Kemenkes Waspadai Ancaman Virus Nipah, Pemkot Semarang Perkuat Sosialisasi Pencegahan

JATENG.AKURAT.CO, Kementerian Kesehatan RI menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia.
Arahan tersebut disampaikan melalui rapat koordinasi daring yang digelar pada Senin, (2/2/2026) dan langsung ditindaklanjuti oleh sejumlah daerah, termasuk Kota Semarang.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan mempercepat langkah antisipasi dengan menggencarkan sosialisasi pencegahan serta penanganan dini apabila ditemukan kasus terduga virus Nipah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan virus zoonosis yang berasal dari keluarga Paramyxoviridae.
Reservoir alaminya adalah kelelawar buah. Pada hewan tersebut, virus dapat hidup tanpa menimbulkan gejala.
“Masalah muncul ketika terjadi interaksi antara kelelawar buah dengan hewan lain, seperti babi atau ternak, lalu menular ke manusia. Sejak 1998, wabah besar pernah terjadi di negara tetangga seperti Malaysia dan India,” ujar Abdul Hakam pada Selasa (3/2/2026).
Ia menambahkan, virus ini menjadi perhatian serius karena tingkat kematiannya tergolong tinggi, yakni sekitar 50 hingga 75 persen pada kasus terkonfirmasi.
Awal Muncul dan Penyebaran
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada akhir 1990-an di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penularan awal terjadi melalui hewan yang terkontaminasi, khususnya ternak yang berinteraksi dengan kelelawar buah.
Dari sana, virus dapat menyebar ke manusia, baik melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, maupun melalui penularan antarmanusia.
Abdul Hakam menyebutkan, pola penyebaran virus ini sangat kompleks karena melibatkan tiga jalur utama, yakni dari hewan ke manusia, dari makanan ke manusia, serta dari manusia ke manusia, terutama melalui cairan tubuh dan saluran pernapasan.
Gejala dan Bahaya Klinis
Gejala awal virus Nipah mirip dengan flu, seperti demam, nyeri otot, lemas, mual, dan muntah. Namun, pada kondisi berat, virus dapat menyerang otak dan menyebabkan radang otak (ensefalitis).
“Pasien bisa mengalami kebingungan, disorientasi, kejang, hingga koma. Pada tahap ini, risikonya sangat tinggi,” jelasnya.
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat simptomatis, seperti pemberian obat demam, anti-kejang, dan terapi suportif lainnya.
Pencegahan Jadi Kunci
Karena belum ada pengobatan spesifik, pencegahan menjadi langkah paling penting. Masyarakat diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker, serta menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi terinfeksi.
Selain itu, warga juga diminta berhati-hati terhadap konsumsi buah-buahan yang tidak utuh atau diduga terkontaminasi gigitan kelelawar, serta menghindari peternakan yang terindikasi menjadi lokasi penularan.
“Kalau bepergian, tetap cuci tangan, pakai masker, dan jaga kebersihan. Virus ini juga menyebar melalui saluran pernapasan,” kata Abdul Hakam.
Belum Ada Kasus di Semarang
Abdul Hakam menegaskan bahwa hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah di Kota Semarang. Meski demikian, langkah antisipasi terus diperkuat melalui puskesmas, rumah sakit, serta jejaring laboratorium.
“Sosialisasi sudah dilakukan ke seluruh fasilitas kesehatan. Hari ini juga saya akan turun ke lapangan, bertemu lintas sektor, dan menyampaikan langsung kewaspadaan terhadap virus Nipah,” pungkasnya.
Pemerintah berharap, dengan kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat, potensi penyebaran virus Nipah dapat dicegah sejak dini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










