Deretan Rudal Iran Gempur Israel dan Sekutu AS di Teluk, Termasuk Rudal Hipersonik Fatah II

JATENG.AKURAT.CO, Dihantam rudal Israel dan Amerika Serikat, Iran langsung membalas dengan menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Di balik respons cepat tersebut, arsenal rudal Iran menjadi tumpuan utama strategi serangannya.
Serangan balasan itu terjadi setelah operasi gabungan AS–Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran.
Teheran menyebut pembalasan sebagai “hak sah” dan bagian dari upaya mempertahankan kelangsungan Republik Islam.
Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa membalas kematian para pemimpin Iran adalah kewajiban negara.
Lalu, senjata apa saja yang menjadi andalan Iran dalam menggempur Israel dan fasilitas militer terkait AS di kawasan Teluk?
Doktrin Rudal Iran: Tulang Punggung Daya Tangkal
Kekuatan rudal Iran disebut-sebut sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah.
Tanpa angkatan udara modern yang kuat, Teheran mengandalkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone untuk menciptakan daya tangkal sekaligus kemampuan serangan jarak jauh.
Rudal balistik jarak terjauh Iran memiliki jangkauan antara 2.000 hingga 2.500 kilometer.
Dengan jarak tersebut, hampir seluruh wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab berada dalam jangkauan.
Rudal Jarak Pendek: “Pukulan Pertama” yang Cepat
Rudal balistik jarak pendek (150–800 km) dirancang untuk target militer di kawasan sekitar Iran.
Beberapa sistem utama meliputi:
Fateh (termasuk varian Zolfaghar)
Qiam-1
Shahab-1 dan Shahab-2
Keunggulan rudal ini adalah kemampuannya diluncurkan secara salvo atau bertubi-tubi dalam waktu singkat, sehingga mempersempit waktu peringatan bagi lawan dan menyulitkan sistem pertahanan udara mencegat seluruhnya.
Iran pernah menggunakan pola ini pada Januari 2020 saat menyerang Pangkalan Udara Ain al-Assad di Irak setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani.
Serangan itu menunjukkan bahwa Iran mampu menimbulkan kerusakan signifikan tanpa harus menyamai kekuatan udara AS.
Rudal Jarak Menengah: Ancaman Regional Nyata
Jika rudal jarak pendek menjadi alat serangan cepat, maka rudal balistik jarak menengah (1.500–2.000 km) adalah instrumen yang memperluas medan konflik ke tingkat regional.
Sistem yang menopang kemampuan ini antara lain:
Shahab-3
Emad
Ghadr-1
Khorramshahr
Sejjil
Sejjil menjadi sorotan karena menggunakan bahan bakar padat, yang memungkinkan kesiapan peluncuran lebih cepat dibanding rudal berbahan bakar cair.
Dalam situasi perang, kemampuan respons cepat ini menjadi faktor penting.
Dengan rudal ini, Israel dan jaringan pangkalan AS di kawasan Teluk masuk dalam daftar target strategis Iran.
Rudal Jelajah dan Drone: Ancaman Terbang Rendah
Selain rudal balistik, Iran juga memiliki rudal jelajah yang terbang rendah dan mampu mengikuti kontur medan, sehingga lebih sulit dideteksi radar.
Beberapa di antaranya:
Soumar (jangkauan hingga 2.500 km)
Ya-Ali
Quds
Hoveyzeh
Paveh
Ra’ad
Rudal jelajah kerap dipadukan dengan drone dalam satu gelombang serangan.
Drone, meskipun lebih lambat, memiliki keunggulan biaya murah dan dapat diluncurkan dalam jumlah besar untuk menguras sistem pertahanan udara lawan.
Serangan berlapis—rudal balistik, rudal jelajah, dan drone—menciptakan tekanan simultan terhadap bandara, pelabuhan, pangkalan militer, serta infrastruktur energi di Israel maupun negara-negara Teluk sekutu AS.
“Kota Rudal” Bawah Tanah: Strategi Bertahan
Salah satu faktor penting dalam kekuatan Iran bukan hanya jumlah senjata, tetapi kemampuan bertahan setelah diserang.
Iran telah membangun jaringan terowongan bawah tanah dan pangkalan tersembunyi yang dikenal sebagai “kota rudal”.
Fasilitas ini dirancang untuk:
Menyimpan rudal dalam jumlah besar
Melindungi sistem peluncur dari serangan awal
Memastikan kemampuan balasan tetap ada meskipun fasilitas di permukaan dihancurkan
Strategi ini membuat musuh sulit melumpuhkan sepenuhnya kapasitas serangan Iran dalam satu gelombang.
Konflik Berpotensi Berkepanjangan
Gelombang awal serangan dan balasan telah memicu kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi sekadar saling serang terbatas, melainkan bisa berkembang menjadi kampanye militer jangka panjang.
Dengan kombinasi rudal balistik jarak pendek dan menengah, rudal jelajah, drone, serta infrastruktur bawah tanah yang terlindungi, Iran menunjukkan bahwa pembalasannya bukan hanya simbolis, tetapi dirancang untuk memberi tekanan nyata terhadap Israel dan sekutu Amerika di kawasan Teluk.
Kini, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Iran mampu membalas—melainkan seberapa jauh eskalasi ini akan meluas dan berapa lama kawasan akan berada dalam bayang-bayang perang terbuka.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






