Waspada! Daftar Wilayah Jatim yang Mulai Masuk Musim Kemarau April 2026 Versi BMKG

JATENG.AKURAT.CO, Berdasarkan informasi yang dihimpun dari akun resmi Instagram @jatimpemprov serta data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur diprediksi akan berlangsung lebih awal, terasa lebih kering, dan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat adanya pergeseran nyata yang dipicu oleh melemahnya fenomena La Nina sejak Februari 2026 serta datangnya Angin Monsun Australia yang membawa udara kering lebih cepat dari biasanya. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menekankan bahwa informasi ini merupakan peringatan dini agar masyarakat dan para pemangku kepentingan dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Secara nasional, BMKG mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan jumlah ini diprediksi akan terus melonjak sepanjang April hingga Juni 2026. Untuk wilayah Jawa Timur, sebagian besar zona diprediksi mengalami curah hujan dengan kategori bawah normal, yang berarti hujan akan semakin jarang, tanah semakin mengering, dan sumber-sumber air akan semakin berkurang.
Lantas, kapan tepatnya puncak kemarau dan wilayah mana saja yang sudah mulai kering sejak bulan April? Berikut ulasan lengkapnya.
Baca Juga: 5 Wilayah di DIY Diprediksi Alami Musim Kemarau Paling Panjang di 2026, Dimana Saja Itu?
Penyebab Kemarau Datang Lebih Awal dan Sifatnya Lebih Kering
BMKG menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang membuat musim kemarau 2026 di Jawa Timur terasa lebih ekstrem.
Pertama, fenomena La Nina yang sebelumnya membawa curah hujan tinggi secara perlahan melemah sejak Februari 2026.
Kedua, Angin Monsun Australia yang membawa udara kering dan dingin datang lebih awal dari jadwal normalnya, menggantikan Monsun Asia lebih cepat.
Kondisi ini diperparah dengan potensi fenomena El Nino yang diprediksi akan menguat pada pertengahan hingga akhir tahun.
BMKG memperkirakan peluang El Nino masuk dalam kategori lemah hingga moderat sebesar 50-60 persen hingga akhir tahun 2026, yang akan membuat musim kemarau semakin kering dibandingkan biasanya.
Selain itu, dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur, sebanyak 56 ZOM atau sekitar 75,5 persen wilayah diprediksi mengalami sifat hujan Bawah Normal, sementara sisanya berada pada kategori Normal.
Akumulasi curah hujan selama periode kemarau pun diperkirakan lebih sedikit dari rata-rata klimatologis.
Puncak Musim Kemarau: Agustus 2025, 70 Persen Wilayah Terdampak
Kepala BMKG Kelas 1 Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau 2026 diprediksi akan terjadi pada periode Juli hingga September, dengan konsentrasi terbesar pada bulan Agustus. "Hampir 70 persen wilayah di Jatim itu puncak musim kemaraunya ada di bulan Agustus," ujarnya dalam keterangan resmi.
Secara lebih rinci, BMKG memprediksi bahwa sekitar 70,9 persen wilayah Jawa Timur atau setara dengan 53 Zona Musim (ZOM) akan mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026. Sementara itu, sekitar 15 persen wilayah lainnya diprediksi mencapai puncaknya lebih awal pada Juli, dan sisanya pada September.
Durasi musim kemarau tahun ini juga tergolong panjang, dengan rentang terpanjang mencapai 22-24 dasarian (sekitar 7,3 hingga 8 bulan) di 20 ZOM atau sekitar 23 persen wilayah Jawa Timur. Selain itu, terdapat wilayah dengan durasi 19-21 dasarian di 27 ZOM serta 16-18 dasarian di 20 ZOM.
Wilayah Jawa Timur yang Mulai Alami Kemarau April 2026
Dalam pemantauannya, BMKG menggunakan hitungan dasarian atau periode 10 hari.
Sebagian wilayah Jawa Timur sudah mulai merasakan hawa kemarau sejak dasarian pertama hingga ketiga di bulan April 2026.
Berikut adalah rincian wilayah berdasarkan waktu awal kemarau:
Dasarian I April (1-10 April 2026)
Kabupaten Bangkalan: Tanjung Bumi
Kabupaten Banyuwangi: Kalipuro
Kabupaten Jember: Ambulu, Balung, Puger, Tempurejo, Wuluhan, Gumukmas, Jombang, Kencong, Umbulsari
Kabupaten Sampang: Banyuates, Ketapang
Kabupaten Situbondo: Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Banyuglugur, Besuki, Jatibanteng, Mlandingan, Suboh, Bungatan, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, Situbondo
Kabupaten Probolinggo: Besuk, Dringu, Gending, Kraksaan, Krejengan, Pajarakan, Sumberasih, Kotaanyar, Paiton, Pakuniran
Kota Probolinggo: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, Wonoasih
Dasarian II April (11-20 April 2026)
Kabupaten Bangkalan: Arosbaya, Geger, Klampis, Kokop, Sepulu
Kabupaten Banyuwangi: Banyuwangi, Blimbingsari, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, Bangorejo, Cluring, Gambiran, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Srono, Tegaldlimo, Tegalsari
Kabupaten Bojonegoro: Balen, Baureno, Kanor, Kepohbaru, Sumberrejo
Kabupaten Lamongan: Babat, Karanggeneng, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Sekaran
Kabupaten Lumajang: Kunir, Lumajang, Rowokangkung, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Yosowilangun
Kabupaten Tuban: Bancar, Jatirogo, Kenduruan, Tambakboyo, Palang, Plumpang, Rengel, Widang
Kabupaten Sumenep: Batang, Batuan, Dungkek, Gapura, Gayam, Giliginting, Kalianget, Kota Sumenep, Manding, Nonggunong, Ra'as, Saronggi, Talango
Kabupaten Pasuruan: Gondang Wetan, Grati, Kraton, Lekok, Nguling, Pohjentrek, Rejoso, Winongan
Kota Pasuruan: Bugul Kidul, Gadingrejo, Panggungrejo, Purworejo
Kabupaten Probolinggo: Tongas
Dasarian III April (21-30 April 2026)
Kabupaten Blitar: Binangun, Kesamben, Selopuro, Wates
Kabupaten Bojonegoro: Bojonegoro, Dander, Gayam, Kalitidu, Kapas, Kasiman, Kedewan, Malo, Margomulyo, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Tambakrejo, Trucuk
Kabupaten Bondowoso: Botolinggo, Cerme, Klabang, Prajekan
Kabupaten Gresik: Bungah, Duduksampeyan, Gresik, Manyar, Sidayu, Ujungpangkah
Kabupaten Lamongan: Glagah
Kabupaten Madiun: Dagangan, Dolopo, Geger, Kebonsari, Gemarang, Wungu
Kabupaten Tuban: Bangilan, Grabagan, Jenu, Kerek, Merakurak, Montong, Semanding, Singgahan, Tuban, Parengan, Senori, Soko
Kabupaten Sumenep: Bluto, Ganding, Guluk-Guluk, Pragaan
Kabupaten Situbondo: Arjasa
Kabupaten Trenggalek: Panggul
Kabupaten Ponorogo: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ponorogo, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sukorejo
Kabupaten Sampang: Camplong, Kedungdung, Omben, Sampang, Torjun
Kabupaten Nganjuk: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Nganjuk, Patianrowo, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, Wilangan
Kabupaten Pacitan: Donorojo, Pringkuku, Punung, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Sudimoro, Tulakan
Kota Madiun: Taman
Kabupaten Magetan: Kawedanan, Lembeyan, Nguntoronadi, Parang, Takeran
Kabupaten Malang: Bantur, Donomulyo, Kalipare, Pagak
Potensi Bencana: 815 Desa Rawan Kekeringan
Seiring dengan prediksi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur telah mencatat sedikitnya 815 desa yang tersebar di 222 kecamatan dan 26 kabupaten/kota berpotensi terdampak kekeringan parah. Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi BMKG, awal musim kemarau mulai terjadi pada April ini, dengan puncak kemarau pada Agustus 2026.
Selain kekeringan, kebakaran hutan dan lahan juga menjadi ancaman serius. BMKG Juanda mengkhawatirkan musim kemarau yang diperparah El Nino dapat menyebabkan kebakaran di wilayah pegunungan, seperti yang pernah terjadi di Gunung Bromo dan Gunung Arjuno pada tahun 2023.
Dampak bagi Pertanian dan Langkah Antisipasi Pemerintah
Mengingat Jawa Timur merupakan lumbung pangan nasional, kemarau panjang ini menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jatim telah menyiapkan tiga langkah strategis: menanam benih varietas unggul tahan cuaca ekstrem, mengaktifkan kembali pompa-pompa air di wilayah kritis, dan mempercepat renovasi jaringan irigasi yang rusak.
Daerah dengan ketergantungan tinggi pada air hujan seperti Bojonegoro, Jember, dan Lamongan masuk dalam radar pemantauan serius. Selain itu, BMKG juga merekomendasikan agar petani menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas padi berumur pendek dan tahan kering, serta mengalihkan tanaman dari padi ke palawija.
Optimalisasi penampungan air hujan pada akhir musim hujan juga perlu dilakukan untuk mengisi waduk yang nantinya digunakan untuk irigasi.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Kapan puncak musim kemarau 2026 di Jawa Timur?
Puncak musim kemarau 2026 di Jawa Timur diprediksi terjadi pada Agustus 2026, melanda sekitar 70 persen wilayah Jawa Timur. Sebagian kecil wilayah lainnya mencapai puncaknya pada Juli atau September.
2. Berapa lama durasi musim kemarau 2026 di Jatim?
Durasi musim kemarau cukup panjang. Rentang terpanjang mencapai 22-24 dasarian (sekitar 7,3 hingga 8 bulan) di 20 ZOM. Sebagian besar wilayah lainnya mengalami durasi antara 16 hingga 21 dasarian.
3. Apa penyebab kemarau 2026 lebih kering dari biasanya?
Dua faktor utama: melemahnya La Nina sejak Februari 2026 dan datangnya Angin Monsun Australia lebih awal yang membawa udara kering. Ditambah potensi El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50-60 persen yang membuat curah hujan semakin berkurang.
4. Berapa banyak desa yang berpotensi kekeringan?
BPBD Jawa Timur mencatat sedikitnya 815 desa di 222 kecamatan dan 26 kabupaten/kota yang berpotensi terdampak kekeringan parah akibat musim kemarau tahun ini.
5. Apa yang harus dilakukan petani menghadapi kemarau ini?
Petani disarankan menyesuaikan kalender tanam, memilih varietas padi berumur pendek dan tahan kering, serta mengalihkan pola tanam dari padi ke palawija. Optimalisasi pompa air dan perbaikan irigasi juga sangat dianjurkan.
6. Apakah ada potensi kebakaran hutan saat kemarau?
Ya. Musim kemarau yang diperparah El Nino dikhawatirkan memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah pegunungan seperti Gunung Bromo dan Gunung Arjuno. BMKG akan memantau arah dan kecepatan angin untuk antisipasi.
Antisipasi Dini, Mitigasi Terukur
Musim kemarau 2026 di Jawa Timur bukanlah musim kemarau biasa. Dengan prediksi yang datang lebih awal, terasa lebih kering, dan berdurasi lebih panjang, ancaman terhadap ketersediaan air bersih, sektor pertanian, serta potensi kebakaran hutan dan lahan menjadi sangat nyata.
Namun, kabar baiknya, BMKG telah memberikan peringatan dini sejak beberapa bulan sebelumnya, dan pemerintah provinsi bersama dinas terkait telah mulai menyusun langkah-langkah strategis. Kini, yang terpenting adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Petani disarankan segera menyesuaikan pola tanam, masyarakat diimbau mulai hemat air sejak sekarang, dan seluruh pihak diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG melalui kanal-kanal komunikasi yang tersedia.
Jangan tunggu sampai bencana datang. Mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil di sekitar kita, kita bisa bersama-sama mengurangi risiko di tengah ancaman musim kemarau terpanjang tahun ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










