Jateng

Mengenal Sosok Mojtaba Khamenei: Ulama Garis Keras yang Naik Takhta di Tengah Gempuran Rudal

Theo Adi Pratama | 9 Maret 2026, 16:36 WIB
Mengenal Sosok Mojtaba Khamenei: Ulama Garis Keras yang Naik Takhta di Tengah Gempuran Rudal
Mojtaba Khamenei

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah gempuran rudal Amerika Serikat dan Israel yang terus menghantam Iran, negeri para Mullah harus segera menentukan arah kepemimpinan barunya.

Media pemerintah Iran pada Minggu (8/3/2026) mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Pemimpin Tertinggi sebelumnya Ali Khamenei yang tewas dalam serangan pada 28 Februari, telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru.

Pengumuman mengejutkan ini datang hanya beberapa hari setelah Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarganya menjadi korban dalam serangan yang menargetkan kompleks mereka di Teheran.

Mojtaba yang berusia 56 tahun disebut selamat karena tidak berada di lokasi saat serangan terjadi.

Penunjukannya langsung dilakukan oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), sebuah badan beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi, yang menyerukan seluruh rakyat Iran untuk bersatu dan mendukung kepemimpinan baru.

Baca Juga: Kesaksian Video: Rudal Tomahawk AS Hantam Pangkalan IRGC, Sekolah di Iran Luluh Lantak

Latar Belakang: Sosok Misterius di Balik Layar

Berbeda dengan ayahnya yang lama menjadi wajah publik Iran, Mojtaba Khamenei selama ini dikenal sebagai figur yang sengaja menjaga profil rendah.

Ia jarang memberikan ceramah umum, khutbah Jumat, atau pidato politik—bahkan hingga banyak warga Iran yang tidak pernah mendengar suaranya meski tahu bahwa ia adalah "bintang yang sedang naik daun" di lingkungan teokratis Iran .

Namun, di balik layar, pengaruhnya sangat kuat. Selama beberapa dekade, ia telah menjadi sosok sentral di lingkaran dalam ayahnya dan menjalin hubungan mendalam dengan paramiliter Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) .

Karier militernya dimulai sejak muda, saat ia bertugas di Batalyon Habib IRGC selama Perang Iran-Irak pada 1980-an.

Banyak rekannya sesama ulama kemudian menduduki posisi terdepan di aparat keamanan dan intelijen Republik Islam yang baru lahir saat itu .

Kontroversi dan Tuduhan Kekayaan

Selama hampir dua dekade, kelompok oposisi di dalam dan luar Iran telah mengaitkan nama Mojtaba Khamenei dengan sejumlah kontroversi besar.

Salah satunya adalah tuduhan keterlibatannya dalam penumpasan keras terhadap pengunjuk rasa.

Kandidat dari kubu reformis pertama kali menuduhnya melakukan kecurangan dalam pemilu dan mengerahkan pasukan Basij (sayap paramiliter IRGC) untuk membubarkan pengunjuk rasa damai selama Gerakan Hijau 2009 .

Selain itu, meskipun berada di bawah sanksi AS dan Barat, Mojtaba dilaporkan telah membangun kerajaan ekonomi yang mencakup aset di berbagai negara.

Laporan media Barat menyebutkan bahwa ia telah memindahkan miliaran dolar selama bertahun-tahun melalui jaringan orang dalam dan rekanan yang terkait dengan pemerintahan Iran.

Namanya juga dikaitkan dengan Ali Ansari, pemilik Bank Ayandeh yang bangkrut akibat memberikan pinjaman kepada orang dalam dan menimbun utang besar.

Kerugian bank itu, yang harus dikompensasi sebagian dari dana publik, turut mendorong inflasi dan memperburuk ekonomi rakyat Iran .

Isu Kredensial Keagamaan

Salah satu poin yang menjadi perdebatan adalah kredensial keagamaan Mojtaba. Ia hanya berpangkat Hojatoleslam, seorang ulama tingkat menengah, bukan Ayatollah seperti ayahnya.

Namun, preseden serupa pernah terjadi. Ketika ayahnya, Ali Khamenei, menjadi pemimpin tertinggi pada 1989, ia juga bukan seorang Ayatollah, dan undang-undang pun diubah untuk mengakomodasinya. Kompromi serupa kemungkinan akan dilakukan untuk Mojtaba .

Dampak bagi Masa Depan Iran

Kenaikan Mojtaba Khamenei ke posisi puncak kekuasaan merupakan sinyal jelas bahwa faksi garis keras di Iran masih memegang kendali penuh.

Hal ini juga mengindikasikan bahwa pemerintah kecil kemungkinannya untuk menyetujui kesepakatan atau negosiasi dalam waktu dekat, setidaknya selama tekanan militer berlangsung.

Yang lebih penting, suksesi ini secara efektif menciptakan dinasti yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum revolusi Islam 1979—sebuah ironi mengingat revolusi tersebut justru menjatuhkan sistem monarki .

FAQ Seputar Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Q: Siapa Mojtaba Khamenei?
A: Putra kedua Ayatollah Ali Khamenei, seorang ulama garis keras berusia 56 tahun yang memiliki hubungan erat dengan IRGC dan selama ini menjadi figur berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan Iran .

Q: Bagaimana ia bisa ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi?
A: Ia ditunjuk melalui "pemungutan suara yang menentukan" oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan yang berwenang memilih pemimpin tertinggi. Tidak ada pemilu publik yang melibatkan rakyat .

Q: Apakah ia memiliki pengalaman militer?
A: Ya, ia bertugas di Batalyon Habib IRGC selama Perang Iran-Irak di tahun 1980-an, membangun jaringan erat dengan petinggi keamanan .

Q: Apa kontroversi utama yang melekat padanya?
A: Ia dituduh terlibat dalam penumpasan protes, terutama Gerakan Hijau 2009, dan memiliki kerajaan ekonomi serta aset di berbagai negara melalui jaringan orang dalam, meski namanya tidak pernah muncul dalam transaksi resmi .

Q: Bagaimana dampak penunjukannya terhadap konflik dengan AS-Israel?
A: Penunjukan ini mengukuhkan dominasi garis keras dan kemungkinan besar akan membuat Iran semakin sulit diajak bernegosiasi dalam waktu dekat .

Penutup

Di tengah asap perang dan puing-puing kehancuran, Iran memilih jalan yang tak biasa: menempatkan putra kedua pemimpin yang gugur sebagai penerus. Mojtaba Khamenei naik takhta bukan karena pemilu, melainkan karena keputusan segelintir ulama.

Sosoknya yang selama ini misterius kini harus tampil ke permukaan, memimpin negara yang terkepung sanksi dan gempuran musuh. Pertanyaan besar kini menggantung: mampukah ia mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan yang meremukkan? Ataukah ini awal dari keruntuhan dinasti yang baru saja terbentuk? Dunia menanti langkah selanjutnya dari pemimpin baru Iran yang tak pernah didengar suaranya oleh rakyatnya sendiri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.