Biaya Perang AS vs Iran Tembus 891 Juta Dolar AS atau Rp15 Triliun per Hari, 100 Jam Pertama Habiskan 3,7 Miliar Dolar

JATENG.AKURAT.CO, Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran melalui Operasi Epic Fury ternyata menelan biaya yang sangat besar.
Dalam 100 jam pertama sejak operasi dimulai, pengeluaran militer Amerika diperkirakan mencapai 3,7 miliar dolar AS, atau sekitar 891 juta dolar AS per hari.
Jika dikonversi menggunakan kurs 1 dolar AS = Rp16.939,90, maka angka tersebut setara dengan sekitar Rp15,09 triliun per hari atau sekitar Rp15.093 miliar atau total sekitar Rp62,68 triliun.
Perkiraan tersebut dirilis oleh lembaga riset keamanan internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) dalam analisis yang dipublikasikan pada 5 Maret 2026. Laporan tersebut disusun oleh peneliti pertahanan Mark F. Cancian dan Chris H. Park.
Menurut analisis tersebut, sebagian besar biaya perang bahkan belum dianggarkan sebelumnya, yakni sekitar 3,5 miliar dolar AS, sehingga pemerintah Amerika Serikat kemungkinan harus mencari tambahan dana untuk membiayai operasi militer tersebut.
Operasi Epic Fury merupakan kampanye militer Amerika terhadap Iran yang dimulai awal Maret 2026.
Ketika operasi memasuki hari keenam pada 5 Maret, Presiden Donald Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengisyaratkan bahwa konflik ini dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Pernyataan tersebut membuat anggota Kongres, media, serta publik Amerika semakin mempertanyakan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk perang tersebut.
Tiga Komponen Utama Biaya Perang
Dalam laporannya, CSIS membagi biaya Operasi Epic Fury menjadi tiga kategori utama, yakni biaya operasi militer, biaya penggantian amunisi, serta biaya kerugian peralatan dan kerusakan infrastruktur.
Komponen pertama adalah biaya operasi militer, yang diperkirakan mencapai sekitar 196 juta dolar AS dalam 100 jam pertama.
Dari jumlah tersebut, sekitar 178 juta dolar AS sebenarnya sudah tercantum dalam anggaran militer Amerika Serikat untuk tahun fiskal 2026, sementara sisanya belum dialokasikan.
Komponen kedua yang menjadi penyumbang biaya terbesar adalah penggantian amunisi, yang diperkirakan mencapai 3,1 miliar dolar AS.
Angka ini muncul karena Amerika Serikat telah menggunakan ribuan amunisi dalam berbagai serangan udara dan laut terhadap target militer Iran.
Sementara itu, komponen ketiga adalah kerugian peralatan militer serta kerusakan infrastruktur, yang diperkirakan mencapai sekitar 350 juta dolar AS.
Operasi Udara Libatkan Lebih dari 200 Pesawat Tempur
Sebagian besar biaya perang berasal dari operasi udara yang melibatkan ratusan pesawat tempur Amerika Serikat.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa lebih dari 200 pesawat tempur dikerahkan dalam operasi militer tersebut.
Komposisi armada udara itu mencakup sekitar 50 pesawat siluman seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor, serta sekitar 110 pesawat non-siluman seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan A-10 Thunderbolt II.
Selain itu, sekitar 80 pesawat tempur berbasis kapal induk juga terlibat, termasuk F/A-18E/F Super Hornet dan varian F-35C.
Operasi udara ini diperkirakan menelan biaya sekitar 125,2 juta dolar AS dalam 100 jam pertama, dan akan terus bertambah sekitar 30 juta dolar AS setiap hari apabila intensitas operasi tetap tinggi.
Armada Laut Dikerahkan di Tiga Wilayah Strategis
Selain kekuatan udara, Amerika Serikat juga mengerahkan armada laut besar untuk mendukung operasi militer tersebut.
Armada ini ditempatkan di sejumlah wilayah strategis di Timur Tengah, termasuk Laut Arab, Teluk Persia, dan Mediterania Timur.
Kekuatan laut Amerika di kawasan tersebut terdiri dari dua kapal induk, 14 kapal perusak (destroyer), serta tiga kapal tempur pesisir atau littoral combat ships.
Kapal-kapal tersebut digunakan untuk meluncurkan serangan rudal jarak jauh, termasuk Tomahawk cruise missile, terhadap berbagai target militer di Iran.
Selain itu, kapal-kapal tersebut juga berfungsi melindungi armada dari serangan rudal balistik dan drone yang diluncurkan Iran.
Operasi armada laut dalam 100 jam pertama diperkirakan menghabiskan sekitar 64,5 juta dolar AS, dengan tambahan biaya sekitar 15 juta dolar AS setiap hari selama operasi berlangsung.
Ribuan Amunisi Digunakan dalam Serangan
CSIS memperkirakan Amerika Serikat telah menggunakan lebih dari 2.000 amunisi berbagai jenis selama 100 jam pertama operasi militer tersebut.
Beberapa jenis amunisi yang digunakan antara lain rudal jarak jauh seperti Tomahawk, serta rudal udara-ke-darat seperti Joint Air-to-Surface Standoff Missile.
Pada fase awal operasi, serangan kemungkinan didominasi oleh rudal jarak jauh yang digunakan untuk menghancurkan sistem pertahanan udara Iran, pusat komando militer, serta berbagai target strategis lainnya.
Namun setelah sistem pertahanan udara Iran mulai melemah, Amerika Serikat mulai beralih menggunakan amunisi yang lebih murah seperti bom berpemandu JDAM atau Joint Direct Attack Munition.
Perbedaan harga kedua jenis senjata ini sangat besar. Sebuah rudal Tomahawk dapat berharga sekitar 3,6 juta dolar AS, sedangkan satu unit bom JDAM hanya sekitar 80 ribu dolar AS.
Peralihan ke amunisi yang lebih murah ini diperkirakan akan membantu menekan biaya perang jika operasi militer berlangsung lebih lama.
Iran Balas dengan Ratusan Rudal dan Ribuan Drone
Di sisi lain, Iran juga meluncurkan serangan balasan besar-besaran.
Laporan tersebut menyebut Iran telah meluncurkan sekitar 500 rudal balistik dan 2.000 drone ke arah wilayah yang menjadi basis operasi Amerika dan sekutunya.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, pasukan Amerika dan sekutunya menggunakan berbagai sistem pertahanan udara seperti Patriot missile system dan THAAD.
Drone Iran yang banyak digunakan dalam serangan tersebut antara lain tipe Shahed-136, yang dikenal sebagai drone kamikaze dengan kemampuan menyerang target secara langsung.
Sejumlah negara sekutu di kawasan juga ikut membantu pertahanan udara. Negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan United Arab Emirates dilaporkan berhasil menembak jatuh ratusan rudal serta drone Iran.
Partisipasi negara-negara sekutu tersebut membantu mengurangi beban pertahanan udara Amerika Serikat serta menghemat persediaan rudal pertahanan milik Washington.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






