Pemkot Semarang Dukung Larangan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun

JATENG.AKURAT.CO, Pemerintah Kota Semarang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang menyatakan dukungannya terhadap rencana kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Bambang Pramushinto, menilai kebijakan tersebut merupakan langkah positif untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif penggunaan media sosial yang tidak terkontrol.
Menurut Bambang, penerapan teknis kebijakan tersebut nantinya akan lebih menjadi kewenangan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Namun secara prinsip, pihaknya mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat tersebut.
“Kalau saya sepakat. Kami menunggu kebijakan pemerintah karena pasti sudah melalui kajian. Di beberapa negara juga sudah mulai menerapkan pembatasan serupa,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah negara maju telah lebih dulu menerapkan pembatasan terhadap penggunaan teknologi digital oleh anak-anak. Bahkan di negara yang menjadi produsen berbagai perangkat permainan dan gim, pembatasan terhadap anak usia sekolah tetap diberlakukan.
Bambang mencontohkan negara seperti Inggris dan Jepang yang menerapkan aturan pembatasan penggunaan gim bagi pelajar. Menurutnya, hal itu menjadi langkah antisipatif agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi.
“Negara pembuat game justru membatasi anak-anak sekolah bermain game. Ini yang harus kita waspadai agar kita tidak hanya menjadi korban atau sekadar pengguna,” jelasnya.
Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa kegiatan seperti lomba gim atau kompetisi e-sports tetap memiliki nilai positif apabila diarahkan dengan baik. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat membentuk pola pikir pelajar agar tidak hanya bermain, tetapi juga belajar menciptakan teknologi.
Ia menilai kompetisi gim dapat mendorong anak-anak untuk mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi, termasuk menciptakan aplikasi atau gim sendiri yang berpotensi menjadi peluang karier di masa depan.
“Kalau lomba game itu berbeda. Semangatnya membentuk mindset pelajar agar ke depan bisa menjadi developer atau pembuat game, bukan hanya pengguna. Siapa tahu nanti bisa menjadi pengusaha di bidang IT,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Bambang berharap generasi muda dapat memanfaatkan teknologi secara produktif dan terarah, sehingga tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen dalam industri digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










