5 Wilayah di DIY Diprediksi Alami Musim Kemarau Paling Panjang di 2026, Dimana Saja Itu?

JATENG.AKURAT.CO, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi DIY mengeluarkan peringatan serius: lima wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta diprakirakan mengalami musim kemarau dengan durasi terlama pada 2026, mencapai 19 hingga 21 dasarian atau sekitar 6,5 hingga 7 bulan.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, dalam keterangan resminya pada Selasa (3/3/2026) menjelaskan bahwa awal musim kemarau di DIY umumnya terjadi pada April dasarian III (21-30 April), dengan puncak kemarau pada Agustus 2026.
Yang mengkhawatirkan, kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dari biasanya, dengan curah hujan cenderung berada di bawah normal.
Fenomena ini turut dipicu oleh indikasi El Nino lemah yang diperkirakan muncul pada pertengahan hingga akhir tahun.
Sifat kemarau bawah normal ini berarti hujan yang turun akan lebih sedikit daripada rata-rata klimatologisnya, sehingga berpotensi memicu kekeringan parah, kebakaran hutan dan lahan, serta mengancam sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
Berikut adalah rincian wilayah dengan durasi kemarau terpanjang di DIY.
Daftar 5 Wilayah dengan Durasi Kemarau Terpanjang di DIY
Merujuk pada laporan Prediksi Musim Kemarau 2026 yang dikeluarkan Stasiun Klimatologi DIY, berikut adalah wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau terlama (19-21 dasarian):
Kabupaten Kulon Progo (meliputi: Girimulyo, Nanggulan, Sentolo, Pengasih, Kokap, Temon, Wates, Panjatan, Lendah, Galur)
Seluruh Kapanewon di Kabupaten Sleman
Seluruh Kemantren di Kota Yogyakarta
Seluruh Kapanewon di Kabupaten Bantul
Seluruh Kapanewon di Kabupaten Gunungkidul
Sementara itu, durasi kemarau tersingkat (16-18 dasarian) diprediksi terjadi di Kapanewon Samigalu dan Kalibawang di Kabupaten Kulon Progo.
Rincian Awal, Puncak, dan Akhir Musim Kemarau 2026 di DIY
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, dalam keterangan resminya merinci prakiraan musim kemarau 2026 sebagai berikut:
Awal musim kemarau: Sebagian besar wilayah DIY diprakirakan mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian III April (21-30 April 2026) untuk 5 zona musim (62,5 persen), serta Dasarian I Mei (1-10 Mei 2026) untuk 3 zona musim lainnya (37,5 persen). Jika dibandingkan dengan normal periode 1991-2020, sebagian wilayah mengalami awal kemarau yang sama dengan rata-rata, sebagian lainnya maju atau mundur satu dasarian.
Sifat musim kemarau: Umumnya bawah normal, artinya lebih kering dari rata-rata klimatologis, dengan curah hujan bervariasi antara 250–400 mm selama periode kemarau.
Puncak kemarau: Diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di seluruh wilayah DIY. DPRD DIY bahkan menyebut kemungkinan besar tidak ada hujan yang turun karena sifat kemarau saat ini dibarengi dengan fenomena El Nino.
Akhir musim kemarau: Diperkirakan terjadi pada Dasarian II Oktober 2026 di 1 zona musim, serta Dasarian II November 2026 di 7 zona musim lainnya.
Faktor Pemicu: Peran El Nino dan Anomali Iklim Global
Musim kemarau 2026 di DIY diprediksi lebih ekstrem karena beberapa faktor pemicu utama.
Pertama, adanya indikasi fenomena El Nino lemah yang diprediksi muncul pada pertengahan hingga akhir tahun 2026, yang dapat menyebabkan curah hujan cenderung lebih sedikit.
Kedua, sifat kemarau bawah normal yang berlaku di sebagian besar wilayah DIY, artinya tingkat kekeringan akan lebih parah dibandingkan tahun-tahun biasa.
Ketiga, anomali cuaca global seperti suhu dingin dari Australia yang juga perlu diantisipasi karena dapat memicu kebakaran dan angin kencang.
Dampak bagi Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan
Musim kemarau panjang yang lebih kering dari biasanya ini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di DIY. Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Hifni Muhammad Nasikh, menyampaikan bahwa DIY berpotensi menghadapi musim kemarau panjang yang menuntut kesiapan serius, khususnya di sektor pertanian. Kondisi cuaca ekstrem seperti kebakaran, angin kencang, dan suhu dingin dari Australia juga perlu diantisipasi.
Merespons ancaman ini, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman telah mengambil langkah antisipatif dengan meminta petani untuk melakukan percepatan tanam di wilayah potensial.
Petani juga diimbau menggunakan varietas genjah dan tahan kekeringan seperti Inpago 4-13, Inpari 38-46, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan Cakrabuana. Selain itu, pengaturan pola tanam disesuaikan dengan iklim dan ketersediaan air di masing-masing hamparan sawah.
Risiko Kekeringan dan Kebakaran Hutan-Lahan
Durasi kemarau yang lebih panjang dari normal membawa risiko signifikan bagi wilayah DIY. Risiko kekeringan diperkirakan melanda sejumlah wilayah, terutama daerah dengan ketergantungan tinggi pada tadah hujan dan sistem irigasi sederhana. Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman berikutnya, terutama di kawasan perbukitan dan lahan kering seperti sebagian wilayah Gunungkidul dan Kulon Progo.
Selain itu, krisis air bersih berpotensi terjadi pada puncak kemarau (Agustus) jika tidak ada langkah antisipatif yang matang. Penurunan kualitas udara juga perlu diwaspadai karena kondisi atmosfer yang kering menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di udara.
Langkah Antisipasi yang Perlu Dilakukan
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat:
Optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi irigasi, embung, dan pompanisasi untuk memastikan ketersediaan air bagi pertanian dan kebutuhan rumah tangga.
Pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penguatan sistem peringatan dini, agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.
Penyesuaian pola tanam dan penggunaan varietas tahan kekeringan, seperti yang telah diinstruksikan oleh DP3 Sleman.
Penguatan koordinasi antara BMKG, Pemda, dan organisasi perangkat daerah (OPD), untuk memastikan informasi cuaca segera diterjemahkan menjadi langkah antisipatif di lapangan.
Edukasi masyarakat untuk hemat air dan tidak membuka lahan dengan cara membakar untuk mencegah karhutla.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Berapa lama durasi musim kemarau 2026 di DIY?
Sebagian besar wilayah DIY diprediksi mengalami musim kemarau selama 19 hingga 21 dasarian atau sekitar 6,5 hingga 7 bulan.
2. Kapan puncak musim kemarau 2026 di DIY?
Puncak musim kemarau di seluruh wilayah DIY diprediksi terjadi pada Agustus 2026. DPRD DIY menyebut kemungkinan besar tidak ada hujan yang turun karena sifat kemarau saat ini dibarengi dengan fenomena El Nino.
3. Apa yang dimaksud dengan "sifat kemarau bawah normal"?
Sifat kemarau bawah normal berarti curah hujan yang turun selama periode kemarau lebih sedikit daripada rata-rata klimatologisnya (periode normal 1991-2020) atau lebih kering dari biasanya.
4. Apakah El Nino akan terjadi di DIY tahun ini?
BMKG mencatat adanya indikasi fenomena El Nino lemah yang berpotensi muncul pada pertengahan hingga akhir tahun 2026, yang dapat menyebabkan curah hujan cenderung lebih sedikit.
5. Bagaimana cara petani menyikapi musim kemarau panjang ini?
Petani diimbau melakukan percepatan tanam di wilayah potensial, menggunakan varietas padi genjah dan tahan kekeringan, serta menyesuaikan pola tanam dengan iklim dan ketersediaan air di masing-masing hamparan sawah.
6. Wilayah mana saja yang paling terdampak kemarau panjang di DIY?
Lima wilayah utama yang mengalami durasi kemarau terlama (19-21 dasarian) adalah: Kabupaten Kulon Progo (10 kapanewon), seluruh Kabupaten Sleman, seluruh Kota Yogyakarta, seluruh Kabupaten Bantul, dan seluruh Kabupaten Gunungkidul.
Antisipasi Dini, Mitigasi Terukur
Musim kemarau 2026 di DIY bukanlah musim kemarau biasa. Dengan durasi mencapai 6,5 hingga 7 bulan dan sifat kemarau yang lebih kering dari biasanya, ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada sektor pertanian menjadi sangat nyata.
Namun, kabar baiknya adalah kesiapsiagaan juga berjalan seiring. BMKG telah mengeluarkan prakiraan jauh-jauh hari, DPRD DIY telah memperkuat koordinasi, dan dinas pertanian setempat telah mulai mengedukasi petani untuk menyesuaikan pola tanam dan menggunakan varietas tahan kekeringan.
Yang terpenting sekarang adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Jangan tunggu sampai kekeringan melanda atau kebakaran terjadi. Mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil di sekitar kita: hemat air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan selalu pantau informasi resmi dari BMKG.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










