MBG di Jawa Tengah mencapai 9,63 juta orang atau hampir 11 persen dari total target nasional sebanyak 82,9 juta penerima.

Sementara itu, sekitar 3.800 SPPG telah beroperasi dengan capaian pembangunan mencapai 97 persen dari target.

“Capaian ini tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas,” ujar Dandy saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Kemitraan MBG di Ghradhika Bhakti Praja, Senin (13/4/2026).

Baca Juga: SoKlin Antisep Ajak Ribuan Warga Semarang Hidup Sehat Lewat Active Day

Ia menjelaskan, hampir 2.000 SPPG telah memiliki sertifikasi Sanitasi Laik Higiene (SLHS), ratusan lainnya bersertifikat halal, serta lebih dari 1.300 tenaga chef telah tersertifikasi.

Selain itu, standar keamanan pangan berbasis HACCP mulai diterapkan di sejumlah SPPG sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan implementasi MBG yang masif, patuh, dan siap secara sistem.

Program MBG sendiri dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Baca Juga: Haul Mbah Syafi’i Dorong Usulan Pahlawan Nasional, Jejak Sejarah Terus Ditelusuri

Sekitar 70 persen anggaran MBG digunakan untuk pembelian bahan pangan, yang secara langsung berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

Dukungan infrastruktur di Jawa Tengah juga dinilai kuat, dengan lebih dari 8.500 koperasi desa dan kelurahan Merah Putih telah terbentuk, dan sekitar 6.200 di antaranya sudah beroperasi.

Ekosistem ini memperkuat konektivitas antara produksi pangan dan kebutuhan SPPG.

Dalam penguatan rantai pasok, sektor perikanan menjadi fokus utama karena memiliki potensi besar, baik dari perikanan tangkap maupun budidaya.

Komoditas seperti lele, nila, patin, tongkol, dan tuna dinilai sebagai sumber protein yang terjangkau dan melimpah.

Pemerintah pun mendorong agar ikan menjadi menu utama dalam program MBG.

Penguatan sektor ini juga didukung pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di sejumlah daerah seperti Jepara, Pati, Kebumen, dan Purworejo.

Secara nasional, pemerintah telah membangun 65 kampung nelayan dan menargetkan tambahan 35 lokasi, dengan total jangka panjang mencapai sekitar 1.300 kampung nelayan di seluruh Indonesia.

Selain itu, pengembangan budidaya melalui sistem bioflok tematik telah diterapkan di sejumlah wilayah seperti Batang, Kendal, Magelang, Kabupaten Semarang, dan Boyolali, memperkuat ketersediaan bahan baku program MBG dari sisi hulu.

Di sisi lain, pelaku UMKM menyambut positif penguatan kemitraan tersebut.

Pemilik usaha olahan ikan nila asal Banyumas, Sri Narsih, mengaku produknya kini mulai dilirik untuk memenuhi kebutuhan menu SPPG.

Produk olahan nila crispy yang diproduksinya dinilai praktis dan tahan lama, sehingga cocok untuk distribusi skala besar.

“Permintaan meningkat dan kami menambah pasokan bahan baku dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kami berharap kemitraan ini memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Jawa Tengah, Hanung Triyono, menilai potensi perikanan di daerahnya sangat besar karena didukung wilayah pesisir utara dan selatan.

Ia menyebut program MBG menjadi momentum strategis untuk meningkatkan konsumsi ikan sekaligus mendorong hilirisasi produk perikanan.

“Melalui sinergi antara nelayan, pembudidaya, UMKM, dan SPPG, diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sektor perikanan, memperkuat ekonomi lokal, serta meningkatkan kualitas gizi masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.