Jateng

Dukungan Publik Donald Trump Anjlok, Hanya 25 Persen Warga AS Setuju Serangan ke Iran

Arixc Ardana | 2 Maret 2026, 16:56 WIB
Dukungan Publik Donald Trump Anjlok, Hanya 25 Persen Warga AS Setuju Serangan ke Iran
Tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump pun meningkat, terutama setelah diumumkan kematian pertama tentara AS dalam konflik tersebut

JATENG.AKURAT.CO, Dukungan publik Amerika Serikat terhadap serangan militer ke Iran ternyata jauh dari solid.

Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan hanya seperempat warga AS yang menyetujui operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel, bahkan setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump pun meningkat, terutama setelah diumumkan kematian pertama tentara AS dalam konflik tersebut.

Baca Juga: Deretan Rudal Iran yang Gempur Israel dan Sekutu AS di Teluk, Termasuk Rudal Hipersonik Fatah II

Survei: Publik Tak Sepenuhnya Sejalan dengan Gedung Putih

Survei yang dilakukan oleh Reuters bekerja sama dengan Ipsos digelar pada Sabtu hingga Minggu, hanya beberapa jam setelah operasi militer besar diluncurkan terhadap Iran.

Hasilnya menunjukkan hanya 25 persen responden menyatakan setuju terhadap serangan AS–Israel.

Sebanyak 43 persen menyatakan tidak setuju, sementara 29 persen mengaku belum menentukan sikap.

Temuan ini muncul, bahkan sebelum pemerintahan Trump mengumumkan bahwa tiga personel militer AS tewas dalam eskalasi konflik terbaru tersebut.

Di kalangan Partai Republik, dukungan memang lebih tinggi, tetapi tidak dominan.

Sebanyak 55 persen menyatakan setuju terhadap serangan, 13 persen menolak, dan 32 persen masih ragu.

Yang cukup mencolok, sekitar 42 persen responden Partai Republik mengatakan mereka akan cenderung menarik dukungan jika operasi tersebut menyebabkan tentara AS di Timur Tengah tewas atau terluka.

Di kubu Demokrat, penolakan jauh lebih tegas: 74 persen tidak setuju terhadap serangan, hanya 7 persen yang mendukung, dan 19 persen belum menentukan sikap.

Trump Tegaskan Operasi Akan Berlanjut

Meski dukungan publik terbelah, Trump pada Minggu menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut.

Ia menyebutnya sebagai “misi yang benar” dan berjanji operasi akan berjalan hingga “semua tujuan tercapai”.

Mengacu pada tiga tentara AS yang tewas, Trump menyatakan bahwa kemungkinan akan ada korban tambahan sebelum konflik berakhir.

Setelah kematian Khamenei dalam serangan AS–Israel, Trump kembali menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial bagi Amerika Serikat, dengan menyebut para pemimpinnya telah “menyatakan perang terhadap peradaban itu sendiri”.

Namun, hasil survei menunjukkan bahwa narasi tersebut belum sepenuhnya diterima oleh publik Amerika.

Bayang-Bayang Pemilu Paruh Waktu

Rilis survei ini datang di tengah menguatnya konsolidasi anggota parlemen Partai Republik di belakang Trump.

Namun, langkah militer ini dinilai berisiko secara politik karena bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk mengakhiri “perang tanpa akhir” dan mengedepankan pendekatan “America First”.

Beberapa komentator konservatif bahkan memperingatkan dampak politik yang bisa timbul jika perang berlangsung lama.

Doug Bandow dari Cato Institute menyebut kematian tentara AS sebagai pengingat nyata tentang biaya perang.

“Kematian warga Amerika menunjukkan bahwa ini bukan sekadar permainan video. Ini nyata dan mahal,” ujarnya.

Menjelang pemilu paruh waktu November mendatang, sentimen publik terhadap perang diperkirakan akan menjadi salah satu isu krusial.

Partai Demokrat menjadikan isu keterjangkauan biaya hidup sebagai senjata utama, dan potensi kenaikan harga energi bisa memperparah tekanan terhadap Gedung Putih.

Sebanyak 45 persen responden survei—termasuk 34 persen pemilih Republik dan 44 persen independen—menyatakan mereka akan cenderung tidak mendukung operasi militer jika harga bensin atau minyak di AS meningkat.

Desakan Resolusi Kewenangan Perang
Di Capitol Hill, sejumlah anggota Demokrat mendesak pengesahan resolusi kewenangan perang (war powers resolution) yang mewajibkan persetujuan Kongres sebelum tindakan militer lanjutan dilakukan.

Senator Chris Van Hollen menyampaikan belasungkawa atas tewasnya tentara AS dan menegaskan bahwa konflik ini adalah “perang pilihan”.

“Trump mengatakan ia akan menjauhkan kita dari perang. Ini adalah perang pilihannya,” tulisnya.

Pemungutan suara atas resolusi tersebut diperkirakan berlangsung awal pekan ini.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.