Fakta-Fakta Mengejutkan di Balik Serangan Maut ke SD Iran: Target Keliru atau Kejahatan Perang?

JATENG.AKURAT.CO, Duka mendalam menyelimuti Kota Minab, Iran selatan, pasca tragedi berdarah yang merenggut nyawa 165 pelajar dan staf pengajar Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Rudal misterius menghantam gedung sekolah tepat saat jam pelajaran baru dimulai, mengubah momen belajar mengajar menjadi neraka yang memorak-porandakan gedung dan merenggut nyawa tak berdosa.
Jumlah korban tewas bahkan disebut mencapai 168 orang, dengan puluhan lainnya luka-luka. Tragedi ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak akibat perang terbuka antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang telah berlangsung selama sepekan.
Namun, siapa dalang di balik pembantaian ini? Berbagai bukti dan analisis terkini justru mengarahkan tuduhan tajam ke arah Washington.
AS Diduga Kuat Bertanggung Jawab
Sejak awal, Pemerintah Iran langsung melontarkan tuduhan bahwa Amerika Serikat dan Israel adalah aktor di balik serangan biadab ini. Namun, Israel dengan cepat membantah. Militer Israel menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya operasi di wilayah tersebut, dan fokus serangan mereka berada ratusan kilometer jauhnya dari SD Minab.
Sementara itu, respons Washington terkesan gamang dan berbelit. Menteri Perang AS Pete Hegseth hanya berkomentar singkat, "Kami sedang menyelidikinya," saat ditanya wartawan, seraya menambahkan bahwa militernya tidak pernah menargetkan situs sipil .
Kegamangan AS ini kontras dengan fakta yang mulai terkuak. Para pejabat tinggi AS, termasuk Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, secara terbuka mempresentasikan peta yang menunjukkan bahwa militer AS gencar melakukan serangan di Iran selatan, tepatnya di sekitar wilayah Minab, pada periode yang sama dengan tragedi sekolah tersebut . Sebaliknya, operasi Israel disebut terkonsentrasi di wilayah utara Iran, jauh dari lokasi kejadian .
Analisis Bukti: Serangan Presisi yang Diduga Kuat dari AS
Penyelidikan internal militer AS, yang dilaporkan oleh The Associated Press, The New York Times, dan The Wall Street Journal, menguatkan dugaan bahwa AS paling mungkin bertanggung jawab . Sejumlah bukti kunci memperkuat kesimpulan ini :
Waktu Serangan Sinkron: Analisis video dan citra satelit yang diverifikasi menunjukkan bahwa ledakan di SD Shajareh Tayyebeh terjadi pada waktu yang sama atau hampir bersamaan dengan serangan rudal AS yang menargetkan Pangkalan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran yang lokasinya hanya sekitar 150-160 meter dari sekolah . Kepulan asap membubung tinggi dari kedua lokasi secara simultan.
Target Presisi: Para ahli munisi yang menelaah citra satelit, seperti NR Jenzen-Jones, menyimpulkan bahwa kerusakan pada pangkalan dan sekolah konsisten dengan serangan rudal berpemandu presisi tinggi yang dijatuhkan dari udara, bukan akibat rudal pertahanan udara Iran yang meleset . Bangunan di pangkalan militer hancur dengan pola khas serangan udara, sementara atap SD berlubang besar bekas hantaman.
Kesalahan Intelijen: Fakta sejarah juga menjadi petunjuk penting. Citra satelit tahun 2013 menunjukkan bahwa lahan sekolah dan pangkalan militer dulunya merupakan satu kompleks yang sama . Namun, pada tahun 2016, sebuah pagar pemisah telah didirikan, dan sekolah memiliki akses terpisah, dengan lapangan bermain yang jelas terlihat pada citra Desember 2025 . Dugaan kuat, terjadi kesalahan identifikasi target di mana database target AS tidak diperbarui, sehingga sekolah yang telah terpisah selama bertahun-tahun masih dianggap sebagai bagian dari fasilitas militer .
Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim kepada AP membenarkan bahwa serangan itu "kemungkinan besar" adalah ulah Amerika. Dua pejabat militer AS anonim lainnya juga menyatakan hal serupa kepada Reuters, meskipun penyelidikan formal belum selesai .
Reaksi Dunia dan Tuntutan Akuntabilitas
Tragedi ini memicu kecaman keras internasional. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyatakan "keprihatinan serius" atas kepatuhan serangan terhadap hukum humaniter internasional . Juru bicara PBB menegaskan, insiden ini tidak boleh dilupakan begitu saja dan harus ada akuntabilitas.
Para ahli hukum perang menegaskan bahwa menyerang sekolah yang jelas-jelas merupakan objek sipil, meskipun berdekatan dengan target militer, adalah pelanggaran serius .
Hingga berita ini diturunkan, Washington belum mengeluarkan pernyataan resmi dan terbuka. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak berkomentar karena kasus masih dalam penyelidikan.
Sementara itu, Iran terus berduka. Nama-nama para korban, yang sebagian besar adalah gadis belia berusia 7 hingga 12 tahun, mulai bertebaran di media, sebuah daftar panjang yang menjadi saksi bisu kegagalan perang melindungi yang tak berdosa .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






