3 Pesawat F-15 Hancur dalam Perang AS vs Iran, Kerugian Amerika Capai 309 Juta Dolar

JATENG.AKURAT.CO, Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran melalui Operasi Epic Fury tidak hanya menelan biaya operasi yang sangat besar, tetapi juga menimbulkan kerugian material bagi militer Amerika Serikat.
Hingga saat ini, kerugian peralatan dan kerusakan infrastruktur yang dialami AS diperkirakan mencapai sekitar 359 juta dolar AS.
Jika dikonversi dengan asumsi kurs 1 dolar AS setara Rp16.000, nilai kerugian tersebut setara dengan sekitar Rp5,74 triliun atau sekitar Rp5.744 miliar.
Perkiraan tersebut dirilis oleh lembaga riset keamanan internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) dalam analisis yang dipublikasikan pada 5 Maret 2026.
Laporan tersebut disusun oleh peneliti pertahanan Mark F. Cancian dan Chris H. Park.
Tiga Pesawat Tempur F-15 Hilang
Kerugian terbesar yang telah diakui sejauh ini adalah hilangnya tiga pesawat tempur F-15 milik Angkatan Udara Amerika Serikat.
Pesawat tersebut jatuh akibat insiden salah tembak (friendly fire) yang terjadi di wilayah udara Kuwait saat operasi militer berlangsung.
Biaya penggantian pesawat tempur F-15EX Eagle II diperkirakan mencapai sekitar 103 juta dolar AS per unit.
Dengan demikian, total biaya penggantian tiga pesawat tersebut mencapai sekitar 309 juta dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp4,94 triliun.
Meski jalur produksi pesawat tersebut masih aktif, proses pengadaan dan produksi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun sebelum pesawat pengganti dapat kembali digunakan dalam operasi militer.
Kerusakan Infrastruktur
Selain kehilangan pesawat tempur, serangan balasan Iran menggunakan rudal dan drone juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur yang digunakan oleh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah rekaman video menunjukkan kerusakan pada fasilitas pelabuhan di Kuwait, termasuk fasilitas dukungan armada Angkatan Laut Amerika Serikat.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada beberapa fasilitas militer di Qatar.
Biaya perbaikan infrastruktur tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50 juta dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp800 miliar.
Jika digabungkan dengan kerugian pesawat tempur, maka total kerugian Amerika Serikat dalam tahap awal konflik ini diperkirakan mencapai sekitar 359 juta dolar AS atau sekitar Rp5,74 triliun.
Kerugian Berpotensi Bertambah
Para analis menilai angka kerugian tersebut kemungkinan masih akan meningkat seiring berlanjutnya konflik.
Estimasi yang ada saat ini baru didasarkan pada beberapa hari pertama perang, yang biasanya merupakan periode paling intens dalam sebuah kampanye udara.
Seiring waktu, operasi militer biasanya akan memasuki tempo yang lebih stabil karena militer harus mengidentifikasi target baru, melakukan evaluasi kerusakan akibat serangan sebelumnya, serta memberikan waktu bagi awak pesawat untuk beristirahat dan melakukan perawatan peralatan.
AS Berpotensi Ajukan Tambahan Anggaran
Besarnya biaya dan kerugian yang muncul membuat Departemen Pertahanan Amerika Serikat kemungkinan harus mencari tambahan pendanaan untuk membiayai konflik tersebut.
Pemerintahan Presiden Donald Trump memiliki beberapa opsi untuk menutup kebutuhan dana perang ini, termasuk mengajukan anggaran tambahan kepada Kongres atau memasukkan pendanaan tersebut dalam rancangan anggaran tahun fiskal berikutnya.
Namun langkah tersebut berpotensi memicu perdebatan politik di dalam negeri Amerika Serikat, karena setiap tambahan pendanaan perang kemungkinan akan menjadi sorotan utama bagi pihak-pihak yang menentang konflik tersebut.
Jika konflik terus berlangsung dan intensitas pertempuran meningkat, kerugian material Amerika Serikat dalam perang melawan Iran diperkirakan dapat terus bertambah dari angka triliunan rupiah yang tercatat pada tahap awal operasi ini.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






