Jateng

Perang AS–Israel vs Iran Memanas, 66 Rudal Ditembakkan ke Qatar Sasar Fasilitas Militer Amerika

Arixc Ardana | 1 Maret 2026, 07:25 WIB
Perang AS–Israel vs Iran Memanas, 66 Rudal Ditembakkan ke Qatar Sasar Fasilitas Militer Amerika
Serangan ini diduga menyasar Pangkalan Udara Al Udeid, fasilitas militer strategis yang menjadi markas pasukan Amerika Serikat di kawasan Teluk.

JATENG.AKURAT.CO, Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian meluas ke kawasan Teluk.

Sebanyak 66 rudal dilaporkan ditembakkan ke wilayah Qatar dalam rentetan serangan yang diduga menyasar fasilitas militer Amerika Serikat, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di dekat Doha.

Serangan tersebut memicu kepanikan di ibu kota Doha.

Asap terlihat membumbung di langit setelah sejumlah ledakan terdengar.

Bahkan, dikutip dari Al Jazeera , akibat serangan tersebut siaran media internasional ini sempat terhenti akibat peringatan darurat yang dikeluarkan otoritas setempat.

66 Rudal dan 114 Laporan Pecahan

Pejabat Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan delapan orang mengalami luka-luka akibat pecahan rudal yang jatuh di berbagai lokasi.

Brigadir Abdullah Khalifa Al-Muftah, Kepala Hubungan Masyarakat Kementerian Dalam Negeri Qatar, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu, mengungkapkan bahwa 66 rudal ditembakkan ke Qatar.

Otoritas menerima sedikitnya 114 laporan terkait jatuhnya pecahan rudal di sejumlah titik.

Satu korban dilaporkan dalam kondisi serius.

Kementerian Dalam Negeri segera mengeluarkan peringatan darurat, meminta masyarakat menjauhi lokasi militer dan tetap berada di dalam rumah.

Warga juga diimbau tidak menyentuh benda asing yang mencurigakan serta segera melaporkannya kepada aparat.

Qatar Klaim Seluruh Rudal Dicegat

Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat gelombang kedua serangan yang menargetkan beberapa wilayah.

Pemerintah menegaskan seluruh rudal berhasil dihancurkan sebelum mencapai target strategis.

Meski demikian, jatuhnya pecahan rudal tetap menyebabkan korban luka dan kerusakan di sejumlah lokasi.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam keras serangan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, penargetan wilayah Qatar dengan rudal balistik Iran disebut sebagai tindakan “ceroboh dan tidak bertanggung jawab” serta pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara.

Ibrahim Sultan Al-Hashemi, Kepala Hubungan Masyarakat Kementerian Luar Negeri Qatar, menegaskan bahwa negaranya berhak merespons sesuai hukum internasional.

Qatar juga menyerukan penghentian segera eskalasi dan mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan.

Sasar Pangkalan Militer Amerika

Serangan ini diduga menyasar Pangkalan Udara Al Udeid, fasilitas militer strategis yang menjadi markas pasukan Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Pangkalan tersebut memainkan peran penting dalam operasi militer AS di Timur Tengah.

Ini bukan pertama kalinya Iran mengarahkan serangan ke wilayah Qatar.

Pada Juni 2025, dalam konflik 12 hari antara Iran dan Israel, Teheran juga meluncurkan rudal ke pangkalan yang sama sebagai respons atas serangan Israel.

Eskalasi Meluas ke Kawasan Teluk

Rentetan rudal ke Qatar terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Eskalasi ini memicu kekhawatiran konflik regional yang lebih luas.

Sejumlah negara Teluk dilaporkan turut mengaktifkan sistem pertahanan udara.

Kantor berita internasional melaporkan Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan bahkan Yordania juga melakukan pencegatan terhadap rudal yang melintas di wilayah udara mereka.

Ketegangan ini berdampak langsung pada stabilitas kawasan, terutama negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dan pusat infrastruktur energi global.

Ramadan di Bawah Bayang-Bayang Sirene

Perkembangan terbaru ini meningkatkan kecemasan di kawasan Teluk, terutama karena terjadi di tengah bulan Ramadan.

Aktivitas warga terganggu oleh sirene peringatan serangan udara, pencegatan rudal di langit malam, serta peringatan tentang bahaya pecahan bahan peledak yang belum meledak.

Para pemimpin kawasan kini menyerukan penahanan diri guna mencegah konflik terbuka yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran — sebuah skenario yang berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah dan pasar energi global.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.