Kota yang Kehilangan ‘Tameng Alam’, Akankah Semarang Bakal 'Pesta' Bencana Seperti Sumatra?

JATENG.AKURAT.CO, Dari pesisir Tambaklorok hingga perbukitan Tembalang, Semarang hari ini adalah kota yang pelan-pelan kehilangan pelindung alaminya.
Krisis lingkungan tidak lagi berupa data teknis dalam laporan penelitian, tetapi menjelma menjadi genangan di ruang tamu, rumah yang retak, lahan yang hilang, dan trauma yang menahun.
Laporan di berbagai titik menunjukkan satu pola: penghijauan yang menyusut mangrove yang hilang, hutan bukit yang tergerus dibalas alam dengan banjir, rob, dan longsor.
Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Mei 2025 menjadi bulan yang tidak akan dilupakan banyak warga. Rob datang tiba-tiba, air meninggi hingga melumpuhkan aktivitas.
Beberapa warga terpaksa mendayung perahu kecil hanya untuk menuju warung atau keluar kampung.
Sekitar 200 warga terdampak. Motor, peralatan elektronik, hingga kasur terendam. “Air masuk tiba-tiba saya cuma sempat angkat beberapa barang,” ujar seorang warga, menahan napas mengingat kejadian itu.
Fenomena yang dulunya jarang kini menjadi rutinitas. Di Tambak Lorok, sejumlah keluarga bahkan harus mengumpulkan sekitar Rp100 juta setiap dua tahun sekali bukan untuk membeli tanah atau rumah baru, tetapi menaikkan rumah mereka agar tidak hilang ditelan pasang laut. Pilihan pahit itu sering kali berarti mengorbankan biaya sekolah atau kesehatan.
“Kalau tidak dinaikkan, rumah kami akan tenggelam,” kata seorang nelayan setempat.
Sebelumnya, kawasan pesisir Semarang pernah memiliki hamparan mangrove yang kuat menahan abrasi dan menjadi rumah bagi ekosistem tambak. Kini, data terbaru mencatat mangrove tinggal 169,91 hektar pada 2021, merosot jauh dari luas puluhan–ratusan hektar di masa lalu.
Di sisi lain, laju land subsidence atau penurunan tanah mencapai 7–11 cm per tahun, memperparah banjir rob yang kini menyasar 478 hektar wilayah pesisir pada 2022.
Studi untuk kawasan Semarang–Demak menunjukkan garis besar yang mengkhawatirkan: mangrove menyusut, mikroklimat berubah, banjir rob meluas, abrasi makin parah.
Di daerah aliran sungai DAS Beringin, trauma lama masih mengintai warga. Adennyar Wycaksono (33) mengaku tak bisa melupakan banjir bandang 2010, sepuluh orang tewas, satu jasad hanyut ditemukan dekat rumahnya.
Dua dekade berlalu, ketakutan itu tak pernah pergi. Setiap hujan deras, warga khawatir tanah gundul di bukit akan menyeret rumah atau menutup jalan.
Perumahan Dinar Indah yang dulu dianggap area aman, kini sering diterjang banjir luapan sungai. Alih fungsi lahan dan hilangnya vegetasi penahan air membuat perbukitan Semarang tidak lagi memiliki “rem alami”.
Dalam kisah yang menyayat hati, seorang ibu di Bandarharjo, Siti Minar Halimah, harus menjalani masa kehamilannya di rumah yang berkali-kali diterjang rob. Air asin menggenang hingga ke kamar.
Ia menghadapi risiko kesehatan, stres, dan ketidakpastian bagi calon bayinya. Kondisi itu juga menimpa banyak keluarga lain anak-anak tumbuh dalam lingkungan di mana kebersihan, kesehatan, dan keamanan sulit dipertahankan.
“Anak-anak tidak bisa bermain di lantaI air selalu masuk,” ujar seorang ibu lain.
Sejumlah organisasi telah berupaya memulihkan pesisir, salah satunya gerakan penanaman mangrove yang sejak 2021 menanam lebih dari 183 ribu bibit di Tambakrejo, Trimulyo, dan Mangunharjo.
Namun pekerjaan besar itu dikejar laju pembangunan. Proyek Tol Semarang–Demak tercatat menghilangkan 46 hektar habitat mangrove tameng yang awalnya melindungi pesisir dari abrasi.
Jika tren ini tak berubah, para peneliti mengingatkan bahwa benteng alami Semarang bisa benar-benar hilang.
Di Tambak Lorok, pembangunan tanggul laut sepanjang 3,6 km disebut sebagai harapan utama. Namun warga masih ragu apakah infrastruktur itu cukup menghadapi kombinasi rob, abrasi, dan penurunan tanah.
“Kami butuh tanggul, tapi juga butuh pohon,” kata seorang tokoh warga.
Harapan itu berpadu dengan permintaan lebih besar pada pelibatan warga dalam restorasi mangrove dan penghijauan perbukitan.
Cerita-cerita ini menyatukan satu kesimpulan: krisis Semarang adalah krisis manusia, bukan hanya krisis ekologis.
Rumah yang dulu aman kini berubah jadi ruang darurat. Pekerjaan hilang karena tambak rusak. Anak-anak tumbuh dalam genangan. Ibu hamil bertarung dengan air asin. Warga bukit hidup dengan ketakutan setiap hujan datang.
Perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan hilangnya vegetasi telah mengubah wajah kota. Namun suara dari warga pesisir dan lereng menegaskan, Semarang belum menyerah.
Mereka meminta tameng alaminya dikembalikan, sebelum banjir dan longsor benar-benar menenggelamkan masa depan mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










