Jateng

BMKG: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, El Nino Mulai Aktif Juli

Theo Adi Pratama | 5 April 2026, 21:54 WIB
BMKG: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, El Nino Mulai Aktif Juli

JATENG.AKURAT.CO, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi iklim di Indonesia sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Sabtu (4/4/2026), hingga akhir Maret 2026 tercatat sebanyak 7 persen Zona Musim (ZOM) di seluruh Nusantara telah resmi memasuki periode kemarau.

Meski angka tersebut terbilang kecil, BMKG memastikan jumlahnya bakal melonjak signifikan dalam beberapa pekan ke depan.

Yang lebih mengkhawatirkan, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dan terasa lebih kering dibandingkan rata-rata tahun-tahun biasanya.

Kondisi ini diperparah dengan potensi munculnya fenomena El Nino pada semester kedua 2026, yang diperkirakan mulai aktif sekitar Juli mendatang.

Dengan kata lain, Indonesia tengah bersiap menghadapi salah satu musim kemarau paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir—bukan sekadar wacana, tapi sudah mulai terasa dari ujung barat hingga timur.

Wilayah yang Sudah Memasuki Kemarau per Awal April 2026

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, merinci sejumlah daerah yang mulai merasakan hawa kemarau sejak akhir Maret 2026.

Berdasarkan pemantauan resmi lembaga tersebut, wilayah yang terdampak meliputi: sebagian kecil Aceh, sebagian kecil Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala,” ujar Faisal.

Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia.

Proyeksi Per Zona Musim: April, Mei, Juni 2026

Secara bertahap, musim kemarau akan meluas ke hampir seluruh wilayah Indonesia dalam tiga bulan ke depan.

Berdasarkan buku Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang dirilis BMKG, berikut rinciannya:

  • April 2026: Sebanyak 114 ZOM (16,3%) mulai memasuki kemarau, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian DI Yogyakarta, sebagian Bali, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi Selatan.

  • Mei 2026: 184 ZOM (26,3%) menyusul, meliputi Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Jawa, Bali bagian tengah, Kalimantan Tengah bagian tenggara, serta beberapa wilayah di Maluku dan Papua.

  • Juni 2026: 163 ZOM (23,3%) ikut bergabung, mencakup sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan.

Dengan total 699 ZOM di Indonesia, artinya lebih dari separuh wilayah tanah air akan berada dalam kondisi kering pada pertengahan tahun ini.

Awal Lebih Cepat, Durasi Lebih Panjang

Ada dua karakteristik utama musim kemarau 2026 yang membuatnya istimewa—dan perlu diwaspadai.

Pertama, awal musim kemarau datang lebih awal. Sebanyak 325 ZOM (46,5% wilayah) diprediksi mengalami percepatan masuk kemarau dibandingkan rerata klimatologisnya. Hanya 173 ZOM (23,7%) yang masuk sesuai normal.

Kedua, durasinya lebih panjang. Sebanyak 400 ZOM (57,2% wilayah) diprediksi mengalami musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya.

Artinya, lebih dari separuh negeri ini harus bersiap menghadapi hari-hari tanpa hujan yang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, akumulasi curah hujan selama periode kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM atau 64,5%) diprediksi berada dalam kategori bawah normal—alias lebih kering dari biasanya.

Puncak Kemarau: Agustus 2026 Jadi Momen Terkering

Jika Anda bertanya kapan waktu paling panas dan paling kering tahun ini, jawabannya: Agustus 2026.

BMKG memprediksi sebanyak 429 ZOM (61,4% wilayah) akan mencapai puncak musim kemarau pada bulan kedelapan tahun ini.

Sebagian wilayah lain mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6% wilayah) dan September (14,3% wilayah).

Puncak kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal (410 ZOM atau 58,7%) dibandingkan normalnya.

Peran El Nino: Bensin bagi Api Kemarau

Faktor terpenting yang membuat musim kemarau 2026 berbeda adalah potensi kemunculan El Nino.

Setelah fenomena La Nina Lemah berakhir pada Februari 2026, kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini masih terpantau pada fase Netral.

Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua tahun 2026.

“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.

BMKG Wilayah IV Makassar bahkan memprediksi El Nino kategori lemah akan mulai aktif sekitar Juli 2026. Fenomena ini akan memperkuat musim kemarau yang sudah diprediksi datang lebih awal, menyebabkan defisit curah hujan signifikan, meningkatkan risiko kekeringan, serta memicu kebakaran hutan dan lahan.

Ancaman yang Perlu Diwaspadai

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Kondisi cuaca yang semakin kering mulai Mei hingga September 2026 berpotensi memperparah risiko karhutla, terutama di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan. Lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan, berisiko menimbulkan kebakaran skala besar yang memicu kabut asap lintas provinsi.

Gangguan Ketahanan Pangan

Kekeringan berkepanjangan mengancam lumbung padi nasional, khususnya di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Petani yang sudah menanam padi berisiko mengalami gagal panen jika kekeringan terjadi setelah masa tanam.

Krisis Air Bersih

Penurunan curah hujan yang drastis berdampak langsung pada ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga, irigasi pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air.

Penurunan Kualitas Udara

Musim kemarau menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di udara. Jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, asap yang dihasilkan dapat memperburuk kualitas udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama gangguan pernapasan.

Panduan Praktis Menghadapi Kemarau Panjang (BMKG)

BMKG memberikan sejumlah imbauan praktis yang bisa langsung diterapkan masyarakat:

No

Imbauan

Keterangan

1

Hemat air

Gunakan air secukupnya, perbaiki keran bocor, tampung air hujan meski intensitasnya menurun

2

Siapkan cadangan air bersih

Khususnya di wilayah yang sudah mulai terpapar kekeringan

3

Lindungi diri dari panas

Pastikan kecukupan air minum dan gunakan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan

4

Jangan membakar lahan

Tingkatkan kesadaran terhadap potensi penurunan kualitas udara selama musim kemarau

5

Pantau informasi resmi

Ikuti kanal komunikasi resmi BMKG (website dan media sosial) untuk pembaruan berkala

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah El Nino sudah pasti terjadi tahun ini?
Belum 100% pasti. BMKG memberikan peluang 50-80% El Nino terjadi dengan intensitas lemah hingga moderat. Tingkat kepercayaan akan lebih tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026.

2. Kapan puncak kemarau di wilayah saya?
Sebagian besar wilayah Indonesia (61,4%) mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026. Wilayah lain ada yang mengalami puncak pada Juli atau September.

3. Apakah tahun 2026 lebih panas dari 2024?
Tidak. BMKG menyatakan tingkat panas pada 2026 diprediksi tidak akan menyamai kondisi ekstrem yang terjadi pada 2024 karena saat ini berlangsung fenomena La Nina yang secara temporer mendinginkan suhu permukaan bumi.

4. Bagaimana dengan wilayah dataran tinggi?
Wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan di Sumatra, Pegunungan Latimojong di Sulawesi, dan Pegunungan Jaya Wijaya di Papua diperkirakan tetap lebih sejuk dengan suhu di bawah 25 derajat Celsius.

Bukan untuk Ditakuti, Tapi untuk Disikapi

Musim kemarau 2026 bukan sekadar pergantian musim biasa. Data dari BMKG—mulai dari rilis resmi, konferensi pers, peta prediksi, hingga proyeksi El Nino—semuanya mengarah pada satu kesimpulan: Indonesia tengah bersiap menghadapi salah satu musim kemarau paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Dimulai lebih awal di 7% wilayah pada akhir Maret, akan meluas ke 16,3% wilayah di April, dan mencapai puncaknya di Agustus pada 61,4% wilayah.

Ditambah potensi El Nino yang akan aktif mulai Juli, durasi kemarau yang lebih panjang di 57,2% wilayah, serta ancaman karhutla yang membayang—semua elemen ini membentuk gambaran utuh tentang apa yang akan kita hadapi bersama.

Namun, kabar baiknya adalah kesiapsiagaan juga berjalan seiring. Cadangan beras melimpah, ribuan pompa air disalurkan, dan strategi mitigasi berlapis sudah disusun.

Yang terpenting sekarang adalah kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Jangan tunggu sampai kekeringan melanda atau kabut asap menyelimuti. Mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Tetap pantau terus perkembangan informasi dari BMKG. Jaga diri dan keluarga. Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan—ia sudah terjadi, dan kita harus siap menghadapinya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.